Rayakan 53 Tahun Kemerdekaan, Perdana Menteri Malaysia Kobarkan Patriotisme

KUALA LUMPUR: Malaysia memperingati hari Kemerdekaannya hari ini, Selasa (31/8), dengan mengajak seluruh rakyatnya, laki-laki dan perempuan, untuk mengerahkan kemampuan dalam memberi kontribusi pada kesejahteraan bangsanya.

Seruan itu disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Malaysia,  Datuk Seri Najib Tun Razak, saat menghadiri peringatan HUT kemerdekaan Malaysia ke-53, di di arena indoor Stadion Putra di Bukit Jalil, Selasa (31/8).

Perdana menteri menambahkan, bahwa sudah saatya memanfaatkan bakat dan kemampuan dalam negerinya untuk mencapai kemajuan.

“Ini akan menjadi sebuah kerugian besar bagi Negara jika bakat, yang telah dengan susah payah kita pelihara dan kembangkan, harus bermigras mencari padang rumput yang lebih hijau di luar sana hanya karena kegagalan kita menyediakan kondisi yang kondusif bagi mereka untuk berkontribusi,” ujar Perdana Menteri Najib.

Selain dihadiri oleh para siswa, pegawai Negara, dan anak-anak yang melambaikan bendera nasional, perayaan ini juga diramaikan dengan peragaan dari pasukan Angkatan Bersenjata, termasuk unit anti-terorisme dan pasukan komando khusus untuk penyelamatan sandera.

Dia mengatakan, masyarakat seharusnya tidak membiarkan cara hidup Malaysia, yang didasarkan pada keragaman dan moderasi, akan dirusak oleh sikap ekstrim yang diwujudkan melalui isu-isu ras dan agama.

“Kita seharusnya, karena itu, menanamkan nilai perdamaian, harmoni dan stabilitas di negara ini,” katanya.

Dia juga mengatakan bahwa saatnya telah tiba bagi generasi sekarang untuk mengambil kepemimpinan dan mendorong negara itu untuk tingkat yang lebih tinggi lagi.

Najib juga mengingatkan sukses yang dicapai negaranya, dari negara berbasiskan pertanian dan pendapatan rendah menjadi negara industri berpendapatan menengah, yang dicapai berkat komitmen, perencanaan, dan kesabaran diantara pemerintah dan rakyatnya, dengan memegang teguh filosofi perubahan dan kurva transformasi.

Pidato Perdana Menteri Hanya Retorika

Namun, berbeda dengan pesan kemerdekaan PM Najib Tun Razak, Partai Sosialis Malaysia (PSM), salah satu partai progressif yang berakar pada kelas pekerja dan kaum miskin di negeri itu, mengatakan bahwa sebagian besar rakyat Malaysia saat ini sedang menderita akibat serangan kebijakan neoliberal.

Koordinator Biro Internasional Partai Sosialis Malaysia (PSM), Choo Chon Kai, menjelaskan kepada Berdikari Online, bahwa pidato PM Najib Tun Razak tidak lebih dari sebuah retorika belaka tanpa ada substansi.

Chon Kai mencontohkan, pemerintah Malaysia menjalankan kebijakan penghapusan subsidi untuk orang miskin, namun malah mensubsidi kaum kaya, menyebabkan kesenjangan ekonomi paling parah dalam sejarah negeri ini.

Terkait kemajuan ekonomi yang disinggung dalam pidato PM Najib, Chon Kai menjelaskan, Perdana Menteri terus berbicara tentang pertumbuhan, tetapi masalah sebenarnya adalah distribusi kekayaaan.

Akibatnya, tegas Chon Kai, terjadi kesenjangan pendapatan yang sangat tinggi di Malaysia dikarenakanan tidak ada distribusi kekayaan yang merata.

Selain itu, menurut Chon Kai, Perdana Menteri tidak menjelaskan bagaimana Malaysia membangun ekonominya dengan mengeksploitasi buruh migran.

Pemerintah Malaysia mengumumkan bahwa tingkat kemiskinan di daerah perkotaan hanya 2%. Tatapi angka itu dianggap menyesatkan, karena pemerintah menetapkan garis kemiskinan terlalu rendah.

Sebuah studi terbaru dari Kementerian Sumber Daya Manusia Malaysia menunjukkan bahwa 37% pekerja di negeri ini hidup di bawah garis kemiskinan dengan 720 RM. (Rh & Ulfa)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Bambang Budiono

    MalingnyaAsia Memang Benar2 Bangsa Yang Sombong… Dengan congkaknya pemuda2 mereka ber-demo didepan KBRI dengan membawa pamflet yg mempertanyakan Budi Bahasa dan mengaku bangsa serumpun,, tapi dengan congkaknya pula blogger2 disana Menghina, Mencaci, dan Merendahkan Bangsa Indonesia di dunia maya…

    http://ihateindon2.blogspot.com/

    Padahal jika menguak kilas balik sejarah, kemerdekaan yang telah mereka capai dahulu itu juga atas Dukungan dan Dorongan Bangsa Indonesia didalam diplomasi di-PBB…
    Jika demikian, siapa sebenarnya yg LAYAK/ PATUT mempertanyakan tentang Budi Bahasa??? Dan pantaskah jika memang selaku bangsa serumpun itu sering melakukan tindakan2 provokasi di wilayah2 perbatasan antar negara,, serta seringkali meng-claim/ mencuri kekayaan budaya negara tetangganya???

    Hmmmm… mereka benar2 sebuah bangsa yang ‘tidak tahu budi’ dan Pantas Disebut sebagai sebuah bangsa yang congkak.

    “Kacang Lupa Kulitnya”… agaknya peribahasa itu pantas disandang oleh bangsa ‘MalingnyaAsia’…

  • Agung Dgreat

    Dia mengatakan, masyarakat seharusnya tidak membiarkan cara hidup Malaysia, yang didasarkan pada keragaman dan moderasi, akan dirusak oleh sikap ekstrim yang diwujudkan melalui isu-isu ras dan agama.

    “Ini akan menjadi sebuah kerugian besar bagi Negara jika bakat, yang telah dengan susah payah kita pelihara dan kembangkan, harus bermigras mencari padang rumput yang lebih hijau di luar sana hanya karena kegagalan kita menyediakan kondisi yang kondusif bagi mereka untuk berkontribusi,”

    inilah yang harus di lakukan oleh indonesia

  • trisno

    ya namanya MALINGsia, ya seperti itu sikap, perilaku dan tindakan seekor MALINGsia. kalo ekor2 MALINGsia tu jadi bener perilakunya, mungkin malah kiamat.