Ratusan Ribu Mahasiswa Kolombia Melawan Privatisasi Pendidikan

Amerika latin kembali menjadi pusat kebangkitan gerakan mahasiswa. Selain gerakan mahasiswa di Chile yang sudah bergerak sejak Mei lalu, sebuah gerakan mahasiswa dengan mobilisasi besar juga terjadi di Kolombia.

Tetapi, entah mengapa, perjuangan mahasiswa Kolombia jarang terlaporkan oleh media-media internasional. Padahal gerakan mahasiswa Kolombia membawa pesan yang sama dengan gerakan mahasiswa di Chile maupun Inggris.

Kamis (10/11) siang, ratusan ribu mahasiswa dan rakyat Kolombia menyesaki jalan-jalan kota  di ibukota Kolombia, Bogota. Mereka meliputi mahasiswa, professor, masyarakat adat, serikat pekerja, dan rakyat biasa.

Tuntutan mereka adalah menentang rencana Presiden Kolombia saat ini, Juan Manuel Santos, mengamandemen pasal 30 konstitusi. Sebab, amandemen terhadap ketentuan itu akan membuka pintu bagi privatisasi pendidikan.

Bahkan, mirip dengan perkembangan gerakan di Chile, gerakan protes ini telah berkembang pada tuntutan pendidikan gratis untuk seluruh rakyat. “Yang pertama hendak dipastikan bahwa pendidikan di Kolombia adalah hak rakyat. Sehingga harus gratis dan didanai oleh negara,” kata Jairo Rivera, salah satu pimpinan Biro Mahasiswa Nasional Luas (MANE).

MANE adalah sebuah koalisi lebar yang mengikat berbagai organisasi mahasiswa dan sektor rakyat yang setuju dengan pendidikan gratis untuk rakyat. Mereka menentang upaya Presiden Manuel Santos untuk memprivatisasi pendidikan.

Pemogokan nasional sendiri sudah berlangsung sejak 12 oktober lalu. Sedikitnya 30 Universitas di Kolombia terlibat penuh dalam pemogokan. Bahkan, koalisi MANE berencana akan memogokkan total kota Bogota jika pemerintah tidak menghentikan privatisasi secara permanen.

Untuk menghentikan gerakan perlawanan ini, pihak kepolisian dan pemerintah mengisukan bahwa gerilyawan Marxist FARC telah menyusup di tengah-tengah gerakan mahasiswa. Tetapi provokasi murahan itu tidak menghentikan mobilisasi besar mahasiswa.

Lalu, beberapa hari yang lalu, Presiden Santos akhirnya memutuskan untuk menunda rencananya mengamandemen pasal 30 UUD. Ia bahkan meminta menteri pendidikan untuk membuka dialog dengan mahasiswa.

Tetapi, meskipun nanti mahasiswa akan bersedia berdialog, tetapi penundaan amandemen itu tidak akan menghentikan mobilisasi. “Mahasiswa Kolombia tidak akan menghentikan pemogokan sampai ada penghentian permanen terhadap amandemen pasal 30,” tulis seorang pemimpin mahasiswa, seperti dikutip majalah partai komunis Kolombia, Voz (Suara Rakyat).

Gerakan mahasiswa Kolombia juga memandang bahwa isu privatisasi pendidikan adalah agenda global, dan karenanya, perlawanannya pun harus berskala global. Asosiasi mahasiswa Kolombia telah mengirimkan surat solidaritas terhadap federasi mahasiswa di Chile dan koalisi mahasiswa di Inggris.

“Kami mahasiswa kolombia bersimpati dengan perjuangan anda. Kami di sini juga mengembangkan perjuangan yang sama. Kami tidak akan berhenti, meskipun akan berhadapan dengan represi, sebab perjuangan kami adalah pendidikan gratis dan berkualitas,” tulis Asosiasi Mahasiswa Kolombia dalam surat solidaritasnya siang tadi.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut