Seratusan Petani Ogan Ilir Aksi Jalan Kaki Ke Jakarta

Seratusan petani Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, menggelar aksi jalan kaki atau long march menuju Jakarta. Para petani yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pasal 33 UUD 1945 (GNP-33 UUD 1945) ini memulai aksinya hari Minggu (10/11/2013) sore.

Proses pemberangkatan petani ini dimulai sekitar pukul 15.00 WIB di depan kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ogan Ilir. Prosesi pelepasan para petani ini diisi dengan mimbar bebas dan orasi politik dari berbagai organisasi rakyat yang mendukung perjuangan petani.

Sekitar pukul 16.30 WIB, para petani pun memulai melangkahkan kakinya menuju Ibukota Republik Indonesia, Jakarta. Suasana haru pun mewarnai pemberangkatan para pejuang agraria ini. Tak hanya itu, sekitar 50-an warga dari desa Tanjung Laut dan desa Seri Bandung turut mengantar perjalanan petani hingga Simpang Muara Meranjat.

Di perjalanan, aksi long march petani Ogan Ilir ini mendapat sambutan luas dari warga di pinggir jalan. Seperti di desa Sakatiga, Indralaya, warga setempat memberikan makanan ringan kepada para petani peserta aksi long-march. Hal serupa juga dilakukan warga desa Lubuk Sakti ketika massa petani melintas di desa tersebut.

Tuntutan Petani

Menurut Eka Subakti, SE, yang juga juru bicara GNP 33 UUD 1945 Sumsel sekaligus koordinator aksi jalan kaki ini, para petani yang melakukan aksi jalan kaki ini mewakili aspirasi dari 6000 kepala keluarga dari 22 desa di Kabupaten Ogan Ilir yang menjadi korban dari konflik agraria.

“Sebagian besar petani ini berkonflik dengan PTPN VII unit Cinta Manis. Konfliknya sendiri sudah berlangsung sejak tahun 1980-an, ketika penguasa kala itu memberikan hak penguasaan tanah seluas 20.000 ha kepada PTPN VII unit Cinta Manis,” ujar Eka Subakti.

Menurut Eka, dalam perjalanan konflik agraria tersebut, berbagai praktek kekerasan oleh negara sudah berulangkali terjadi. Kasus kekerasan terbaru adalah kebrutalan aparat kepolisian terhadap warga desa Limbang Jaya, yang menyebabkan seorang anak berusia 12 tahun bernama Angga tewas.

Lebih lanjut Eka menjelaskan, aksi jalan kaki menuju Jakarta ini akan menuntut hak petani atas tanah seluas 13.000 ha yang saat ini masih dikuasai oleh PTPN VII Cinta Manis.

Selain itu, para petani juga akan mendesak pihak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut dugaan korupsi yang melibatkan PTPN VII unit Cinta Manis. Tak hanya itu, para petani mendesak agar Menteri BUMN Dahlan Iskan segera dicopot dari jabatannya karena membiarkan perusahaan perkebunan negara merampas hak-hak kaum tani.

Dalam tuntutannya para petani juga mendesak agar pemerintahan SBY segera menyelesaikan berbagai konflik agraria di Indonesia, termasuk di Kabupaten Ogan Ilir, dengan mengacu pada pasal 33 UUD 1945 dan UU Pokok Agraria (UUPA) tahun 1960.

Beristirahat Tengah Malam

Rombongan petani peserta aksi jalan kaki baru beristirahat sekitar pukul 03.00 WIB dini hari di Kota Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Senin (11/11/2013).

Hingga tadi malam, kondisi para peserta jalan kaki masih sehat, termasuk lima ibu-ibu yang turut bergabung di dalam aksi ini. Rencananya, pada pukul 13.00 WIB, para petani akan melakukan pemeriksaan kesehatan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten OKI.

Menurut rencana, para petani kembali akan melanjutkan aksinya pada pukul 15.00 WIB sore nanti. Saat ini, menurut Eka Subakti, para petani sudah menempuh perjalanan sejauh kira-kira 35 kilometer.

Adapun organisasi yang tergabung dalam GNP-33 UUD 1945 Sumsel, yakni: Gerakan Petani Penesak Bersatu (GPPB), Partai Rakyat Demokratik (PRD), PB Frabam Sumsel, Serikat Tani Nasional (STN), Barisan Muda PAN, dan Korwil Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sumbagsel.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • yusweri

    sebaiknya sisitem pertanahan di indonesia dapat di selesai dengan tanpa mengerbonkan masyarakat banyak tetapi sekali lagi kalau kita terus mengingkuti sistem pertanahan yang ada di indonesia sama sekali penuh dengan syarat dengan konflik kerna banyak kepentingan politik,kelompok dan personal kerna pertanahan merupakan tingkat ekonomis yang sangat tinggi sehingga lebih rentan muncul sebuah sistimatik mafi-mafia tanah, saya kira tidak bisa diselesaikan kalau kepala BPN itu sendiri masih dalam lingkaran setan apalagi diwilaya Ogan Ilir