Ratusan Petani Lampung Tengah Tuntut Penyelesaian Konflik Agraria

Ratusan petani dari tiga desa di Lampung Tengah, yaitu Sendang Ayu, Surabaya, dan Padang Ratu, menggelar aksi massa di kantor Gubernur Lampung, Selasa (17/4/2012). Mereka  menuntut pengembalian tanah mereka yang dikuasai oleh PT. Sahang selama puluhan tahun.

Para petani, yang bernaung di bawah panji-panji Partai Rakyat Demokratik (PRD), memulai aksinya dengan berbaris dari lokasi aksi pendudukan di kantor BPN Lampung menuju kantor Gubernur.

“Kami menuntut Gubernur Sjahroedin ZP membuktikan keberpihakannya kepada rakyat, khususnya petani. Segera bentuk panitia redistribusi tanah sekarang juga dan kembalikan tanah milik rakyat,” ujar Hamid Tohari, salah seorang petani yang juga menjabat Ketua KPK PRD Lampung Tengah.

Aksi massa PRD ini cukup kreatif. Selain membawa poster dan bendera, massa aksi juga membuat sejumlah lukisan dan karikatur. Salah satu lukisan kreatif itu menggambarkan seorang berkopiah, dengan tulisan BPN di kopiahnya, menerima sekantong uang dari orang yang digambarkan pengusaha PT. Sahang.

Setelah berjalan kaki cukup panjang, massa aksi tiba di kantor Gubernur. Mereka langsung dihadang oleh ratusan anggota Satpol PP. Massa aksi pun berhadap-hadapan dengan barikade Satpol PP.

Beberapa saat kemudian, Gusti Kadek Artawan, sekretaris PRD Lampung Barat, menyampaikan orasi politik. Ia mendesak Gubernur Lampung segera menyelesaikan semua konflik agraria yang terjadi di Lampung.

“Konflik agraria sudah menumpuk di Lampung. Sudah seharusnya Gubernur turun langsung menyelesaikan berbagai persoalan agraria itu. Termasuk persoalan rakyat Lampung Tengah dengan PT. Sahang,” kata Kadek.

Menjelang siang hari, sekitar pukul 11.00 WIB, delapan orang perwakilan petani bertemu dengan pihak pejabat Pemerintah Provinsi Lampung. Pertemuan itu berlangsung kira-kira 40 menit.

Ahmad Muslim, salah seorang delegasi petani, menjelaskan, pertemuan singkat itu menghasilkan dua kesepakatan. Pertama, besok pagi, sekitar pukul 09.00 WIB, akan dilangsungkan rapat pembentukan panitia redistribusi tanah eks HGU PT. Sahang untuk rakyat di tiga desa di Lampung Barat.

Kedua, Sekretarian Pemrov Lampung akan bersurat ke BPN Lampung, BPN Lampung Tengah, dan Pemkab Lampung Tengah untuk memastikan penyelesaian konflik agraria ini.

Mendapat jawaban ini, para petani pun tak henti-hentinya berteriak “Hidup Rakyat” dan “Rakyat Bersatu Tak Bisa Dikalahkan”. Terkait dengan agenda pertemuan besok, para petani pun berencana kembali menggelar aksi.

“Kita akan datang lagi besok. Kita mau memastikan berjalannya rapat itu dan hasilnya,” ungkap Ahmad Muslimin.

Usai menggelar aksinya di kantor Gubernur, ratusan petani ini kembali berbaris menuju tenda-tenda pendudukan di depan kantor BPN Lampung. Para petani akan melanjutkan aksinya menginap di tenda-tenda pendudukan.

Sementara itu, aksi mogok makan petani juga masih berlangsung. Sampai hari ke-9 mogok makan, setidaknya masih ada 10 petani yang bertahan. Namun kondisi mereka sudah sangat merosot akibat tidak pernah menyentuh makanan.

Para petani yang melakukan mogok makan ini pantang berhenti sebelum tuntutan mereka tercapai. Aksi mogok makan sendiri digelar sejak 9 April 2012 lalu. Sedangkan aksi pendudukan sudah berlangsung hampir sebulan penuh.

SADDAM CAHYO

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut