Ratusan Aktivis Di Palu Serukan “Ganti Rezim, Ganti Sistem”

Sedikitnya 200 aktivis dari Front Penyelamat Kedaulatan Rakyat (FPKR) menggelar aksi massa di kantor DPRD Sulteng, Selasa (20/12). Mereka menyatakan penolakan terhadap berbagai agenda neoliberal rejim SBY-Budiono.

Dengan spanduk “Ganti Rejim, Ganti Sistem”, ratusan aktivis ini memulai aksinya dari Taman Gor Palu dan kemudian bergerak menuju kantor DPRD Sulteng. Di sepanjang jalan yang dilalui, perwakilan massa menggelar orasi-orasi politik dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan.

Dalam siaran persnya, FPKR membeberkan sejumlah agenda neoliberal di bawah pemerintahan SBY-Budiono. “Indonesia tunduk pada sejumlah agenda perdagangan bebas. Diantaranya: ACFTA, FTA, EPA, dan lain-lain,” ujar seorang orator.

Agenda neoliberal lainnya yang disorot oleh para aktivis adalah pengesahan UU pengadaan tanah untuk pembangunan. Melalui UU ini, kata Suaeb M.Akyar, orator dari Partai Rakyat Demokratik, pihak imperialis akan gampang mengusai tanah-tanah milik rakyat.

Lebih jauh, Suaeb Akyar juga menyoroti makin hilangnya kedaulatan negara terhadap sumber daya dan kekayaan alam nasional. Ia mencontohkan makin menguatnya dominasi asing terhadap sumber daya alam dan layanan publik.

Akibatnya, kata Suaeb Akyar, Indonesia pun menjadi negara pengimpor berbagai kebutuhan hidup. “Bahkan Indonesia telah menjadi pengimpor garam terbesar di dunia. Padahal, kita punya garis pantai terpanjang nomor dua di dunia,” ujarnya.

FPKR juga menyoroti makin derasnya liberalisasi ekonomi hingga ke tingkat lokal. Di Sulawesi Tenggara, misalnya, sudah ada 333 Ijin Usaha Pertambangan (IUP) yang diserahkan kepada sejumlah perusahaan asing.

FPKR menganggap rejim SBY-Budiono makin menjauh dari cita-cita nasional bangsa Indonesia. Rejim SBY-Budiono juga telah melanggar cita-cita pembebasan manusia Indonesia dari segala bentuk eksploitasi.

Karena itu, sebagai seruan politiknya, FPKR pun menyerukan “Ganti Rejim, Ganti Sistem”. FPKR menganggap hanya perubahan sistim-lah yang bisa menyelamatkan bangsa Indonesia dari kehancuran.

FPKR sendiri merupakan gabungan dari berbagai organisasi politik dan sosial, diantaranya: BEM Fisip Untad, MPA Kumtapala, HMI MPO, LMND,IPPMD, P3MM, P3MTTM, PERMAHI, PRD, SRMI, FNPBI, SNTP, JATAM Sulteng, PBHR, YPR, KPKPST, dan SP Palu.

RUDI ASTIKA

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Untuk mau mengganti sistem nasional skarang yang neoliberal maka kaum revolusioner harus bersatu dari sabang sampai merauke untuk SEGERA menumbangkan rejim SBY-Budiono dan mengganti sistem yang neoliberal ini. salam perjuangan buat teman2 di palu.