Ratusan Aktivis dan Simpatisan Tandatangani Petisi Mengecam Represi di Thailand

Hingga berita ini ditulis, sekitar pukul 10.00 WIB, Selasa (22/6) setidaknya 316 nama yang terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari aktivis, wartawan, akademisi, hingga buruh dan ibu-rumah-tangga, mengecam represi yang masih berlanjut di Thailand dengan menandatangani petisi yang disebarluaskan di internet sejak hari Minggu (20/6).

“Penyerangan terhadap kaum oposisi di Thailand dan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan rejim itu belum direspon dan dikutuk oleh solidaritas internasional dengan semestinya,” demikian pengantar petisi yang ditulis oleh wartawan Danielle Sabai dan aktivis Pierre Rouset. “Rejim itu dengan demikian dapat beroperasi secara leluasa dan mencekik gerakan demokrasi.”

Sejak penyerbuan berdarah aparat militer Thailand yang bersenjata lengkap terhadap aksi Kaus Merah di pusat kota Bangkok pada 19 Mei lalu, setidaknya 89 orang tewas, dan 2000 luka-luka.

Setelah aksi itu dinetralisir, pemerintah Thailand semakin meningkatkan represinya dengan melakukan penangkapan dan menyensor media alternatif. “Ratusan orang ditahan karena melanggar keadaan darurat, termasuk anak-anak; mereka yang terluka dibelenggu di tempat-tempat tidur rumah sakit; terjadi beberapa pembunuhan terhadap pimpinan lokal Kaus Merah.”

“Negeri itu semakin berubah menjadi rejim otoriter dan militer,” demikian tulisnya. “Kaum elit bahkan mempertimbangkan penundaan pemilu selama enam tahun, sehingga memberikan Perdana Menteri Abhisit kesempatan memimpin selama sepuluh tahun meskipun ditentang oleh kehendak mayoritas warga thai.”

Mereka menjelaskan bahwa gerakan Kaus Merah memiliki persoalan dan perpecahannya sendiri. “Beberapa mendukung kembalinya mantan PM Thaksin Shinawatra, seorang politikus korup. Tapi lebih dari itu, gerakan tersebut mengekspresikan perlawanan masyarakat tertindas yang menuntut demokrasi dan keadilan sosial.”

Ditegaskan juga bahwa pihak yang bertanggung jawab terhadap kekerasan yang terjadi bukanlah Kaus Merah, karena demonstrasinya di pusat kota hanyalah “suatu pelaksanaan hak dasar: hak menyatakan pendapat dan tuntutan politik.”

Adalah Abhisit Vejjajiva yang bersalah atas jatuhnya korban karena sejak awal tidak berniat melakukan negosiasi yang serius melainkan berharap agar gerakan demonstrasi berdesintegrasi dengan sendirinya. Ketika ini tak terjadi “ia menggunakan segudang tuntutan hukum (tuduhan konspirasi melawan monarki dan terorisme) dan akhirnya mengorganisir pertumpahan darah.”

Thailand menerapkan hukum lese-majeste yang melarang tiap penghinaan terhadap raja dengan hukuman 3 hingga 15 tahun penjara. Sementara tuduhan terlibat aksi terorisme dapat diganjar hukuman mati.

“Seruan ini memiliki dua tujuan sederhana: memulai kembali solidaritas di tingkat internasional, dan menyerukan rejim Thai untuk menghentikan represi terhadap Kaus Merah, serta menghargai kebebasan mendasar.”

Selain itu pemerintah Thailand secara khusus dituntut untuk mencabut Keadaan Darurat dan “membebaskan semua tahanan sekarang juga.”

Petisi yang dibuat dalam bahasa Inggris itu bisa diakses di http://www.europe-solidaire.org/spip.php?article17803 dan untuk menandatanganinya bisa langsung dengan mengirimkan email ke [email protected]

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut