Rakyat Portugal Melawan Dengan Lagu Dan Mural

Portugal terus terjerembab dalam krisis. Rezim yang berkuasa, Partai Sosial Demokrat (PSD) dan Kristen Demokrat (CDS), terus-menerus menghamba pada dikte Troika (Uni Eropa, Bank Sentral Eropa, dan IMF).

Pengangguran melonjak dari 11% menjadi 16,9%. Seperempat penduduknya—dari total 10,6 juta penduduk—hidup dalam kemiskinan. Sebanyak 27% pemuda negeri ini memilih bermigrasi ke negara lain, seperti Jerman, Inggris, Brazil, Mozambik, dan Angola.

Rakyat Portugal berhadapan dengan mimpi buruk: pengangguran, pencabutan uang pensiun, kenaikan pajak, pemotongan upah, dan lain. Perdana Menteri Portugal Pedro Passos Coelho sangat kekeuh menjalankan kebijakan penghematan sesuai dikte Troika.

Perlawanan pun berkobar di mana-mana. Hari Sabtu (2/3) lalu, setengah juta rakyat Portugal turun ke jalan untuk memprotes penghematan. Mereka meneriakkan “Buang Troika, Kami Ingin Hidup Kembali”.

Yang menarik dari berbagai aksi rakyat Portugal akhir-akhir ini, mereka menyanyikan lagu “Grandola, Vila Morena”. Lagu ini adalah lagu rakyat Portugal, yang diciptakan oleh aktivis kiri bernama Zeca Afonso.

Lagu ini sangat populer tahun 1974, yakni saat rakyat Portugal berjuang mengakhiri kediktatoran rezim Marcelo Caetano, yang mewarisi dua diktator sebelumnya: Oliveira Salazar dan Jenderal Manuel Gomes da Costa. Tiga diktator inilah yang memerintah Portugal dari 1924 hingga 1974.

Lagu ini sangat populer dan sering dinyanyikan oleh rakyat. Liriknya sederhana dan mudah diingat. Direkam oleh Zeca Afonso pada tahun 1971, kemudian diperdengarkan melalui Radio Perlawanan. Akhirnya, pada tahun 1974, sebuah revolusi berhasil menumbangkan kediktatoran. Sejarah mencatat itu sebagai “Revolusi Bunga”.

Baru-baru ada kejadian penting. Pada saat perdana Menteri Portugal sedang berpidato di parlemen, sekelompok aktivis menyanyikan lagu itu. Malahan, sebagian anggota parlemen turut mendengarkan lagu rakyat itu. Alhasil, pidato perdana Menteri pun terhenti. Aksi itu dipimpin oleh seorang musisi Portugal, Carlos Mendes.

“Itu merupakan aksi yang dilakukan untuk memaksa mereka mendengarkan suara kami,” kata Carlos Mendes.

Mendes mengatakan, dalam lirik lagu itu tidak ada lirik penghinaan, sehingga tak ada alasan untuk menghentikannya. Bahkan, orang-orang turut bernyanyi layaknya paduan suara. Namun, konteks historis lagu itu memberi pesan kuat untuk melawan kediktatoran.

Alhasil, setelah kejadian di gedung parlemen itu, demonstran yang lain juga mengikutinya. Akhirnya, dalam berbagai aksi massa maupun debat-debat parlemen, demonstran akan selalu menyanyikan lagu itu.

Selain itu, seiring dengan meluasnya pesan untuk bangkit melawan, tembok-tembok di kota Lisbon dipenuhi dengan mural. Mural-mural itu membawa pesan-pesan perlawanan dan ajakan untuk mengubah keadaan.

Para pemuda menjadi aktor penting gerakan ini. Mereka secara terorganisir membuat mural di tembok-tembok dan dinding-dinding. Salah satunya ada di Marquês da Fronteira Avenue, salah satu jalan utama di kota Lisbon, dimana para pemuda mengorganisir festival mural.

Mural itu sebagian besar bercerita tentang krisis dan penderitaan rakyat. Banyak juga berisi kritikan terhadap rezim neoliberal Pedro Passos Coelho. Selebihnya berisi pesan dan ajakan aksi massa besar-besaran. Rata-rata mural itu bisa sepanjang 13 meter. Sehingga gampang dilihat dan ditangkap pesan yang hendak diungkapkannya.

Gerakan lain yang juga muncul dalam beberapa minggu terakhir adalah adanya surat tagihan pajak dengan nomor identifikasi pajak atas nama Pedro Passos Coelho, Perdana Menteri Portugal saat ini. Ribuan surat tagihan atas nama pejabat membanjiri kantor pajak. Gerakan ini diorganisir lewat jejaring sosial Facebook.

Di bawah rezim neoliberal, rakyat Portugal seperti dipaksa berjalan di dalam terowongan gelap tanpa ujung. Mereka tidak melihat seberkas cahaya pun di depan mata mereka. Hanya satu pilihan bagi rakyat Portugal: keluar dari terowongan gelap dan mencari terowongan terang. Dan alternatif itu selalu ada di depan kita sepanjang diperjuangkan.

Raymond Samuel 

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut