Tolak Pembangunan Bendungan, Warga Kolhua Gelar Rapat Akbar

Ilustrasi

Ratusan warga kelurahan Kolhua, Kupang, Nusa Tenggara Timur, menggelar rapat akbar untuk menegaskan penolakan terhadap rencana pemerintah setempat membangun bendungan di atas lahan dan pemukiman warga.

Acara yang berlangsung pada hari Sabtu (8/6) itu mengambil tempat di halaman posko Front Rakyat Tolak Rencana Pembangunan Kolhua. Hadir dalam acara ini aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD), Serikat Tani Kolhua, Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Satgas Tani, dan Kemah.

Rapat akbar dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya secara khidmat. Setelah itu, perwakilan dari tokoh masyarakat, pemuda, perempuan, tokoh adat, dan aktivis menyampaikan pidato politik secara bergantian.

Maksi Buifena, yang mewakili tokoh masyarakat, mengungkapkan hasil pertemuan dengan sejumlah pihak di Jakarta, seperti Komnas HAM, Komisi V DPR-RI, dan Kementerian Pekerjaan Umum. “Pada intinya, kita akan tetap melawan,” katanya.

Sementara Agus Saijuna, yang mewakili tokoh adat, menegaskan arti penting tanah sebagai sumber kehidupan masyarakat. Menurutnya, sekalipun pemerintah pusat sudah menggelontorkan anggaran untuk proyek pembangunan bendungan, tetapi masyarakat akan tetap melakukan penolakan.

“Ini adalah lahan pertanian dan juga tanah ulayat, yang telah menjadi tempat masyarakat menggantungkan hidup,” tegasnya.

Rapat akbar ini juga menghadirkan perairan dan bendungan, Suster Susilowati. Menurutnya, jika Pemkot Kupang mau bekerjasama soal ketersediaan air bersih, pihaknya siap melakukan riset mengenai pengadaan air baku.

Sementara itu, perwakilan dari Front Rakyat Tolak Bendungan Kolhua, James Faot, menegaskan bahwa penolakan warga Kolhua terhadap proyek bendungan didasarkan pada kesimpulan bahwa masih banyak alternatif sumber-sumber air di kota Kupang yang bisa dimanfaatkan untuk pasokan air bersih.

“Jadi, tanpa memaksakan menggusur dan merampas lahan milik warga Kolhua, Pemkot sebetulnya masih punya pilihan untuk mencari alternatif sumber air lain,” katanya.

James Faot juga mengajak warga Kolhua tetap memperkuat organisasi dan solidaritas sebagai syarat mutlak untuk memenangkan cita-cita perjuangan.

Antonius J. Afeanpah

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut