Rakyat Eropa Turun Ke Jalan Untuk Perjuangkan Pengungsi

eropa

Rakyat Eropa menunjukkan solidaritasnya untuk para pengungsi yang datang dari negara-negara yang sedang dikoyak oleh perang, seperti Suriah, Libya, dan Afghanistan.

Hari Sabtu (12/9), puluhan ribu orang turun ke jalan di sejumlah kota besar di Eropa. Mereka menuntut pemerintah negara masing-masing untuk membuka pintu bagi ratusan ribu pengungsi dari Suriah dan negara-negara berkonflik lainnya.

Di Kopenhagen, Denmark, lebih dari 30.000 demonstran berkumpul di luar gedung parlemen. Mereka meneriakkan seruan bersama: “Mari ucapkan dengan lantang dan jelas: di sini para pengungsi diterima!”

Pemerintah Denmark sendiri mengklaim sudah menerima pengungsi dengan jumlah yang adil. Namun, pihaknya menolak proposal Uni Eropa untuk menampung 160.000 pengungsi lainnya.

Di London, Inggris, puluhan ribu orang juga menggelar aksi serupa. Mereka memulai aksinya di Park Lane, lalu menuju ke Downing Street 10, tempat kediaman resmi Perdana Menteri Inggris, dan berakhir di Parliament Square.

Hampir 90.000 orang menyatakan akan bergabung dalam seruan aksi di media online. Tetapi polisi mengklaim jumlah mereka berkisar 50.000-an orang.

Sejumlah politisi dan aktivis berpidato dalam aksi ini. Termasuk Jeremy Corbyn, yang baru saja memegang tampuk pimpinan Partai Buruh (Labour Party) Inggris.

Politisi lainnya adalah Tim Farron dari Liberal Demokrat dan Natalie Bennett dari Partai Hijau. Musisi cum aktivis Billy Bragg juga tampil dengan lagu Red Flag. Juga tampil perwakilan dari  Refugee Council, Amnesty International, Syria Solidarity Movement, Stand Up to Racism, dan Stop the War Coalition.

Dalam pidatonya Corbyn bilang, “mengakui kewajiban anda yang anda mesti lakukan menurut hukum adalah baik. Tapi di atas semuanya, buka hati, pikiran, dan sikapmu untuk mendukung orang-orang yang putus asa, yang perlu tempat aman untuk hidup, yang ingin berkontribusi terhadap masyarakat kita, dan manusia seperti kita semua.”

Politisi berhaluan kiri berusia 66 tahun ini kemudian berteriak: “bersama dalam perdamian, bersama dan keadilan, bersama dan kemanusiaan, harus menjadi jalan ke depan kami.”

Demonstrasi besar juga berlangsung di Stockholm, Swedia, yang melibatkan ribuan orang. Demonstrasi lainnya berlangsung di Paris, Lisabon, Jenewa, dan kota-kota besar Eropa lainnya.

Pemerintah Inggris sendiri berjanji akan menampung 20.000 pengungsi untuk lima tahun. Sedangkan Swedia sudah menampung 80.000 pengungsi tahun lalu dan berencana menampung jumlah yang sama tahun ini. Sementara Jerman mengklaim sudah menampung 40.000 pengungsi.

Di sisi lain, demonstrasi menentang kehadiran pengungsi justru berlangsung di Eropa Timur, seperti Polandia, Ceko, dan Slowakia. Aksi anti-pengungsi terbesar terjadi di Warsawa, Polandia, yang melibatkan 5000-an orang. Sedangkan di Ceko hanya berjumlah ratusan orang. Mereka meneriakkan slogan anti-Islam.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut