Rakyat Brazil Turun Ke Jalan Menentang Kudeta

Ratusan ribu rakyat Brazil turun ke jalan untuk menentang upaya penggulingan Presiden Dilma Roussef, Kamis (31/3). Aksi tersebut bertepatan dengan peringatan 52 tahun kudeta militer terhadap pemerintahan progressif  João Goulart.

Aksi massa ini melibatkan gerakan sosial, serikat buruh, serikat petani, mahasiswa, dan pendukung Partai Buruh. Organiser aksi memperkirakan jumlah massa yang terlibat mencapai 750.000 orang di 75 kota di Brazil. Sedangkan polisi menaksir jumlah massa 154.000 orang.

Massa membentangkan spanduk Não vai ter golpe (tidak akan ada kudeta). Mereka juga membawa poster bergambar mantan Presiden Lula Da Silva dan Presiden sekarang Dilma Roussef.

Di kota Brasilia, aksi protes yang melibatkan ratusan ribu orang dipimpin langsung oleh Lula Da Silva. Sebelumnya, melalui akun faceboknya, tokoh pendiri Partai Buruh ini mengeluarkan seruan turun ke jalan untuk membela demokrasi.

(Baca juga: Upaya ‘Merusak’ Politik Lula)

“Pemakzulan tanpa bukti kejahatan itu apa? Itu adalah kudeta,” kata Presiden Dilma Roussef, Rabu (27/3), mengecam upaya kudeta terhadap dirinya yang sudah di depan mata.

Serikat Buruh terbesar di Brazil, Central Única dos Trabalhadores (CUT), menyatakan tidak akan mentolerir upaya kudeta terhadap Presiden Dilma.

“Kami tidak akan mengakui pemerintahan interim yang akan dipimpin oleh Michael Temer,” kata Presiden CUT Sao Puolo, Douglas Izzo.

Bagi Douglas, kalau Dilma sampai lengser, lalu digantikan oleh pemerintahan sayap kanan hasil koalisi Partai Gerakan Demokratik Brazil (PDMB) dan Partai Sosial Demokrat Brasil (PSDB), maka kelas pekerja akan terkena dampaknya.

“Ini akan menjadi sesuatu yang buruk bagi buruh. Ini akan berdampak buruk pada hak-hak buruh dan program sosial,” kata Douglas.

Memang, hari-hari kedepan adalah hari yang makin sulit bagi Presiden Dilma. Proses pemakzulan yang didorong lewan parlemen semakin menguat setelah Partai Gerakan Demokratik Brazil (PDMB), mitra koalisi partai Buruh (PT), meninggalkan koalisi dan menyeberang ke oposisi.

Dengan begitu, Dilma tinggal dibela oleh PT. Di Kongres, koalisi partai kanan bisa unggul hingga 60-70 persen. Artinya, peluang melengserkan Dilma makin terbuka.

PDMB sendiri partai kanan oportunis. Kendati berkoalisi dengan PT sejak Lula terpilih sebagai Presiden di tahun 2003, tetapi partai ini tidak segan meninggalkan koalisi ketika pemerintahan PT berada dalam krisis.

PDMB sendiri punya ambisi sendiri. Kalau Presiden Dilma jatuh, maka otomatis jabatan Presiden sementara akan dipegang oleh Wakil Presiden yang notabene orang PDMB, yaitu Michael Temer.

Banyak yang khawatir, kalau Temer dan PDMB berkuasa, dengan dukungan PSDB dan partai-partai kanan lainnya, maka haluan ekonomi dan politik Brazil akan bergeser ke kanan. Kebijakan yang progressif di era Partai Buruh, seperti program sosialnya, akan diganti dengan kebijakan neoliberal.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut