Rakyat Brazil Akan Memilih Presiden Baru

Rakyat Brazil akan menentukan siapa presiden baru pengganti Lula Da Silva melalui pemilu putara kedua hari ini.

Kotak suara akan menentukan apakah pemerintahan kiri masih diberi kesempatan untuk melanjutkan program sosial dan demokrasi, ataukah akan berganti arah kepada sayap kanan sosial demokrat.

Namun sebagian besar jajak pendapat mengunggulkan kandidat partai buruh (PT), Dilma Rousseff, sekaligus mengalahkan rivalnya dari sayap kanan, Jose Serra dari partai Sosial Demokrasi Brazil (PSDB)

Jika Dilma Roussef yang didukung Lula bisa menang, maka dia akan menjadi perempuan pertama yang menjadi Presiden di Brazil, dan sekaligus menambah daftar panjang Presiden perempuan di Amerika latin.

Kelanjutan Atau Berhenti

Selama kampanye putaran kedua, Lula Da Silva sangat aktif turun berkampanye untuk memenangkan Dilma Rousseff.

Lula, yang bekas buruh pabrik, dianggap sebagai presiden paling populer dalam sejarah Brazil. Lembaga survey Datafolho menyebutkan bahwa 80% rakyat Brazil merasa puas dengan pemerintahannya.

Hal itu, seperti diakui media dan pengamat politik, sangat berkontribusi untuk mengangkat nama Dilma Rousseff.

Dilma Roussef sendiri, pada masa mudanya ikut serta dalam perlawanan bersenjata, yang dikenal sebagai Colina (singkatan untuk Komando Pembebasan Nasional) dan VAR-Palmares (Pasukan Bersenjata Revolusioner Vanguard), untuk melawan rejim militeristik.

Ia dipenjarakan, disiksa dan menghabiskan tiga tahun dalam penjara pada awal 1970.

Pada akhir tahun pemerintahan militer, Rousseff berjuang untuk amnesti bagi warga yang kehilangan hak-hak sipil mereka dianiaya oleh pemerintah,  dan berpartisipasi dalam Yayasan dari Partai Buruh Demokratis (PDT) di wilayah selatan Brasil.

Dilma yang menamainya koalisinya “For Brazil to Keep Changing” berjanji untuk memperkuat demokrasi politik, ekonomi, dan politik. Mendorong pertumbuhan dengan menciptakan lebih banyak pekerjaan dan menaikkan pendapatan.

Dia juga menjanjikan sebuah pembangunan makro ekonomi yang tidak terganggu oleh kerentanan dari luar dan ketidakadilan regional, dan pelestarian lingkungan dengan pembangunan berkelanjutan.

Sebagaimana telah dilakukan pendahulunya, Lula Da Silva, Dilma juga menjanjikan program pembangunan nasional untuk mentransformasikan kekuatan produktif di dalam negeri dan mengurangi kemiskinan.

Dan, salah satu janjinya yang paling penting adalah mempertahankan kedaulatan nasional negerinya dari kekuatan raksasa global.

Meski begitu, salah satu ancaman bagi perjalanan Dilma menjadi presiden adalah pendukung Marina Silva, kandidat dari partai Hijau. Jumlah suara Marina Silva yang berjumlah 20 juta orang akan berpengaruh secara signifikan terhadap imbangan kekuatan.

Kepada siapa Marina Silva memberikan dukungan, maka sudah dipastikan dia akan mencapai kemenangan. Marina Silva menyatakan tidak memberikan dukungan kepada kandidat manapun, meskipun tidak melarang pemilihnya untuk memberikan suara kepada salah satu kandidat.

Kandidat sayap kanan, Jose Serra, adalah mantan menteri kesehatan pada pemerintahan Fernando Henrique Cardoso, Presiden Brazil yang sangat aktif menerapkan kebijakan neoliberal.

Semasa menjadi mahasiswa, dia adalah seorang aktivis anti kediktatoran militer dan memimpin Serikat Mahasiswa Nasional (UNE).

Ketika gerakan mengalami represi, Serra meninggalkan Brazil dan melarikan diri ke Perancis dan mengambil studi ilmu ekonomi di sana.

Setelah demokrasi dipulihkan di Brazil, Ia pun kembali ke negeri samba tersebut dan dikenal sebagai seorang doktor di bidang ekonomi. Sejak itu, dia mulai aktif kembali dalam kehidupan politik di Brazil hingga sekarang.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut