Putin Bantah Mau Satukan Bekas Uni Soviet

Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin menolak berbagai tudingan bahwa Rusia punya ambisi untuk menyatukan kembali negara-negara bekas Uni Soviet.

Dalam sebuah wawancara di stasiun Televisi Rusia, Putin menegaskan bahwa dirinya tidak pernah berbicara soal integrasi secara politik, apalagi membangkitkan kembali Uni Soviet. “Rusia tidak tertarik untuk hari ini,” katanya.

Mantan pejabat KGB—agen intelijen Uni Soviet- ini mengaku tidak mau mengambil resiko terlalu berlebihan karena berbagai alasan.

Bantahan Putin ini disampaikan menyusul munculnya berbagai pendapat dari para ahli dan komentar politik di barat, bahwa Rusia punya “ambisi imperialis” untuk menyatukan negara-negara di halaman belakangnya.

“Silahkan anda urus masalah anda sendiri. Silahkan anda atasi inflasi yang tinggi, krisis hutang, dan mungkin obesitas,” kata Putin menyindir para ahli politik barat itu.

Pada tahun 2008 lalu, muncul konflik antara Rusia dan Georgia. Saat itu, rusia mengirimkan militernya ke  Ossetia Selatan sebagai respon atas serangan militer Georgia untuk merebut provinsi otonom tersebut.

AS dan negara-negara barat pun segera bereaksi atas kejadian itu dan menganggap Rusia sudah melakukan agresi untuk memperluas wilayah.

Sementara itu, mimpi untuk mengembalikan kejayaan Uni Soviet masih tersimpan di kalangan kaum komunis Rusia dan negara-negara bekas Soviet.

Dalam sebuah pertemuan besar di tahun 2007, Partai Komunis Rusia dan Partai Komunis dari negara-negara bekas Soviet, seperti Belarus, Ukraina, Armenia, dan lain-lain, bersepakat untuk memprkuat kerjasama dan mengelaborasi strategi untuk menyatukan kembali negara-negara bekas Uni Soviet.

“Kami menjadikan restorasi bekas Uni Soviet sebagai tujuan kunci kami,” ujar Gennady Zyuganov, Sekjend Partai Komunis Rusia.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut