Pussy Riot, Band Punk Feminis Pejuang Kebebasan

Tanggal 21 Februari 2012, empat orang perempuan membuat geger seantero Rusia. Mereka membuat pertunjukan di sebuah gereja ortodoks di Moskow. Di atas altar gereja mereka bernyanyi: “Virgin Mary, Become Feminist / Virgin Mary, Hash Putin Away!”

Pertunjukan ini diberi nama “Doa Punk”. Namun, belum sampai semenit, petugas keamanan gereja sudah berhasil menghalau mereka keluar. Akan tetapi, pada hari yang sama, video mereka berjudul “Doa Punk” muncul di Youtube.

Pihak gereja ortodoks Rusia pun bereaksi. Pussy Riot, nama grup band para perempuan itu, dituding telah melakukan “Hooliganisme” dan memicu kebencian agama. Sejumlah aktivis Kristen Ortodoks mempublikasikan nama-nama mereka di internet.

Pada tanggal 3 Maret 2012, dua anggota band, yaitu Maria Alyokhina (aktivis lingkungan) dan Nadezhda Tolokonnikova (seorang aktivis sipil), ditangkap dan dipenjara di Moskow. Lalu, pada 15 Maret 2012, Yekaterina Samutsevich, anggota band yang semula hanya menjadi saksi, juga ditangkap dan dipenjara.

Proses persidangan mereka berlangsung cukup lama. Seiring dengan proses itu, dukungan untuk Pussy Riot mengalir dari berbagai belahan dunia. Namun, tak sedikit pula yang melancarkan kecaman terhadap mereka.

Akhirnya, pada 17 Agutus 2012, ketiganya divonis dua tahun penjara.

Pejuang Kebebasan

Pussy Riot dibentuk bulan Oktober 2011. Saat itu, Vladimir Putin menyatakan keinginannya, untuk kesekian kalinya, menjadi Presiden. Rusia pun segera dilanda protes besar-besaran. Bulan Desember 2012, Rusia dilanda protes terbesar pasca bubarnya Uni Soviet.

Kelompok ini sengaja dibentuk untuk kebebasan demokratis Rusia. Bagi Pussy Riot, kehidupan politik Rusia telah kehilangan kebebasan politiknya. Vladimir Putin, yang sudah berkali-kali menjadi Presiden, dianggap simbol kediktatoran.

Pussy Riot beraksi dalam situasi itu. Grup band punk ini sebetulnya beranggotakan 10 orang pemain dan 15 anggota yang bertugas untuk pengambilan gambar dan mengedit video. Pertunjukan mereka terbilang unik: menggunakan kostum berwarna cerah, celana ketat, dan mengenakan balaclavas (kain penutup kepala).

Kelompok ini sering membuat aksi jalanan. Mereka menamai aksinya itu sebagai aksi “gerilya”. Suatu hari, Pussy Riot tampil dalam konser dadakan di lapangan Merah. Di sana mereka mengeritik Putin habis-habisan. Akhirnya, mereka pun ditahan beberapa saat.

Nadezhda Tolokonnikova, salah satu anggota Pussy Riot, bersikeras menganggap aksi mereka di gereja itu sebagai aksi politik. “Kami hanya menggunakan gereja sebagai lokasi untuk pertunjukan dan menyampaikan pesan-pesan perlawanan kami terhadap sistem,” kata Tolokonnikova.

Tolokonnikova bilang, Pussy Riot tidak pernah menentang agama, melainkan sebuah sistem politik. Justru, kata dia, ideologi Putin lah yang berusaha menebar kebencian agama terhadap mereka. “Motivasi kami adalah murni politik,” katanya.

Namun, meski demikian, pengadilan tetap menuding itu pelecehan agama. Rezim berkuasa, yang didukung oleh media massa, juga berhasil memperkuat opini tersebut. Alhasil, Pussy Riot pun tersudutkan. Sebanyak 50% publik Rusia menilai pengadilan terhadap tiga anggota Pussy Riot itu sudah adil.

Pada tahun 2008, Nadezhda Tolokonnikova dan sejumlah aktivis lainnya juga sempat membuat kehebohan. Mereka melalukan “pesta seks” di museum Moskow sebagai bentuk ejekan atas keinginan Kremlin mendorong kelahiran.

Bagi Tolokonnikova, perjuangannya bersama kawan-kawannya adalah untuk kebebasan, termasuk kebebasan perempuan Rusia. Selama berabad-abad perempuan Rusia hanya digambarkan sebagai penjaga perapian. Ironisnya, kata dia, budaya kolot itu justru dilestarikan oleh gereja ortodoks Rusia.

Ia melihat kesamaan antara ideologi Putin dan gereja, yaitu sama-sama menolak barat, termasuk feminisme. Tolokonnikova sendiri mendefenisikan ideologinya sebagai kebebasan. Ia juga menempatkan dirinya sebagai bagian dari gerakan anti-kapitalisme global, yang menggabungkan anarkis, Trotskyis, feminis, dan otonomis. “Kami anti-kapitalis, tapi tidak anti-barat,” tegasnya.

Namun demikian, tak sedikit yang mencibir Pussy Riot. Bagi sebagian rakyat Rusia, Pussy Riot bagian dari konspirasi global untuk menjatuhkan Putin. Maklum, negara-negara kapitalis barat dirugikan oleh gaya berpolitik Putin saat ini. Rusia merupakan penentang agresi imperialis di Libya dan sekarang ini di Syria.

Rusia, di bawah Vladimir Putin, juga punya hubungan baik dengan Tiongkok, negara-negara Amerika Latin, dan Afrika. Dalam politik global, Rusia merupakan gangguan bagi proyek kapitalisme global yang berporos di barat.

Perjuangan Berlanjut

Meskipun masih meringkuk dalam penjara, Tolokonnikova dan kawan-kawannya mengaku tidak akan menyerah. Bahkan, menurut pengakuannya, ia rajin membaca buku-buku karya filsuf marxis Slovenia, Slavoj Žižek. Ia pun mengutip kata-kata Žižek: “Kurangnya kebebasan bergerak tidak membatasi kebebasan berfikir.”

Tolokonnikova menganggap kekuasaan Putin hanyalah ilusi. Baginya, kekuasan tersebut sangatlah rapuh, namun selalu dilebih-lebihkan oleh propaganda. “Persidangan terhadap diri kami,” kata Tolokonnikova, “mengungkapkan karakter represif rezim. Sistem Putin akan runtuh karena tidak cocok dengan abad 21.”

Dukungan terhadap Pussy Riot pun mengalir. Sejumlah musisi dunia memberikan dukungan langsung, seperti Madonna, Red Hot Chili Peppers, Yoko Ono, Sting, Paul McCartney, dan Bjork.

Dalam sebuah pembelaannya, Nadezhda Tolokonnikova, yang mewakili kawan-kawannya, mengatakan: “Kami sedang mencari keaslian otentik dan kesederhanaan. Dan kami menemukan itu pada pertunjukan punk kami. Gairah, keterbukaan, dan kenaifan adalah lebih superior kemunafikan, kelicikan, dan kesopanan yang dibuat-buat untuk menutupi kejahatan. Para pemimpin berdiri dengan ekspresi suci gereja, tetapi dosa-dosa mereka lebih besar dari kita.”

Dan, Pussy Riot sangat yakin musik punk-nya akan membangunkan rakyat Rusia yang sedang tertidur…

Rudi Hartono 

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut