Puskapol UI: Kemacetan Dan Banjir Masalah Pokok Jakarta

Hasil survei Pusat Kajian Politik (Puskapol) Fisip UI mengungkap berbagai persoalan pokok yang dihadapi rakyat Jakarta. Dari 12 daftar masalah yang dimunculkan, sebagian besar responden menganggap kemacetan dan banjir sebagai masalah utama.

Sebanyak 25.02% responden menganggap masalah pokok Jakarta adalah kemacetan. Sedangkan 21.67% respon menyebut banjir sebagai masalah pokok. Isu-isu kesejahteraan, seperti kemiskinan, sembako mahal, dan harga BBM, hanya dianggap masalah utama oleh 6.73% responden.

Masalah lain yang dimunculkan dalam survei itu: lingkungan (sampah, air, polusi), keamanan (curanmor, perkosaan, premanisme), tata ruang kota, ketenakerjaan (upah, lapangan kerja), kesehatan, transportasi publik, birokrasi (pelayanan), pendidikan, dan kependudukan.

Selain itu, hasil survei Puskapol UI juga mengungkapkan, sebanyak 53.77% responden menganggap kemacetan sebagai masalah prioritas yang perlu diselesaikan. Sedangkan 19.13% responden menyuarakan soal banjir sebagai masalah prioritas.

Dengan gambaran di atas, peneliti dari Puskapol UI, Sri Budi Eko Wardani, menegaskan bahwa soal kepemimpinan menjadi faktor strategis dalam membenahi persoalan yang mendera rakyat Jakarta.

“Persaingan merebut posisi pemimpin Jakarta seharusnya diposisikan sebagai persaingan ide atau gagasan dan platform program untuk mengatasi deretan masalah itu,” katanya.

Survei Puskapol UI juga berusaha mengungkap berbagai solusi versi warga Jakarta. Untuk mengatasi soal kemacetan, survei mengungkapkan bahwa 26.8% responden mengusulkan pembatasan kendaraan.

Usulan lainnya: perbaikan dan penambahan transportasi umum (17%), pembangunan sarana jalan (15%), dan pengaturan lalu lintas (11%).

Untuk mengatasi soal banjir, warga mengusulkan pengaturan dan penataan lingkungan (21.8%), pembersihan kali/sungai (21.1%), dan pengelolaan sampah (13.4%).

Populasi dalam survei ini adalah pemilik telepon (fixed line) yang terdaftar pada white pages Telkom.  Survei menggunakan teknik wawancara melalui telepon dengan instrumen berupa kuesioner. Jumlah sampel adalah 742 responden. Dengan populasi pemilik telepon DKI Jakarta berjumlah 1.293.840 maka margin of error (MoE) adalah +/- 3,6 %.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut