“Puisi Harus Menggerakkan”

Bagi seorang penyair, keberhasilan menemukan kata-kata yang tepat, baru, dan tidak klise untuk memaknai dunia di sekitarnya merupakan kebahagiaan tak ternilai.

“Itu seperti Archimedes ketika menemukan sesuatu yang dianggap penting, dia sampai luka kalau masih telanjang, berlari dan berteriak eureka,” kata pengurus Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat, Antun Joko Susmana, dalam peluncuran buku puisi berjudul “Empat Puluh Lima” karya Roso Suroso, Rabu (28/3/2018).

Buku Seri Puisi Saku Roso Suroso, Empat Puluh Lima, yang diterbitkan oleh Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat, tahun 2018.

Karena kebahagiaan itulah, lanjut AJ Susmana, keinginan orang untuk terus menuliskan berbagai pengalaman hidup atau keadaan sekitar melalui puisi tidak pernah berhenti.

Selain itu, kata dia, puisi juga seperti mantra atau doa, yang punya kekuatan magis untuk menggerakkan. Kekuatan magis itu terletak pada kata-kata yang kuat.

“Dari catatan Marco Polo diceritakan seorang tukang sepatu bermata satu di Bahdag, yang mampu memerintahkan gunung untuk bergerak karena doa,” tuturnya.

AJ Susmana melanjutkan, dalam sejarah Indonesia ada banyak bukti bagaimana kata-kata menjadi slogan dan semboyan yang menggerakkan.

Dia merujuk pada slogan “sama rata, sama rasa” yang diciptakan oleh Mas Marcokartodikromo, semboyan “merdeka atau mati” di masa perjuangan nasional, dan “hanya satu kata: lawan” dalam karya penyair Wiji Thukul.

“Semua itu membuktikan bahwa kata-kata bukan hanya menggerakkan, tetapi juga memberanikan orang-orang untuk bangkit berjuang,” jelasnya.

Sementara itu, Roso Suroso menjelaskan bahwa kumpulan puisinya yang berjudul “Empat Puluh Lima” merupakan upaya memaknai perjalanan hidupnya.

“Saya berharap puisi ini memberi warna bagi kesusastraan Indonesia sekaligus memberi inspirasi bagi kawan-kawan yang terus bergerak,” ujarnya dalam sambutan launching buku puisinya tersebut.

Roso Suroso adalah penyair-cum-aktivis yang lahir di Jakarta, pada 15 Maret 1973. Di masa mudanya, dia menjadi bagian dari pergerakan mahasiswa yang menentang kediktatoran rezim Orde Baru.

Karena aktivitasnya itu, pada Agustus 1996 dia ditangkap oleh satuan intel BIA (Badan Intelijen ABRI) atas tuduhan dalang kerusuhan 27 Juli 1996 dan dijatuhi vonis penjara 7 tahun.

Setelah Orde Baru tumbang, Roso banyak bergiat di Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker). Di organisasi yang pernah dipimpin oleh penyair Wiji Thukul ini, Roso diberi mandat sebagai Sekretaris Jenderal hingga sekarang.

Buku puisi “Empat Puluh Lima” karya Roso Suroso berisi 45 puisi terseleksi yang ditulisnya dalam rentang waktu antara 1996 hingga 2018. Dari 45 puisi itu, ada dua puisi yang ditulisnya saat masih di penjara Orde Baru, yakni “Kepada Cinta I” dan “Kepada Cinta 5”.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut