Protes Besar Melawan Kehadiran Neo-Fasis Di Parlemen Swedia

STOCKHOLM: Ratusan ribu orang berkumpul di sebuah lapangan pusat kota Stockhlom, senin malam (20/9) memprotes kehadiran partai kanan neo-fasis, Swedish Democratic Party (SD), di parlemen setelah pemilu Swedia minggu kemarin (19/9).

Massa meneriakan “No To Racism” berkali-kali. Beberapa pemuda lainnya mengenakan kaos hitam bertuliskan “im muslim, don’t panic”. Sebuah spanduk besar bertuliskan “9,043,222 orang Swedia tidak memilih Partai Demokrat Swedia kemarin” dipajang oleh massa.

Menurut laporan media setempat, aksi ini berawal dari aksi spontan segelintir pemuda yang kecewa dengan kehadiran “partai kanan rasis” di parlemen. Aksi dilakukan di depan gedung-gedung kota.

Namun, menjelang malam hari, demonstrasi kecil ini berubah menjadi demonstrasi sangat besar, menyatukan berbagai kelompok masyarakat di berbagai pusat kota. Mereka menyerukan kecaman keras terhadap partai kanan jauh tersebut.

“Ini sangat penting untuk menunjukkan bahwa mayoritas Rakyat Swedia menolak partai ekstremis sayap kanan seperti Demokrat Swedia,” ujar seorang peserta, Per Branevig, saat berbicara kepada kantor berita AFP.

Berawal Dari Facebook dan SMS

Menurut seorang wartawan VLT, Mats Adolfsson, aksi ini berawal dari inisiatif seorang remaja berusia 17 tahun, asal Stockhlom, melalui pesan jejaring sosial, Facebook. Selain jejaring facebook, pesan SMS juga turut memobilisasi banyak orang.

Menurut Johan Sommansson, pengamat politik di Swedia, media jejaring sosial, seperti facebook, menjadi alat penting dalam mobilisasi massa di negeri ini.

Dia mencontohkan kesuksesan lain mobilisasi lewat jejaring sosial ini, ketika kapal Free Gaza Flotilla diserang pasukan Israel, sedikitnya 12.000 orang turun ke jalan di Stockhlom hanya 12 jam setelah seruan melalui facebook.

Potensi Pergeseran Imbangan Kekuatan

Imbangan kekuatan saat ini menunjukkan, bahwa meskipun partai kanan –tengah berhasil memenangkan pemilihan pada hari minggu kemarin, tetapi mereka terkendala oleh situasi minoritas di parlemen.

Sebelumnya, PM Reinfeldt menyatakan bahwa pihaknya akan berusaha mendekati Partai Hijau untuk memperkuat kekuatannya di parlemen, dan punya kesempatan untuk membentuk pemerintahan koalisi hingga 4 Oktober.

Namun juru bicara Partai Hijau, Maria Wetterstrand, telah menegaskan bahwa blok oposisi (Blok merah-hijau—yang memenangkan 157 kursi dari 349 kursi di parlemen—tetap bersatu.

Ada kemungkinan, bahwa ketika gagal merayu “partai Hijau”, aliansi partai kanan tengah—yang dipimpin oleh PM Reinfeldt—akan mendekati partai rasialis, Partai Demokrat Swedia (SD).

Beberapa hari sebelum pemilihan, politisi terkemuka dari partai kanan lainnya telah melontarkan pernyataan yang mempersamakan SD dan Partai Kiri. Menteri Kehakiman, Beactrice, menyatakan pada malam pemilihannya, bahwa Swedia mempunya dua partai ekstrimis di parlemen, yaitu SD dan Partai Kiri (left Party).

Hal ini, menurut Johan Sommansson, merupakan taktik sayap kanan untuk mencari legitimasi membentuk pemerintahan sayap kanan bersama Partai Demokrat (SD). “Mereka mencoba menyusun logika menyesatkan, bahwa jika Partai Sosial Demokrat bisa membangun kerjasama dengan partai kiri (left party), maka mereka juga berhak menjalin kerjasama dengan SD,” ujar Sommansson.

Ketua Partai Kiri Swedia (Vansterpartiet), Lars Ohly, telah menyerukan untuk memperkuat perjuangan ekstra-parlemen dalam melawan kebijakan sayap kanan reaksioner.

Pemilu dan Pertumbuhan Sayap Kanan Jauh

Partai Demokrat Swedia mengalami perkembangan pesat sejak pendiriannya tahun 1980-an. Suara mereka selalu meningkat dalam setiap pemilu nasional. Partai ini memiliki platform politik yang “Xenophobia”, dan menjadikan orang Islam sebagai sasaran utama serangan mereka.

Jimmie Akesson, pemimpin partai Demokrat Swedia, telah menegaskan bahwa islam merupakan ancaman terbesar bagi Swedia paska perang dunia kedua. Sebelumnya, ia juga pernah menyalahkan kaum imigran dalam kasus pemerkosaan, khususnya Arab dan Afrika.

Warga imigran mencapai sekitar 14% dari keseluruhan penduduk Swedia yang berjumlah kurang lebih 9,4 juta jiwa.

Partai Demokrat Swedia meraih pendukungnya dari kalangan muda dan orang tua, khususnya pensiunan, yang digambarkannya sebagai “korban para imigran”. Ia berkali-kali membuat iklan di Televisi, dimana ia menggambarkan kaum imigran Arab telah mengambil keuntungan dari pensiunan.

Kemunculan partai-partai sayap kanan neo-nazi sedang menjadi trend di Negara-negara Eropa, khususnya Eropa Barat. Di Belanda, Partai Kebebasan (PVV) Geert Wilders terus menjaga keseimbangan politik paska pemilu bulan Juni, sementara di Hungaria, Partai Jobbik, yang anti-Roma dan Anti-Semit, memenangkan kursi parlemen saat musim semi lalu.

Di Perancis, sebuah partai kanan jauh juga akan mengikuti pemilihan tahun 2012 nanti, yaitu Front Nasional Perancis, yang dipimpin oleh fasis terkenal, Jean-Marie Le Pen. Austria juga menunjukkan peningkatan politisi ultra kanan, sementara di Inggris sudah muncul partai neo-fasis yang bernama The British National Party (BNP).

Di AS, baru-baru ini, dunia juga dikejutkan dengan gerakan-gerakan Tea Party, organisasi sayap kanan konservatif yang dekat dengan ide-ide fasisme. (Rh & Ulfa)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut