Privatisasi Krakatau Steel dan Siasat Imperialisme

Dengan segala retorika yang dibuat-buat, para ekonom dan juru bicara terbaik kaum liberal berupaya mencari alibi terkait penjualan PT. Krakatau Steel. Tidak sedikit diantara mereka yang mengatakan, bahwa penjualan saham (dikenal dengan mekanisme initial public offering/IPO) dimaksudkan untuk mencari sumber dana guna revitalisasi dan memperkuat produksi.

Akan tetapi, fakta-fakta terus menggugurkan alibi para penganut liberalisme ekonomi tersebut. Di hadapan kita, semakin terang benderanglah bahwa privatisasi PT. Krakatau Steel adalah strategi imperialisme untuk menghancur-leburkan ekonomi nasional kita.

Soekarno pernah berkata: “Ingat, produksi, ekonomi adalah perutnya negara. Maka itu jamak lumrahlah kalau kaum reaksioner mengkonsentrasikan sabotasenya kepada perut negara ini.” Dengan mempertinggi produksi (pertanian, perkebunan, dan industri), maka kita akan memerdekakan ekonomi nasional dan memberi makan kepada seluruh rakyat.

Perkataan Bung Karno itu sangat benar adanya. PT. Krakatau Steel, yang dulunya bernama pabrik baja Trikora, adalah induknya industri (mother of industry). Sebagai induknya industri, maka peranan industri baja adalah memberi dasar bagi perkembangan dan pembangunan jenis-jenis industri yang lain, seperti transporasi, elektronik, telekomunikasi, dan sebagainya.

Sejarah industrialisasi di berbagai negeri-negeri maju selalu dimulai dari reformasi agraria dan pembangunan pertanian, dan setelah itu, adalah pembangunan industri baja. Dengan begitu, jika industri baja nasional dihancurkan atau bila kita tidak punya industri baja sendiri, maka industrialisasi nasional akan tersendat atau malah mengalami kehancuran.

Jadi, apabila anda melihat kasus privatisasi Krakatau Steel, maka jangan lihat hanya satu kasus saja, yaitu penjualan pabrik baja nasional, tetapi lihatlah sebagai usaha untuk melikuidasi proyek industri nasional secara keseluruhan. Bukankan ada pepatah yang mengatakan, “jika hendak menaklukkan musuh, maka mulailah dengan memukul tulang punggungnya.” Pabrik baja, seperti sudah diterangkan dimuka, sangat berkaitan dengan pabrik lainnya. Sehingga menghilangkan industri baja ini, maka rembetannya akan menghancurkan pula industri-industri lain.

Itulah tujuan kaum imperialis saat ini; tidak sekedar melancarkan sabotase terhadap produksi, sebagaimana dirasakan oleh pemerintahan Soekarno, tetapi melancarkan upaya untuk membunuh industri nasional kita.

Apa keuntungannya bagi pihak asing? Pertama, jika Krakatau Steel dilikuidasi atau dibangkrutkan, maka ini akan menjadi solusi sementara bagi negeri-negeri imperialis untuk mengatasi over-produksi baja dunia. Negara-negara produsen baja dunia, khususnya AS, Jerman dan Tiongkok, akan menjadikan Indonesia sebagai tempat pembuangan kelebihan produksi bajanya.

Jadi, alih-alih modal asing akan merevitalisasi dan meningkatkan produktifitas Krakatau Steel, malahan kami mengira bahwa pabrik baja nasional ini hanya akan dijadikan gudang untuk menampung produk baja dari negeri-negeri imperialis.

Kedua, Dengan membangkrutkan (privatisasi) PT. Krakatau Steel dan puluhan industri strategis yang akan menyusul, maka Indonesia akan semakin bergantung pada impor dari negeri-negeri maju, baik impor barang kebutuhan hidup maupun impor untuk bahan baku industri.

Ini sangat sejalan dengan misi para imperialis yang baru saja didengungkan dalam pertemuan G-20 di Seoul, Korea Selatan. Dengan kesepakatan bersama melawan proteksionisme dan nasionalisme ekonomi, maka negara-negara imperialis akan semakin leluasa menyerbu pasar-pasar dunia ketiga, termasuk Indonesia yang akan menjadi sasaran paling empuk-nya.

Sementara, bagi penguasa-penguasa politik dan pejabat di dalam negeri, penjualan PT. Krakatau Steel melalui mekanisme IPO akan menjadi “mesin pengunduh” uang atau modal yang baru. Bukankah politik Indonesia yang serba transaksional memerlukan pundi-pundi yang besar pula. Tidaklah mengherankan kiranya apabila partai politik akan memilih “diam” dalam situasi ini, ketimbang berteriak lantang.

Maka, sangat pantas pula kiranya jikalau yang paling marah terhadap penjualan PT. Krakatau Steel ini adalah rakyat Indonesia, yaitu kaum buruh, kaum tani, dan seluruh lapisan melarat lainnya. Sebab, jika industri nasional tidak lagi berjalan, sebagaimana diterangkan Bung Karno, maka rakyat Indonesia akan kehilangan perutnya.

Maka, jika para politisi dan kaum intelektual berdiam saja, maka rakyat Indonesia justru harus mengorganisir diri untuk melakukan perlawanan. Gerakan buruh harus berdiri di barisan terdepan, bersama dengan sektor-sektor rakyat yang lainnya seperti petani, mahasiswa, dan kaum miskin perkotaan.

Bukankah sejarah telah menitahkan, bahwa “perlawanan yang paling hebat selalu dimulai dari persoalan perut—gerakan menuntut roti”.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Hari Basuki

    Bangsa Indonesia mempunyai Landasan Hukum yaitu UUD 1945 mengenai ekonomi ada pada pasal 33′ Yang perlu ditanyakan adalah jika pasal ini sudah melenceng dari induknyanya’ Bumi air dan yang lmenguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara itu semestinya karena adanya demokrasi asal-asalan maka dikuasI OLEH PEMERINTAH’ Pemerintah ada Pre3siden dan kabinetnya se3mentara DPRhya hanya kurang cermat untuk menguak apa yang ada dibalik itu semua. Menyangkut Krakatau Steel adalah bagian dari hajat hidup orang banyak karena tambang sudah ada didepan lmata kit5a yaitu di Jogjakarta Lumajang dan Tulungagung’ Kalau semua ini dijual ke Asing maka sama dengan pemerintah membunuh rakyatnya sendiri membiarkan mati dilumbung padinya sendiri. Sebab menghentikan kreatifitas bangsa Indonesia. Privatisasi hanya membawa segelitir orang menjadi kaya dan Rakus dan akan membahayakan generasi berikutnya’ Indonesia tidak berpaqham Kapitalisme dan Imperalisme’ Indonesia ya Indonesia yang berdiri dengan kaki sendiri’ Seharusnya saham KS direvitalisasi dengan dengan menjual aset-aset para koruptor yang terjadi dari Era Orde Baru atau ditawarkan kepada rakyat dengan harga terjangkau’ Masih banyaklah yang ingin saya tuangkan. Hentikan privatisasi!