Pulang Tanpa Medali

Kandas sudah harapan Indonesia meraih emas di Olimpiade London 2012. Bulu tangkis, yang punya tradisi mendulam emas, gagal meraih sekeping emas pun. Bahkan, tim ganda putri Indonesia, Meiliana Jauhari dan Greysia Polii, didiskualifikasi karena sengaja tidak bermain serius. Itu dianggap melanggar prinsip fair play.

Olahraga Indonesia memang kian terpuruk. Bulu tangkis, olahraga yang pernah dirajai oleh Indonesia, pun sudah pelit membuahkan prestasi. Piala Thomas dan Uber tak pernah lagi bertandang ke Indonesia. Prestasi dari ajang-ajang lain pun sudah jarang diraih. Legenda bulu tangkis Indonesia, Liem Swie King, dengan legowo mengatakan, Indonesia sudah kehilangan pamor sebagai kekuatan bulu tangkis dunia.

Indonesia memang pernah perkasa dalam bulu tangkis. Lawan-lawan akan bergetar jika mendengar nama-nama seperti Rudy Hartono, Liem Swie King,Tan Joe Hok, Fery Soneville, Susi Susanti, Ivana Lee, dan lain-lain. Indonesia berkali-kali mengoleksi gelar juara piala Thomas dan Uber. Pendek kata, bulu tangkis pernah mengangkat martabat bangsa di panggung dunia.

Kenapa prestasi bulu tangkis merosot? Berbagai jawaban pun bermunculan. Diantaranya: minimnya dukungan fasilitas, tidak berjalannya regenerasi, minimnya pembinaan usia dini, minimnya kompetisi, dan lain-lain. Ya, bagi kami, hal-hal tersebut memang merupakan persoalan yang patut diselesaikan. Tetapi bukan yang paling pokok.

Dulu, di tahun 1990an, lapangan bulu-tangkis ada di kampung-kampung. Disamping lapangan sepak bola, bola volley, dan tenis meja. Dulu, bulu tangkis juga seakan menjadi olahraga rakyat. Sekarang, lapangan bulu-tangkis di kampung-kampung pelan-pelan mulai menghilang.

Selain itu, bagi kami, penurunan prestasi olahraga kita tak terlepas dari kemunduran umum bangsa ini di segala bidang. Tidak sulit untuk menjelaskan keterkaitannya. Sebuah bangsa yang bangkit senantiasa disertai kebangkitan semangat dan moral rakyatnya. Ingat kata Mao Tse Tung, “moral menentukan hasil pertempuran.” Artinya, jika moral rakyat tinggi, termasuk atlet-atletnya, maka semangat juangnya pun tinggi.

Bangsa Indonesia pernah membuktikan itu. Dulu, di era Bung Karno, ketika jaman masih susah, atlet-atlet Indonesia menorehkan prestasi luar biasa. Pada Asian Games ke IV, di Jakarta, tahun 1962, Indonesia menempati urutan kedua. Indonesia juga sangat diperhitungkan di sepak bola dan cabang olahraga lainnya.

Sekarang, untuk mendorong semangat atlet, pemerintah memberi iming-iming bonus kepada peraih medali. Sayang, iming-iming bonus semacam ini tak selamanya membantu. Malahan bisa menimbulkan hal negatif: atlet menjadi individualis dan berjuang karena iming-iming materi. Lagi pula, bagi kami, seorang atlet dihargai bukan saja karena prestasinya, tetapi kegigihannya dalam berjuang di lapangan. Kami yakin, sebagian besar atlet-atlet Indonesia tetap berjuang demi bangsa dan negaranya.

Yang lebih penting malah diabaikan: memastikan kesejahteraan atlet. Bayangkan, banyak mantan atlet Indonesia hidup sengsara. Jasa-jasa mereka untuk bangsa dan negara seakan tidak pernah dihargai. Sampai-sampai ada mantan atlet yang menjadi pengamen untuk menyambung hidup.

Pembangunan olahraga mesti dilakukan. Kata orang, olahraga bukan sekedar soal prestasi, tetapi juga soal pembangunan jasmani. Juga, olahraga bisa membentuk mental dan rohani yang kuat. Maka tak salah jika Bung Karno pernah menempatkan olahraga sebagai sarana membangun bangsa (nation and character building). Olahraga mesti digencarkan di sekolah-sekolah dan di tengah-tengah rakyat. Sarana olahraga perlu diperbanyak dan dimassalkan. Kompetisi juga harus digencarkan untuk menyeleksi atlet-atlet berbakat.

Karena itu, sudah saatnya pengurus olahraga diserahkan kepada orang-orang yang kompeten. Jangan lagi diserahkan kepada birokrat-birokrat yang tak tahu sama sekali mengenai olahraga. Apalagi, tak jarang birokrat itu  malah membawa mental korup dan nepotisnya dalam kepengurusan cabang olahraga.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut