Presiden Yudhoyono dan Telur Ayam Kampung

Apa hubungan Presiden Yudhoyono dengan telur ayam kampung? Jelas ini pertanyaan aneh. Tetapi, jika Anda tinggal di Kupang, dan seperti saya, saban Sabtu harus membeli lusinan telur ayam kampung untuk lauk makan sang anak, pertanyaan itu pasti sempat singgah juga di kepala Anda pagi ini.

Pagi ini (Sabtu, 12/2) adalah hari ketiga atau keempat telur ayam kampung menghilang di pasar-pasar utama di Kota Kupang. Setidaknya di Pasar Inpres Naikoten dan Pasar Oebobo yang sempat saya datangi. Tetapi saya yakin hal yang sama terjadi di Pasar Oeba. Artinya, sejak Rabu atau Kamis telur-telur ini tidak masuk pasar. Wah, bukankah itu waktu Presiden Yudhoyono berada di Kupang?

Karena kedatangan presiden adalah hal luar biasa, bukan salah saya jika sempat terlintas pikiran menghubungkan kedua kejadian ini.

Awalnya saya berpikir, telur ayam kampung bernasib sama seperti rakyat pedagang jagung bakar di El Tari. Bagi pemerintah Leburaya, yang tampaknya mampu membaca isi hati tuannya, rakyat pedagang tentulah tidak sedap di pandang mata. Karena itu, mereka diusir pergi, jauh dari jangkauan pandangan sang presiden.

Sebenarnya ini persoalan persepsi, bukan benar-benar urusan visual. Telur ayam kampung, dari namanya, mengandung unsur yang negatif di mata penguasa: “kampung”. Ia sama dengan “rakyat” pada rakyat pedagang, atau “kecil” pada pedagang kecil. Bisa jadi, mengantisipasi sang presiden hendak mengunjungi pasar demi menambal citranya, telur ayam kampung pun disuruh minggat dari sana.

Tetapi tampaknya saya salah. Jika seperti itu, pastilah sudah sejak Senin atau Selasa telur ayam kampung menghilang.

Kalau begitu, mungkinkah telur ayam kampung bernasip serupa pelajar SD-SLTA pada selasa lalu? Para pelajar itu dipaksa menahan lapar, hingga lewat pukul 15 berbaris kaku rapih, membentang lebih dari 10 kilometer di sepanjang jalan yang akan dilalui sang presiden. Setiap ada mobil berbunyi sirine lewat, mereka mendapat komando untuk mengibar-ngibarkan bendera merah putih kecil dalam genggaman.

Bisa saja telur ayam kampung juga dimobilisasi, sebagai upeti bagi sang raja. Selain karena lebih mahal, nama “kampung” yang disandangnya memberi kesan lokal, asli NTT.

Jadi seperti skenario plagiat kedatangan Obama dulu. Bisa saja pejabat NTT berpikir, kalau tempo hari presiden kita menyuguhi Obama emping, sate, nasgor, dan bakso; kini saatnya sang presiden disuguhi makanan khas NTT. Karena presiden tidak mungkin disuguhi Se’I Babi ataupun ditawarkan memamah siri pinang, telur ayam kampung lah yang jadi alternatif. Karena meski datang dari Surabaya, saat mengucapkan telur ayam kampung, pikiran kita langsung menerawang ke desa-desa di pelosok.

Sialnya, karena sang presiden memiliki kebiasaan membawa rombongan besar–ada yang bilang itu Asiatic Despotism Complex, sebuah kelainan psikologis para penguasa negeri ini yang selalu membayangkan dirinya seolah-olah raja Jawa jaman dahulu–dibutuhkan sangat banyak telur ayam kampung hingga menghabiskan persediaan seminggu untuk penduduk kota ini.

Mungkin hal di atas tidak benar. Mungkin tidak ada hubungan sama sekali antara Presiden Yudhoyono dengan Telur Ayam Kampung. Yang jelas, kelangkaan telur ayam kampung–juga tomat, labu, cabai,dan sejumlah bahan pangan lainnya–memastikan pernyataan Hatta Rajasa–menteri andalan Presiden Yudhoyono–bahwa Februari akan deflasi, tanpaknya akan menjadi bualan belaka. Setidaknya di Kota Kupang, kita dapat dengan kuat berprediksi, inflasi lah yang akan terjadi. Artinya kedatangan Yudhoyono tidak membuat bulan ini menjadi lebih baik***

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut