Presiden Malawi Bubarkan Kabinetnya Karena Korupsi

Presiden Malawi, Joyce Banda, telah memecat seluruh Menteri Kabinetnya karena merebaknya skandal korupsi. Bahkan, Kamis (10/10) malam, Ia telah membubarkan kabinetnya.

Menurut laporan sejumlah media lokal, Joyce Banda telah kehilangan kepercayaan terhadap kabinetnya. Ia mengungkapkan hal tersebut dalam sebuah pertemuan darurat pada Kamis (10/10) malam.

Tusekele Mwanyongo, juru bicara kepresidenan Malawi, mengatakan Presiden sudah melakukan pembersihan massal terhadap jajaran kabinetnya guna membuka jalan bagi penyelidikan.

“Intinya adalah untuk memastikan bahwa Menteri yang mungkin terlibat tidak mengganggu penyelidikan polisi,” katanya.

Baru-baru ini lebih dari 10 pejabat senior di pemerintahan Malawi ditangkap karena dugaan korupsi. Termasuk seorang pejabat yang menyimpan uang $ 25,000 di rumahnya dan lainnya dalam bentuk uang kertas di bagasi mobil.

Para pejabat itu sudah ditangkap karena didakwa melakukan tindakan pencucian uang, penyalahgunaan jabatan dan korupsi.

Uniknya, salah seorang pejabat Menteri yang turut dipecat adalah Menteri Keuangan Ken Lipenga, yang tengah memimpin delegasi Malawi dalam pertemuan dengan IMF dan Bank Dunia di Washington.

Joyce Banda mengatakan, begitu kepetususan (pembubaran kabinet) diumumkan, anda telah diberhentikan sebagai pejabat Menteri Malawai, tidak peduli anda berada di Lilongwe atau Washington.

Namun, banyak pihak yang menduga bahwa langkah Jocye Banda itu karena ada tekanan dari negara donor di barat, yang menyediakan 40% dana dari anggaran nasional Malawai, yang dipakai untuk membayar 170.000 pegawai negeri di negara itu, termasuk tentara dan polisi.

Pada hari Kamis, Uni Eropa memperingatkan bahwa mereka tidak akan mengucurkan bantuan sebesar €29 juta, kecuali bila skandal korupsi tersebut sudah dituntaskan. Alexander Baum, Kepala misi Uni Eropa di Malawi, mengatakan sebuah ‘aksi yang cepat diperlukan’.

Presiden Joyce Banda mengatakan, pihaknya telah menunjuk tim khusus, yang terdiri dari polisi dan pejabat pemerintah, untuk melakukan audit  keuangan terhadap keuangan negara. Namun pihak Uni Eropa menghendaki ada auditor eksternal yang bertugas mengawasi proses investigasi. Inggris telah menawarkan untuk mengirimkan Tim Forensik. Namun pemerintah Malawi belum merespon tawaran itu.

Skandal itu telah menyebabkan pemerintah Malawi menghentikan Sistem Pembayarannya akhir pekan lalu. Sehingga bisa melakukan penyelidikan terhadap dana sebesar 4 juta USD yang hilang. Skandal itu menyebabkan pembayaran gaji guru, perawat dan dokter tertunda.

Analis politik Ernest Thindwa, yang menyambut baik keputusan Presiden Joyce Banda membubarkan kabinet, menggambarkan kejadian ini sebagai indikasi adanya praktik penjarahan yang berlangsung massif.

Bukan kali ini sepak terjang Presiden Malawi Jocye Banda mengundang perhatian dunia. Pada awal September lalu, Presiden perempuan ini juga menjual pesawat jet kepresidenan senilai 15 juta dolar Amerika untuk mengatasi bencana kelaparan yang menimpa lebih dari 1 juta orang di negara tersebut.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut