Presiden Fernando Lugo Melawan Kudeta Sayap Kanan

Pendukung Fernando Lugo

Sebuah kudeta telah terjadi Jumat (22/6/2012) di Paraguay. Presiden Paraguay, Fernando Lugo, dipaksa berhenti dari jabatannya oleh sekelompok bandit sayap kanan yang menguasai parlemen Paraguay.

Dalam pemungutan suara Jumat, 39 anggota senat Paraguay menyetujui pemaksulan terhadap Fernando Lugo. Sedangkan empat anggota senat melakuka penentangan dan 2 orang anggota senat absen.

Salah seorang pembela Lugo di persidangan Senat, Enrique García, menganggap persidangan pemaksulan Lugo oleh Senat Paraguay sebagai “kudeta”. “Pemaksulan ini sangat sempurna melanggar konstitusi Paraguay,” kata García.

García mencatat beberapa kejanggalan terkait tindakan Senat memaksulkan Presiden Fernando Lugo. Pertama, proses pemaksulan ini memberi waktu kurang dari 24 jam kepada Lugo untuk mempersiapkan pembelaan. Kedua, waktu yang diberikan kepada Lugo untuk memberikan pembelaan hanya dua jam. Ketiga, pihak oposisi tidak punya bukti yang kuat mengenai keterkaitan Lugo dengan insiden bentrokan polisi dengan petani di Provinsi Canindeyu.

Presiden Fernando Lugo, yang terpilih secara demokratis pada tahun 2008 lalu, menyatakan akan tetap melawan kudeta ini. Carlos Filizzola, seorang sosialis yang menjabat sebagai seorang Menteri di pemerintahan Lugo, menyerukan kepada massa rakyat agar melakukan perlawanan.

Untuk diketahui, pada hari Kamis (21/6/2012) kemarin, Senat Paraguay mengajukan pemaksulan terhadap Fernando Lugo. Senat Paraguay memang dikuasai oleh kelompok sayap kanan.

Dalih yang digunakan sayap kanan adalah bentrokan antara polisi dengan petani tak bertanah di Provinsi Canindeyu. Saat itu, Polisi berusaha mengusir 150-an petani tak bertanah yang menguasai 1500 hektar tanah milik politisi partai Colorado—partai sayap kanan Paraguay.

17 orang tewas akibat bentrokan itu. Presiden Fernando Lugo dianggap bersalah atas kejadian tersebut.

Rakyat Melawan Kudeta

Upaya kudeta terhadap Lugo memicu kemarahan rakyat. Sejak Jumat pagi, ribuan massa rakyat Paraguay sudah mengepung Istana Wakil Presiden.

Mereka menyatakan menolak Presiden baru Paraguay, Federico Franco—sebelumnya menjabat Wakil Presiden dan seorang politisi liberal. Bagi rakyat, Presiden mereka yang sah adalah Fernando Lugo.

Koresponden Unasur melaporkan, polisi menembakkan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan massa rakyat. Tetapi laporan lain menyebutkan bahwa tembakan senjata api terdengar sepanjang hari.

Di plaza de Armas, yang berdekatan dengan gedung kongres, polisi menembaki massa rakyat sedang menggelar protes. Laporan lain menyebutkan, polisi sangat agressif membubarkan aksi massa damai pendukung Lugo itu.  Tetapi belum diketahui berapa jumlah korban.

Amerika Latin mengutuk kudeta

Negara-negara Amerika Latin telah menegaskan sikap menentang kudeta yang berlangsung di Paraguay. Dua organisasi regional di Amerika Latin, yakni Unasur (Uni Negara Amerika Selatan) dan ALBA (Aliansi Bolivarian Untuk Rakyat Amerika Latin), menyatakan mengutup kudeta tersebut.

Sekjend Unasur, Ali Rodriguez, menganggap kudeta di Paraguay sebagai serangan terhadap proses demokrasi yang sedang berlangsung di Amerika Latin. Presiden Ekuador Rafael Correa mengajak negara-negara Amerika Selatan menolak mengakui pemerintahan baru di Paraguay.

Sementara itu, Wakil Presiden Venezuela Elias Jaua menganggap kejadian di Paraguay sebagai upaya imperialisme menghentikan proses revolusioner di Amerika Latin. “Amerika Serikat mulai tahu kalau Amerika Latin tak lagi menjadi halaman belakang,” katanya.

Sejumlah negara Amerika Latin juga menyelenggarakan aksi massa untuk menentang kudeta di Paraguay.

Perjuangan reforma agraria

Fernando Lugo terpilih sebagai Presiden pada tahun 2008. Ia berhasil mengakhiri kekuasaan “stronismo”—kediktatoran militer yang dipimpin oleh Alfredo Stroessner. Bekas pastor Katolik ini berhasil menggalang dukungan kaum liberal dan kiri.

Sayang, di mata sebagian orang, Fernando Lugo sangat lamban dalam menjalankan reforma agraria. Akibatnya, popularitas dan dukungannya pun agak menurun, terutama dari kelompok petani.

Paraguay dijajah cukup lama oleh Spanyol. Begitu merdeka, negeri ini juga terjerumus dalam perang dan kediktatoran. Puncaknya adalah Paraguay jatuh dalam kediktatoran Alfredo Stroessner. Ia memerintah Paraguay selama 40-an tahun dengan teror dan pembantaian.

Partai Colorado, sebuah partai tuan tanah dan pendukung kediktatoran, memerintah negeri itu hingga 61 tahun. Hal itu menyebabkan 43% rakyat Paraguay hidup miskin dan banyak diantara mereka tak punya tanah.

Di akhir kekuasaan Stroessner, sekitar 17 juta hektar di Paraguay dikuasai oleh hanya 1877 orang.

Belarmino Balbuena, seorang aktivis gerakan petani, menganggap kegagalan reforma agraria tidak semata terletak di tangan Lugo. Baginya, sistem politik dan peradilan di Paraguay telah memblokir upaya merebut kembali tanah dari tangan asing dan pendukung Stroessner.

Begitu berkuasa, Lugo tak pernah nyaman dari serangan oposisi. Partai Colorodaro, dengan dukungan media dan militer, terus berusaha menggulingkan Lugo.

RAYMOND SAMUEL

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut