Presiden dan Hari Anak

Pesan Presiden SBY di hari anak nasional 2010 tampak datar dan normatif bahkan seperti pesan klise yang sulit akan dilaksanakan di tengah realitas banyak anak tersingkirkan dari dunianya. Bacalah: “Anak-anak Indonesia di seluruh Tanah Air, saya ingin menyampaikan bahwa kami semua menyayangi anak-anak. Pak SBY berpesan, rajinlah beribadah, belajar, berolahraga, rukunlah pada teman, patuhlah pada orangtua, hormatilah guru, dan teruslah berkarya dan berprestasi,” (Kompas.com, Jumat, 23 Juli 2010 | 13:57 WIB)

Memang, bila dikonfrontasikan dengan realitas hidup anak-anak Indonesia saat ini Pernyataan Presiden tersebut akan menemukan kondisi yang sering kita sebut Jauh Panggang dari Api. Kita lihat sehari-sehari di kota-kota besar makin banyak anak kehilangan perlindungan dalam artian juga: kesehatannya, pertumbuhannya, kecerdasannya, dan keberaniannya. Kekurangan gizi masih dapat dijumpai dalam kondisi lumpuh layuh, busung lapar. Tempat bermain yang dapat mengembangkan kesehatan sekaligus memajukan daya ekspresi dan motorik seperti tak menjadi prioritas. Justru anak-anak itu seperti dibiarkan menggelandang untuk menyambung hidupnya sendiri dan tak jarang justru menjadi obyek pemerasan, berada dalam arus perdagangan anak; tetap kekurangan gizi.

Di antara mereka ada yang tak bersekolah karena memang tak sanggup sekolah. Ingat Muhammad Basir yang mengakhiri hidupnya karena keinginannya untuk bersekolah tak bisa diwujudkan oleh orang tuanya lantaran tak ada biaya? (Editorial www.berdikarionline.com Jumat, 16 Juli 2010 | 1:33 WIB). Ya biaya sekolah yang menjerat leher. Putus sekolah, bekerja di bawah umur, perdagangan anak dan kekerasan bahkan bisa dilakukan oleh orang tua sendiri adalah juga realitas kehidupan anak yang patut kita perhatikan.

Pada anak-anak yang terlantar dan miskin, selalu kita ingat pada konstitusi negara kita: fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara tetapi bagaimana system untuk memelihara dan melindungi anak-anak tersebut belum menyentuh anak-anak miskin terlebih mereka yang tuna wisma.

Pesan Presiden yang normatif tanpa terobosan nyata itu tentu saja tidak akan menghasilkan generasi baru yang lebih baik, berkualitas dan harapan-harapan indah yang lain. Presiden seharusnya bisa mengeluarkan pernyataan konkrit untuk mengatasi terpuruknya anak-anak Indonesia. Misalnya dengan memastikan anak-anak Indonesia umur sekolah dasar tidak berkekurangan dalam hal gizi dan pendidikan sehingga dapat memaksimalkan segala daya di masa pertumbuhan.

Anak-anak adalah masa depan bangsa. Merekalah pelanjut angkatan untuk semakin mengadilkan dan memakmurkan bangsa. Bila kita tahu bahwa anak-anak Indonesia di masa kini masih kurang sehat, kurang gizi, kurus kering, tak sekolah, sebenarnya kita sudah bisa melihat jalan ke depannya.

Tentu kita tak menginginkan jalan buruk itu yang dilalui. Program untuk anak-anak memerlukan tanggap darurat dan langkah-langkah praktis terutama di bidang gizi, pendidikan, kesehatan, taman bermain, dan pemeliharaan khusus untuk anak terlantar, termasuk anak-anak dengan kebutuhan khusus. Pemerintah juga harus menindak tegas para pelaku bisnis, perdagangan anak dan industri yang tanpa mendengar hak anak-anak melibatkan anak-anak di bawah umur termasuk juga mereka yang mengambil keuntungan dari anak-anak jalanan dalam berbagai bentuk.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut