Presiden Bolivia: Sosialisme, Bukan Neoliberalisme, yang Menciptakan Kestabilan

Presiden Bolivia Evo Morales memuji keberhasilan model perencanaan sosialis yang diterapkan di negerinya. Menurut dia, model itu terbukti berhasil menciptakan kestabilan dan kemakmuran ketimbang model neoliberal.

“Selama neoliberal, Bolivia tidak pernah mampu keluar dari jeratan utang. Sekarang, ada 177 investor yang menawarkan obligasi berkat kestabilan ekonomi” kata Evo, seperti dikutip teleSUR, Rabu (15/3/2017).

Sejak berkuasa di tahun 2006, Evo memutar haluan ekonomi Bolivia dari model neoliberal menjadi model sosialistik. Dan sejak mengadopsi perencanaan sosialis, ekonomi Bolivia tampak semakin membaik.

Pada tahap awal, Bolivia memaksimalkan penerimaan negara dari tata kelola sumber daya alam, terutama gas. Ini dicapai melalui jalan nasionalisasi sejumlah perusahaan asing.

Pasca nasionalisasi, produksi gas justru meningkat pesat, dari 33 juta meter kubik menjadi 56 juta meter kubik pada 2013. Di sisi lain, Bolivia semakin berdikari dalam mengelola gasnya.

Dengan penerimaan negara yang meningkat, Evo mendorong redistribusi ekonomi melalui peningkatan signifikan belanja sosial. Dalam sembilan tahun terakhir, belanja sosial meningkat sebesar 750 persen.

Upah buruh juga meningkat pesat. Antara 2005 (sebelum Evo jadi Presiden) hingga 2013, upah minimum sudah naik sebesar 104 persen—termasuk tertinggi di Amerika latin.

Desember lalu, Bolivia optimis pertumbuhan ekonominya meningkat di tahun 2017. Apalagi, kalau harga gas dan komoditas berbasis sumber daya alam lainnya tetap stabil di pasaran dunia.

“Harga minyak tumbuh stabil, itu mengapa kami percaya ekonomi Bolivia di tahun 2017 akan lebih baik dibanding tahun ini,” kata Menteri Ekonomi Bolivia, Luis Arce.

Sebelum menerapkan perencanaan sosialis, ekonomi Bolivia sangat bergantung pada IMF dan Bank Dunia. Negara berpenduduk 11,5 juta ini mengutang banyak sekali untuk membiayai operasi pertambangan swasta  dan industri pertanian.

Akibatnya, di pertengahan 1980-an, Bolivia mulai dicekik krisis utang. Sepanjang 1980-an hingga 1990-an, Bolivia selalu bertengger dalam daftar negara termiskin di dunia.

Di bawah Evo Morales ceritanya berbeda. Hanya dalam tempo 10 tahun, Bolivia berhasil mengurangi separuh kemiskinan ekstrim di negerinya. Pada tahun 2006, ketika Evo Morales baru berkuasa, kemiskinan ekstrim mencapai 38,2 persen. Tetapi di tahun 2016, kemiskinan ekstrim tinggal 16,8 persen.

“Lebih dari 2 juta orang berhasil dibebaskan dari kemiskinan ekstrim,” kata Wakil Menteri Fiskal dan Anggaran Bolivia, Jaime Durán.

Tingkat ketimpangan di Bolivia juga menurun. Pada tahun 2005, 10 persen penduduk punya kekayaan 128 kali lipat dibanding 10 persen penduduk termiskin. Namun, pada 2015, ketimpangan itu tinggal 37 kali.

Ekonomi Bolivia juga terus tumbuh di atas 5 persen. Menariknya, pertumbuhan ini berkualitas, karena dibarengi dengan berkurangnya angka kemiskinan dan ketimpangan.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut