PRD Lampung Barat Gelar Vergadering (Rapat Akbar)

    Pada hari Sabtu kemarin, Donna Sorenty Moza, seorang alumnus Universitas Bandar Lampung yang menjadi ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD) Lampung Barat, berdiri di atas sebuah panggung di Lapangan Pekon Marang, Kecamatan Pesisir Selatan, Lampung Barat.

Hari itu, PRD Lampung Barat sedang menggelar rapat akbar dan sekaligus pelantikan pengurus. Hadir sedikitnya 500 orang anggota PRD se-Lampung Barat, yang sebagian besar adalah petani dan kaum miskin. Hadir pula sejumlah tokoh masyarakat, pejabat setempat, perwakilan partai politik, dan pejabat kepolisian setempat. Yang tidak kalah penting adalah kehadiran Ketua Umum PRD, Agus Jabo Priyono, dan pengurus KPW PRD Lampung, Bung Rahmad dan Rahmat Husein.

Di pinggir jalan, kira-kira sepanjang 5 kilometer dari lokasi, berjejer bendera merah bergambar bintang dan gerigi—lambang PRD—dan spanduk-spanduk berisi tuntutan perjuangan petani Lampung Barat.

Lagu “Indonesia Raya” pun berkumandang sebagai pembuka rapat akbar ini, lalu dilanjutkan dengan “mars PRD”. Setelah itu, sekelompok penari masuk ke tengah lapangan dan mempertunjukkan kebolehannya membawakan tarian khas rakyat Lampung.

Suasana bertambah semarak ketika sekelompok penari lainnya turut memperlihatkan kemampuannya dengan menarikan tarian dari Pulau Dewata. Lalu, beberapa saat kemudian, sekelompok pemuda memperlihatkan kemampuan bermain silat. Tepuk tangan pun bergemuruh mengiringi setiap gerakan pemain silat ini.

Berdiri sebentar, seakan mengambil napas sebelum berbicara, Donna Sorenty Moza mengatakan: “Sebagai partai milik rakyat miskin, PRD memiliki komitmen teguh akan terus berada ditengah-tengah rakyat dan berjuang bersama-sama untuk merebut kembali hak-haknya yang dirampas oleh sistem neoliberalisme.”

“Untuk itu,” kata Donna menjelaskan, “agar perjuangan bisa memiliki nafas panjang dan berdaya dobrak kuat, maka diperlukan sebuah persatuan nasional diantara seluruh kekuatan-kekuatan nasional yang anti-neoliberalisme.”

Beberapa saat kemudian, seorang yang mengaku wakil dari Pemerintah Kabupaten diberi kesempatan menyampaikan sambutan. Setelah mengucapkan salam kepada para hadirin, Ia menyampaikan permintaan maaf karena Bupati dan wakilnya tidak bisa hadir karena sedang mengikuti kegiatan di kantor Gubernuran.

Dia juga menyampaikan dukungan atas perjuangan PRD dan petani Lampung Barat dalam melawan PT. KCMU—perusahaan yang merampas lahan milik petani. Tetapi, di ujung sambutannya sang pembicara telah memperingatkan agar supaya perjuangan petani tidak berada diluar koridor hukum.

Pidato politik lainnya disampaikan oleh Christimor, seorang anggota DPRD Lampung Barat, yang segera menghujani PRD dengan pujian-pujian. “PRD adalah partai ekstraparlementer yang paling konsisten dan jujur meneriakkan jeritan hati rakyat miskin Indonesia, berjasa besar dalam proses menumbangkan rezim tirani dan hingga kini masih teguh memposisikan diri,” begitulah kata-kata pujian yang keluar dari mulut anggota DPRD itu.

Ketika matahari mulai tinggi, sudah berada di atas kepala, Ketua Umum PRD Agus Jabo Priyono naik ke panggung untuk memberi pidato. Mantan aktivis mahasiswa Universitas Negeri Sebelas Maret – Solo (UNS) dekade 1990-an ini memulai pidatonya dengan menguraikan pandangannya tentang pancasila dan UUD 1945.

Katanya, Pancasila itu memiliki tiga inti pokok, yaitu sosio-demokrasi, sosio-nasionalisme, dan Ketuhanan Yang Maha Esa, sedangkan UUD 1945 memiliki kalimat pembukaan yang sangat berjiwa anti-kolonialisme.

Oleh karena itu, menurut salah satu pendiri PRD ini, Pancasila dan UUD 1945 tidak mentolelir adanya tindakan-tindakan yang berusaha menindas rakyat, apalagi merampas tanah-tanah mereka untuk sekedar memperkaya segelintir pengusaha.

“Barangsiapa yang menghalang-halangi perjuangan petani merebut haknya sendiri adalah pengkhianat Pancasila dan Konstitusi UUD 1945,” kata Agus Jabo, yang segera disambut tepuk tangan gemuruh dari ratusan petani dan rakyat Lampung barat.

Agus Jabo mengatakan, PRD merupakan partainya kaum kromo atau marhaen, yang sengaja berdiri untuk membela hak-hak kaum marhaen tersebut. “PRD haruslah menjadi partainya kaum marhaen, yaitu golongan rakyat yang paling besar di negeri ini,” tegasnya.

Di akhir pidatonya, Agus Jabo menitipkan pesan kepada pengurus PRD Lampung Barat yang baru saja dilantik, agar menjadi contoh dari pejuang yang benar-benar hidup di tengah rakyat dan berjuang bersama mereka untuk meraih cita-cita yang lebih tinggi–menghapuskan penghisapan manusia atas manusia dan penindasan bangsa atas bangsa.

Di penghujung acara, sekretaris KPK PRD Lampung Barat, Gusti Kadek Artawan, memimpin pembacaan deklarasi KPK PRD Lampung Barat dan diikuti dengan khidmat oleh seluruh peserta.

“Atas nama perjuangan rakyat tertindas Indonesia, kami petani plasma memberikan tenggat waktu selama 30 hari kepada PT KCMU untuk melakukan negosiasi pengembalian sertifikat kepemilikan lahan kami, dan apa bila sampai melewati batas waktu tersebut tidak dihiraukan, maka kami segenap petani plasma akan melakukan pemboikotan terhadap keseluruhan operasional perusahaan PT KCMU !” pekik sekretaris KPK PRD Lambar tersebut.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • mae

    Mantap!! 🙂