PRD: Kerusuhan Buol Tunjukkan Mentalitas Polisi Yang Anti-Rakyat

JAKARTA: Komite Pimpinan Pusat -Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD) menyatakan pada hari Kamis bahwa kerusuhan di Buol, Selasa malam (31/8) menunjukkan bahwa Kepolisian masih menempatkan institusinya sebagai musuh dari rakyat Indonesia, sesuatu yang terpelihara di jaman kolonial dan terwariskan hingga kini.

Demikian pernyataan sikap PRD yang diterima redaksi Berdikari Online, Kamis (2/9). Statemen itu menyebutkan, kejadian kerusuhan beberapa hari di Buol tidak perlu terjadi seandainya Polisi menempatkan rakyat sebagai subjek yang seharusnya dilindungi.

Dijelaskan, kemarahan rakyat di Kabupaten Buol itu tidak bisa dipandang sebagai aksi anarkisme murni, seperti pandangan kepolisian dan sejumlah media mainstream, tetapi merupakan akumulasi dari kemarahan rakyat terhadap kesewenang-wenangan kepolisian di sana.

Terkait dugaan penggunaan peluru tajam dan banyaknya korban yang ditembak di bagian kepala, PRD menganggap hal ini sebagai tindakan di luar batas dan, jika hal itu ternyata benar, maka apparatus kepolisian di sana harus mendapat sanksi seberat-beratnya.

PRD juga meminta dukungan berbagai pihak, terutama pimpinan Polri dan Komnas HAM, untuk segera turun tangan dan menghentikan pengerahan pasukan ke Kabupaten Buol.

PRD juga menuntut agar pihak Polisi tidak mencari “kambing-hitam” dalam persoalan ini, terutama terhadap para aktivis gerakan rakyat di sana. Sebaliknya, Polisi harus mengusut  anggotanya yang diduga terlibat penganiayaan tahanan, Kasmir Timumum, yang akhirnya memicu kemarahan rakyat di sana. (Ulf)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut