Pra Mayday, Ratusan Buruh Di DIY Gelar Rapat Akbar

Kaum buruh terus mematangkan persiapan merespon Hari Buruh Sedunia. Di Jogjakarta, seratusan buruh menggelar acara rapat akbar dan panggung budaya di depan Gedung DPRD DIY.

Sebagian besar buruh itu adalah buruh gendong di sejumlah pasar tradisional, seperti pasar giwangan, pasar Bringharjao, dan pasar Gamping. Mereka berencana merespon Hari Buruh Sedunia dengan berbaris di bawah payung Aliansi Rakyat Yogyakarta (ARY).

Acara ini banyak diisi orasi, pementasan seni, pembacaan puisi, dan lagu-lagu perjuangan. “Ini adalah mediun untuk mengajak massa rakyat luas untuk berpartisipasi dalam aksi Hari Buruh,” kata seorang orator.

Dalam peringatan hari Buruh mendatang ARY akan mengusung sejumlah isu: (1) menindak tegas pelanggar UMP, 2. penghentian pemberangusan serikat buruh, 3. hapus sistem kontrak dan outsourching, 4. tolak diskriminasi buruh perempuan, 5. Tolak kenaikan harga BBM, 6. Turunkan harga-harga sembako, 7. cabut ayat 6a pasal 7 dan Pasal 8 UU APBN 2012, dan 8. Cabut UU Migas dan Penanaman modal asing.

Dalam acara ini, aktivis ARY juga menanam pohon yang diberi nama “pohon harapan”, sebagai ekspresi harapan kaum buruh mengenai masa depan yang lebih baik. Khususnya pada buruh gendong.

Ibu Ngatinem (60), seorang buruh gendong, mengaku menekuni pekerjaannya itu sejak masih berusia 20 tahun. Ia bekerja dari jam 03.00 WIB dinihari hingga pukul 12.00 WIB dengan penghasilan rata-rata Rp30 ribu.

Di usia senja, Ngatinem terpaksa tetap menekuni pekerjaannya itu. Apalagi, ia butuh uang Rp150 ribu perbulan untuk membayar uang sewa kost. Ia mengaku tak punya pilihan lain.

Ngatinem pun menyatakan ketidaksetujuan atas rencana pemerintahan SBY menaikkan harga BBM. Pasalnya, di mata Ngatinem, kenaikan harga BBM akan sangat memukul usaha ekonominya.

ISNAWATI PUJAKEMUSA

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut