Polisi Tangkap 33 Aktivis Anti-korupsi Di Palu

Polisi menangkap sedikitnya 33 orang aktivis anti-korupsi saat demonstrasi damai berubah menjadi bentrokan dalam peringatan Hari Anti-korupsi Se-dunia di kota Palu, Sulawesi Tengah.

Menurut pantauan koresponden Berdikari Online, bentrokan berawal dari usaha mahasiswa untuk menggelar aksi di kantor Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah, namun pintu kantor digembok dan dijaga ketat oleh pihak kepolisian.

Sebagai bentuk kekecewaan dan bentuk perlawanan terhadap korupsi, massa melemparkan telur busuk dan buah tomat ke dalam kantor Kejaksaan. Massa juga membakar ban bekas sebagai bentuk protes.

Sayangnya, polisi berusaha membalas aksi simbolik ini dengan melepaskan tembakan peringatan dan mulai menyerang ke arah mahasiswa. Mahasiswa pun melancarkan balasan dengan melemparkan batu.

Polisi menyerang mahasiswa dan menangkap sedikitnya 31 orang aktivis. Tidak hanya itu, polisi juga menyerang mobil pembawa sound-system dan merusaknya.

Nasir, seorang aktivis dan sekaligus wakil koordinator aksi ini, menjelaskan kepada Berdikari Online bahwa pihak kepolisian bertindak sangat berlebihan saat menghadapi demonstrasi damai mahasiswa dan rakyat.

“Kami hanya mau menyampaikan dan mempertanyakan sejumlah kasus korupsi di Sulteng kepada pihak Kejaksaan. Tetapi, mereka mengunci pintu pagar dan melarang kami untuk masuk,” ujar Nasir, yang juga merupakan Ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) kota Palu.

Saat berita ini diturunkan, pihak mahasiswa masih menggelar konsolidasi untuk membahas cara untuk melepaskan kawan-kawan mereka yang ditangkap kepolisian.

SBY-Budiono Gagal Berantas Korupsi

Demonstrasi ini semua berjalan dengan damai. Sebanyak 600-an orang massa dari Aliansi masyarakat peduli bangsa Indonesia menggelar aksi damai untuk memperingati Hari Anti-korupsi Se-dunia.

Aliansi itu merupakan gabungan dari sejumlah organisasi pergerakan, yaitu LMND, Pembebasan, HMI-MPO, FNPBI, BEM STAIN, BEM Universitas Al-Khaerat, Persatuan Pemuda Pelajar Bungku, dan lain-lain.

Dalam aksi ini demonstran menyerukan penggulingan rejim SBY-Budiono dan elit politik borjuis lainnya, karena dianggap gagal memberantas korupsi dan telah menyengsarakan rakyat Indonesia dengan kebijakan neoliberalnya.

Massa juga menuntut sejumlah kasus korupsi di tingkat lokal, seperti Poso, Buol, Toli-Toli, dan Palu, segera diusut hingga tuntas.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut