Polisi Represi Aksi Tolak Kenaikan BBM, Satu Orang Warga Makassar Tewas

Ari

Aksi massa menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di kota Makassar, Sulawesi Selatan, semakin membara. Aparat kepolisian bertindak sangat represif dalam menghadapi aksi protes.

Kamis (27/11) siang tadi, mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) menggelar aksi massa menuntut pembatalan kenaikan harga BBM di kantor Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan di jalan Urip Sumohardjo km 10 Makassar. Mereka mendesak Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, menandatangani petisi berisi tuntutan pembatalan kenaikan harga BBM.

Namun, aksi massa ini berujung bentrok. Mahasiswa terlibat saling lempar batu dengan aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang dibantu aparat kepolisian. Polisi kemudian mengerahkan kendaraan taktis dan water canon untuk memukul mundur mahasiswa UMI kembali kampusnya.

Namun, mahasiswa tidak menyerah. Menjelang pukul 18.00 WITA, bentrokan makin menjadi-jadi. Dalam bentrokan itulah, seorang warga Pampang, Muhammad Arif (17), kehilangan nyawa akibat terlindas water canon.

Muhammad Arif, yang sehari-harinya bekerja sebagai ‘pak Ogah’, turut bergabung dengan aksi mahasiswa menolak kenaikan harga BBM. Ari, demikian sapaan akrabnya, turut bertempur di barisan mahasiswa melawan aparat kepolisian.

Tak lama kemudian, Ari ditemukan tergeletak di lokasi aksi. Di bagian kepalanya terdapat luka robek besar. Darahnya berceceran di jalan. Meski sempat dilarikan ke Rumah Sakit Ibnu Sina, nyawanya tak tertolong. Ari gugur dalam aksi massa menolak kenaikan harga BBM.

Aksi massa bukan hal baru bagi Ari. Ibunya, Daeng Nur, adalah aktivis Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI). Semasa hidupnya, Ari dan Ibunya sering mengikuti aksi massa yang digelar oleh SRMI. Selama aksi menolak kenaikan harga BBM marak di Makasar, Ari sering ikut bergabung dengan mahasiswa.

Beberapa saat lalu, Ari ditangkap aparat kepolisian saat terlibat aksi menolak kenaikan harga BBM bersama mahasiswa Universitas Bosowa 45 Makassar. Dan hari ini, empat hari setelah keluar dari penjara, Ari kembali bergabung dengan aksi mahasiswa.

Selain Ari, seorang anak perempuan bernama Aisyah juga menjadi korban. Saat bentrokan terjadi, Aisyah terperangkap di tengah dua kubu yang berhadap-hadapan. Saat polisi menembakkan gas air mata, mata Aisyah perih dan tidak bisa melihat. Saat itulah sebuah batu menimpuk bagian pipinya.

Hingga berita ini diturunkan, kondisi di kampus UMI masih mencekam. Polisi menembakkan gas air mata ke dalam areal kampus. Menurut saksi mata, tembakan gas air mata itu bahkan mengenai masjid kampus.

Aparat kepolisian juga sempat melakukan penyisiran ke dalam areal kampus. Sejumlah saksi mata melaporkan, sejumlah kendaraan milik mahasiswa di areal kampus UMI hangus terbakar.

Menuai Kecaman

Menyusul tindakan represif aparat kepolisian terhadap aksi massa mahasiswa UMI menolak kenaikan harga BBM, sejumlah organisasi pergerakan melancarkan kecaman keras.

Ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD) Sulawesi Selatan, Babra Kamal, menilai tindakan kepolisian sudah terlampau represif. “Sejak aksi protes menolak kenaikan harga BBM mengguncang makassar, Polisi selalu mengedepankan pendekatan represif,” katanya.

Babra menilai, pendekatan represif oleh kepolisian itu justru akan memicu amarah dan protes yang lebih luas. Menurutnya, terkait aksi penolakan kenaikan harga BBM, polisi terlihat sekali membentengi kebijakan pemerintahan Jokowi-JK.

“Polisi mestinya hanya menjaga aksi massa, bukan memberangusnya. Yang terlihat, Polisi mencoba menindas aksi perlawanan mahasiswa dan rakyat saat menolak kenaikan harga BBM,” terangnya.

Karena itu, PRD Sulsel mengutuk keras tindakan represif kepolisian saat menghadapi aksi mahasiswa dan rakyat di depan kampus UMI. PRD Sulsel juga mendesak komnas HAM, komisi III DPR RI, dan KOMPOLNAS untuk turun ke lapangan dan mengusut kejadian ini.

Kecaman serupa juga dilontarkan oleh Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Sulawesi Selatan. Ketua LMND Sulsel, Makbul Muhammad, menganggap tindakan represif kepolisian tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap hak menyampaikan pendapat di muka umum sebagaimana dijamin oleh konstitusi.

Dalam pernyataannya mewakili LMND Sulsel, Babra mengajak gerakan mahasiswa dan rakyat Sulsel untuk melayat ke rumah korban pasca Sholat Jumat besok (28/11) dan bersama-sama mengantarkan almarhum Ari ke pemakaman.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut