Polisi Menembak 14 Demonstran Saat Kerusuhan Sosial Di Tunisia

Pihak Kementerian Dalam Negeri Tunisia melaporkan bahwa polisi telah menembak mati 14 demonstran saat kerusuhan paling mematikan yang dipicu oleh pengangguran dan meningkatnya biaya hidup.

Kementerian dalam negeri menyatakan bahwa di kota barat Thala dan Kasserine tercatat lima orang yang tewas pada kerusuhan hari Sabtu dan Minggu, sementara empat orang meninggal di kota barat tengah Regueb.

Kantor berita resmi TAP melaporkan bahwa rakyat yang tewas itu menyerang fasilitas umum dengan bom molotov, kayu, dan batu.

Beberapa orang pejabat juga dilaporkan terluka, beberapa diantaranya mengalami luka serius, kata kantor berita tersebut.

Pemerintahan Presiden Zine al-Abidine Ben Ali memerintahkan kepada media untuk menutup kasus ini dan tidak melaporkan jumlah korban yang diyakini jumlahnya jauh lebih banyak.

Pemimpin oposisi, Nejib Chebbi, meminta presiden Ben Ali untuk memerintahkan kepada polisi agar menghentikan penggunaan senjata api untuk menyelamatkan nyawa rakyat tak berdosa dan untuk menghormati hak rakyat dalam menjalankan protes damai.

Tetapi pejabat pemerintah segera mengklarifikasi, dengan menyatakan bahwa polisi hanya membela diri setelah diserang oleh kerumunan massa dengan kekerasan, dan mengabaikan tembakan peringatan. Pemerintah dalam sebuah pernyataan resmi juga menyatakan bahwa “polisi tidak mengambil tindakan melebihi misinya untuk mempertahankan hukum dan ketertiban umum serta memelihara keamanan dan kebebasan warga negara yang lain.”

Masyarakat eropa telah mengeluarkan kecaman terhadap tindakan kekerasan di Tunisia akhir pekan ini.

Pejabat kebijakan luar negeri Uni-eropa, Catherine Ashton, menyatakan bahwa “pihaknya prihatin dengan kejadian beberapa hari terakhir di Tunisia dan menyerukan agar polisi membebaskan seluruh demonstran yang tertangkap.”

“Kami menyesalkan terjadinya kekerasan dan hilangnya nyawa beberapa orang serta menyatakan rasa simpati kepada keluarga korban,” ujar Ashton.

“Kami menyerukan agar semua pihak menahan diri untuk menggunakan kekerasan dan menghormati kebebasan yang paling mendasar, juga menyerukan pembebasan segera kepada para blogger, pengacara, dan wartawan yang terlibat protes,” katanya.

Akhir pekan lalu, Konfederasi Serikat Buruh Internasional (ITUC) meminta pemerintah Tunisia segera menghentika penindasan terhadap para demonstran, dan memulai dialog baru dengan serikat buruh utama, UGTT, untuk membahas penyelesaian krisis sosial yang dihadapi negeri itu.

Sekjend ITUC Sharan Burrow mengatakan: “pihak berwenang harus membuka dialog yang damai dan negosiasi untuk penyelesaian masalah yang dihadapi negeri itu.”

“Semua yang ditangkap harus dibebaskan segera dan pemerintah harus memenuhi kewajibannya di bawah hukum internasional untuk menghargai hak serikat buruh dan hak-hak kebebasan dasar lainnya,” katanya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut