Ada Upaya Menggulingkan Presiden Bolivia Evo Morales

Jelang penutupan Juli 2012, Bolivia dilanda pemogokan Polisi di berbagai tempat. Tidak hanya berhenti bekerja, polisi-polisi itu juga melancarkan kekerasan dan pengrusakan banyak sekali fasilitas umum. Bolivia dalam situasi mengcekam.

Polisi-polisi itu menuntut kenaikan gaji 300 dollar AS perbulan. Selain itu, mereka juga mendesak agar aturan disiplin diubah. Ironisnya, tuntutan kesejahteraan ini justru diarahkan untuk mendestabilisasi seluruh Bolivia.

Pemerintah pun curiga. Presiden Bolivia Evo Morales menuding “polisi pemberontak” sedang memanfaatkan keadaan untuk menciptakan kekacauan di Bolivia. Dengan begitu, mereka akan membuka jalan guna menjatuhkan Presiden Evo Morales.

Sebelumnya, pada tahun 2003, polisi juga melancarkan protes serupa. Namun, militer bertindak cepat dan memadamkan protes ini. Banyak korban jiwa akibat keterlibatan militer dalam menghentikan protes polisi.

Namun, rupanya bukan kali ini saja Polisi menganggu pemerintahan Evo Morales. Pada 27 Januari 2006, hanya beberapa jam sebelum pelantikan Evo Morales sebagai presiden, orang dikejutkan dengan ditemukannya stasiun mata-mata di lantai dasar istana kepresidenan Bolivia, Quemado Palace.

Kejadian ini diketahui pertama sekali oleh Juan Ramón Quintana, seorang menteri di kabinet Evo Morales. Ia adalah bekas mahasiswa yang belajar di AS dan menguasai ilmu sosiologi khusus soal intelijen. Menurut Quintana, stasiun mata-mata di lantai dasar kepresidenan Bolivia itu dijalankan oleh CIA dan sejumlah komando dalam kepolisian Bolivia. Ironisnya, CIA bisa menjalankan operasinya itu dengan impunitas selama berpuluh-puluh tahun.

Menurut Quintana, jauh sebelum pelantikan Evo Morales, kepolisian Bolivia sudah menjalin hubungan khusus dengan pemerintah AS. Amerika menganggap kekuatan ini sebagai salah satu basis sosialnya.

Menteri dalam negeri Bolivia, Alfredo Rada, mengatakan, selama 20 tahun terakhir kepolisian Bolivia sangat dipengaruhi oleh kedutaan besar AS di Bolivia. Dan, hubungan itu tidak sebatas di pasukan khusus yang menangani narkotika.

Kata Alfredo,  selain memberi 30 juta dollar AS kepada polisi Bolivia untuk operasi narkotika, pihak AS juga sering memberi bonus kepada kepolisian Bolivia. Hal ini, tentu saja, telah mengganggu kesatuan internal kepolisian Bolivia.

Sebab, seperti dikatakan Alfredo, tidak sedikit pula di dalam kepolisian Bolivia yang berjiwa patriotik. Berkat doktrin nasionalistik, banyak polisi Bolivia terlibat dalam nasionalisasi sejumlah perusahaan tambang dan telekomunikasi di Bolivia.

Evo Morales sendiri mengatakan, sejumlah pengusahawa swasta yang kecewa dengan kebijakan nasionalisasi telah menggunakan koneksi mereka di kepolisian untuk mempersiapkan kudeta. Polisi-polisi itu telah dipergunakan untuk berbenturan dengan rakyat dan angkata bersenjata Bolivia.

Untuk itu, Evo Morales pun menyerukan, “Ini adalah infiltrasi sayap kanan dengan menggunakan agen kepolisian. Kami menyerukan kepada saudara kami di kepolisian untuk kembali pada tanggung-jawabnya kepada rakyat, untuk menjaga keamanan, karena polisi diciptakan untuk menjaga keamanan, bukan ketidakamanan.”

Sementara itu, wakil Presiden Bolivia, Alvaro Garcia Linera, memperingatkan, sejumlah orang dari partai sayap kanan yang kalah pemilu telah menyusup dalam barisan kepolisian, mengenakan topeng, dan mendistribusikan senjata.

Bolivia sedang dalam skenario kudeta. Kita tahu, beberapa saat lalu Presiden Paraguay yang terpilih secara demokratis, Fernando Lugo, digulingkan oleh parlemen sayap kanan. Diketahui, AS sangat aktif mengkoordinasikan parlemen sayap kanan Paraguay untuk merancang kudeta terhadap pastor kaum miskin itu.

Sebelumnya, di Venezuela, Hugo Chavez juga menuding adanya upaya destabilisasi terhadap pemerintahannya. Selain menggunakan media, sayap kanan Venezuela—yang disokong penuh oleh AS—juga berkampanye tentang ketidakamanan di Venezuela.

Sebelumnya, pada Oktober 2010, Presiden Rafael Correa nyaris dikudeta oleh pasukan kepolisian Ekuador—yang dibelakangnya terlibat politisi sayap kanan dan kepentingan Amerika Serikat. Berkat gerakan rakyat, Presiden Rafael Correa berhasil mempertahankan kekuasannya dari kudeta kepolisian.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut