Polisi Chile Gunakan Kekerasan Saat Bubarkan Aksi Damai Mahasiswa

Polisi anti-huruhara Chile menggunakan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan sejumlah demonstran saat aksi massa mahasiswa menuntut reformasi pendidikan.

Sementara itu, di tempat lain, ratusan ribu mahasiswa dan serikat buruh berkumpul di pusat kota Santiago, Ibukota Chile. Mahasiswa membawa spanduk bertuliskan “Telah tiba waktunya untuk melawan, bukan negosiasi”.

Menurut laporan media setempat, bentrokan terjadi antara polisi dan sejumlah demonstran yang mengenakan topeng. Pertempuran jalanan terjadi di sejumlah ruas jalanan kota Santiago.

Polisi mengerahkan meriam air dan water canon untuk membubarkan demonstran. Tetapi pada pemuda, umumnya mengenakan penutup muka, memberikan perlawanan dengan lemparan batu.

Sedikitnya 273 demonstran ditahan, termasuk 73 orang di Santiago, dan 23 anggota kepolisian dilaporkan terluka.

Bentrokan ini adalah kesekian kalinya. Pekan lalu, bentrokan juga terjadi dan menyebabkan 900-an orang mahasiswa ditangka. Di pihak kepolisian terluka 90-an orang.

Aksi protes menentang privatisasi ini sudah memasuki bulan ketiga. Tetapi pemerintah kelihatannya belum mundur dari proposalnya. Sementara itu, gerakan protes mahasiswa telah mendapat dukungan luas dari rakyat Chile.

Menurut laporan sebuah media lokal, tingkat popularitas presiden Chile Sebastian Pinera telah merosot hingga 26%. Ini adalah persentase terendah dari semua presiden Chile sejak tahun 1999 hingga sekarang.

Presiden Federasi Mahasiswa Universitas Chile, Camila Vallejo, mengatakan 150.000 orang berbaris di jalan-jalan utama kota Santiago karena pemerintah mengeluarkan larangan menggelar aksi. Vallejo menggambarkan aksi protes ini sebagai yang terbesar pasca bentrokan pekan lalu.

Sejumlah kampus sudah berhasil diambil-alih dan diduduki oleh mahasiswa. Presiden Federasi Serikat Guru, Jaime Gajardo, menegaskan bahwa mahasiswa telah menyerukan digelarnya sebuah referendum, sebagai jalan untuk mengakhiri kekuasaan Sebastian Pinera yang sudah inkonstitusional.

Minggu lalu, protes damai mahasiswa telah ditindas dengan brutal oleh aparat kepolisian. Padahal, mahasiswa hanya hendak berbaris di depan istana presiden dan menyampaikan pernyataan sikap di sebuah stasiun TV.

Aksi itu adalah aksi damai. Mahasiswa berbaris sambil mengenakan kostum para para superhero. Mereka melakukan ciuman massal. Tetapi semuanya berubah menjadi bentrokan tatkala Polisi menghalangi mereka bergerak ke istana.

Perlawanan mahasiswa telah menarik dukungan masyarakat luas. Sementara rejim kanan Sebastian Pinera berusaha menindas aksi perlawanan, mahasiswa telah mengajukan referendum umum sebagai satu-satunya solusi.

Jika referendum benar-benar digelar, dan rakyat termobilisasi untuk mendukung proposal mahasiswa, maka pemerintahan kanan Chile ini akan jatuh ke dalam krisis.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut