Polisi Chile Bubarkan Aksi Mahasiswa Menuntut Pendidikan Gratis

Pihak kepolisian Chile menggunakan water-canon dan gas air mata untuk membubarkan aksi massa ribuan mahasiswa di kota Santiago, Rabu (8/8/2012). Ribuan mahasiswa itu menuntut pendidikan gratis dan berkualitas.

Laporan media setempat menyebutkan, sedikitnya 75 mahasiswa ditangkap dan 49 polisi terluka. Pejabat setempat menuding mahasiswa telah memulai aksi-aksi kekerasan, seperti menjarah toko, merusak fasilitas umum dengan tongkat, dan melempar bom molotov.

Namun versi mahasiswa menyebutkan, aksi ribuan mahasiswa sebetulnya berjalan sangat damai. Hanya saja, sekelompok pemuda bertopeng telah memulai konfrontasi dengan polisi.

Konfrontasi tak terhindarkan tatkala pemuda bertopeng itu membakar tiga bus kota. Polisi menggunakan alasan ini untuk membubarkan protes damai. Bentrokan pun meluas di jalan-jalan utama kota Santiago.

“Kami di sini melakukan aksi untuk menuntut pendidikan gratis,” kata seorang pengamat HAM kepada media lokal. “Ada ketimpangan di sini (Chile). Ada banyak kekayaan, tetapi didistribusikan secara salah. Yang kaya bertambah kaya, sedangkan si miskin bertambah miskin.”

Tuntutan pendidikan gratis terus menggema di Chile sejak tahun lalu. Tuntutan itu tak hanya disuarakan oleh mahasiswa dan pelajar, namun sudah menarik para professor, serikat buruh, aktivis HAM, dan masyarakat umum. Aksi massa tahun lalu disebut-sebut terbesar pasca kejatuhan diktator Pinochet.

Salah satu inisiator mobilisasi massa ini adalah Federasi Mahasiswa Universitas Chile (FECH). Camila Vallejo, Presiden FECH tahun lalu, menjadi bintang kebangkitan gerakan mahasiswa ini. Namanya dikenal di seantero dunia.

Sayang, meski gerakan sudah membesar dan meluas, namun pemerintahan Sebastian Pinera tak juga merespon. Dialog antara mahasiswa dan pemerintah telah menemui jalan buntu. Mahasiswa menganggap “parlemen jalanan” sebagai satu-satunya solusi.

Popularitas Presiden Pinera makin merosot. Apalagi ia merespon aksi protes ini dengan berbagai langkah represif. Salah satunya adalah dengan mengkriminalkan segala bentuk aksi protes.

Tetapi mahasiswa tak kenal menyerah. Pada hari Selasa, 7 Agustus 2012, puluhan pelajar dari Majelis Pelajar SMU (ACES) menduduki kantor pusat Partai Perhimpunan Demokratik (UDI). Partai sayap kanan ini dianggap telah mencuri anggaran kota yang mestinya diperuntukkan untuk pendidikan.

Polisi membubarkan paksa aksi pendudukan itu. Juru bicara ACES mengatakan, tujuh orang pelajar ditangkap, termasuk seorang wanita hamil. Mereka dikenakan “Undang-Undang Hinzpeter”—UU yang diajukan oleh Menteri Dalam Negeri Chile, Rodrigo Hinzpeter, yang menghukum setiap demonstran karena melakukan aksi pendudukan secara illegal terhadap fasilitas publik atau privat.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut