Pimpinan Partai Kiri Tunisia Tewas Ditembak

Chokri Belaid, Sekretaris Jenderal Partai Patriotik Demokratik Tunisia, ditembak di depan rumahnya di  El Menzah, dekat Tunis, tanggal 6 Februari kemarin. Empat peluru menembus dada dan kepalanya.

Belaid meninggal di rumah sakit. Keluarganya mengaku, sebelum terjadi pembunuhan itu, mereka sudah berulangkali menerima ancaman pembunuhan.

Belum diketahui secara pasti siapa pelaku penembakan dan apa motif politiknya. Namun, banyak yang pihak yang menyalahkan partai berkuasa, Ennahda, dan kelompok islamis sebagai pihak yang bertanggung-jawab atas serangan itu.

Omar bin Ali, seorang pemimpin serikat buruh, menghadiri pemakaman Belaid dan mengatakan, “kelompok islamis harus bertanggung-jawab atas kematian Beleid.”

Omar Bin Ali mengklaim, seruan pembunuhan terhadap Belaid sudah sering disuarakan oleh kelompok islamis di masjid-masjid.

Begitu berita pembunuhan Belaid tersebar, protes meletus di berbagai penjuru Tunisia. Oposisi utama Tunisia, Front Kerakyatan, yang dimana Partai Patriotik Demokratik tergabung di dalamnya, keluar dari Majelis Nasional dan menyerukan pemogokan umum.

Ribuan pendukung Belaid menggelar aksi protes di kantor Kementerian Dalam Negeri Tunisia. Di kota Sousse, polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan demonstran. Bahkan, di beberapa kota kantor partai Ennahda diserang.

Tokoh Oposisi Paling Kritis

Shokri Belaid adalah seorang pencara progressif. Dia lahir di Jebel Jelloud, Tunisia, pada tahun 1964. Di bawah kediktatoran Zine El Abidine Ben Ali, Belaid menjadi pengeritik paling keras dan pedas.

Dia juga aktor penting dalam Revolusi Tunisia 2010-2011. Revolusi Tunisia inilah yang menjadi tembakan salvo bagi meletusnya revolusi serupa di Mesir dan dunia Arab lainnya.

Shokri sendiri termasuk pucuk pimpinan Front Kerakyatan, aliansi yang melibatkan 21 partai oposisi, termasuk Partai Patriotik Demokratik.

Dalam pemilu Tunisia pada Oktober 2011 lalu, partai Ennahda (pencerahan) berhasil menang dengan 42 persen kursi di parlemen. Partai Islam moderat itu lantas berkoalisi dengan dua partai sekuler, Kongres Marzouki untuk Republik dan  Ettakatol.

Dalam situasi itu, Belaid dan partainya menjadi oposisi. Ia menuding Ennahda telah menyelewengkan revolusi. “Partai itu telah memimpin negara ke dalam terowongan gelap,” katanya kepada koran harian Tunisia “Le Temps”.

Belaid juga menuding rezim berkuasa dikendalikan oleh kekuatan asing. Tak hanya itu, pengaruh kelompok islamis dalam pemerintahan telah menggelamkan Tunisia dalam ancaman terhadap demokrasi.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut