Pilpres 2014: Menangkan Cita-Cita Kemerdekaan Nasional

Indonesia.jpg

Besok, 9 Juli 2014, rakyat Indonesia akan menentukan kepemimpinan nasional yang menahkodai perjalanan bangsa ini untuk lima tahun kedepan.

Pemilu Presiden (Pilpres) kali ini memang menarik. Baru kali ini ada ajang politik yang berhasil menarik antusiasme dan partisipasi politik massa rakyat begitu besar. Isu-isu politik dalam Pilpres, termasuk isian kampanye para capres, menjadi bahan perdebatan politik hingga ke akar rumput.

Anak-anak muda, yang selama ini cenderung skeptis terhadap segala hal yang berbau politik, turut bahu-membahu menyemarakkan Pilpres ini dengan berbagai energi kreatif mereka: poster, komik, game online, parodi, lagu dukungan, dan lain-lain.

Para seniman, yang selama ini sibuk bersolek di layar kaca, juga tidak mau ketinggalan. Mereka berani menyatakan sikap politik mereka secara terbuka disertai alasannya. Tak hanya itu, mereka juga turut menyumbangkan keahlian untuk memperkaya dan menyemarakkan ajang politik ini.

Selain itu, Pilpres 2014 ini juga berhasil mendorong kebangkitan kembali konsep dan gagasan-gagasan revolusi nasional, seperti konsep ekonomi berdikari, revolusi mental, dan lain-lain. Simbol-simbol dari revolusi nasional, seperti peci dan panggilan ‘Bung’, juga terangkat kembali di panggung politik kita.

Dan yang lebih penting lagi: kedua Calon Presiden (Capres) yang berkompetisi sama-sama mengusung isu kemandirian nasional sebagai jalan keluar atas persoalan bangsa saat ini. Keduanya juga berkomitmen untuk melakukan koreksi terhadap sistim ekonomi politik sekarang, yakni neoliberalisme, yang menjadi biang kerok dari hampir semua persoalan yang mendera bangsa kita saat ini.

Yang patut disayangkan, kampanye berbau fitnah dan propaganda pecah-belah juga bertiup sangat kencang saat kampanye Pilpres lalu. Tak hanya itu, nafsu untuk saling jegal-menjegal dan gontok-gontokan juga sangat kuat di kalangan massa pendukung yang telah terasuki oleh penyakit fanatisme. Padahal, kalau hal semacam ini dibiarkan, bangsa ini bisa terkoyak-koyak oleh konflik horizontal.

Pada tahun 1966, melalui pidato berjudul “Jangan Sekali-Kali Meninggalkan Sejarah (Jasmerah)”, Bung Karno sudah memperingatkan: “menjelang dan dalam pemilihan umum, janganlah kita lupa daratan! jangan kita sengit-sengitan! jangan kita fitnah-fitnahan! jangan kita jegal-jegalan! jangan kita gontok-gontokan! musuh revolusi selalu menghendaki ini: musuh dari luar, ya musuh dari dalam juga.”

Memang, menguatnya isu kemandirian ekonomi selama kampanye Pilpres ini sangat mengkhawatirkan pihak tertentu, terutama pemilik modal asing dan segelintir elit di dalam negeri, yang selama ini diuntungkan oleh keterjajahan negara kita secara ekonomi, politik, dan sosial-budaya. Maklum, isu kemandirian ekonomi tersebut berpotensi ancaman bagi keberlangsungan bisnis mereka di negeri kita.

Di sisi lain, bagi kita, isu kemandirian ekonomi tersebut merupakan pintu masuk untuk mengoreksi kesalahan dalam pembangunan ekonomi dan pengelolaan kekayaan nasional kita. Artinya, kita punya kepentingan untuk memastikan para capres untuk konsisten mengusung isu kemandirian ekonomi ini dan merealisasikannya dalam bentuk kebijakan ketika mereka berkuasa nantinya.

Apalagi, dalam sebulan kedepan, bangsa ini akan memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan yang ke-69. Usia kemerdekaan itu bukanlah waktu yang singkat. Namun demikian, cita-cita kemerdekaan nasional, yakni berdaulat di bidang politik, berdikari di lapangan ekonomi, dan berkepribadian secara budaya, belum terwujud sepenuhnya hingga sekarang.

Dalam konteks itu, sangat tepat jika momentum Pilpres 2014 bisa dijadikan salah satu lapangan politik untuk memperjuangkan cita-cita kemerdekaan nasional. Apalagi, para capres sudah menciptakan peluang itu melalui kampanye-kampanye mereka yang mengusung kemandirian nasional dan ekonomi berdikari. Dalam konteks itu, satu hal yang harus digaris-bawahi: siapapun capres yang terpilih besok, mereka adalah representasi dari kekuatan nasionalis dan dikehendaki rakyat.

Nah, untuk kedepan, sekaligus memastikan capres terpilih konsisten menjalankan janji politiknya, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan: pertama, mewadahi antusiasme politik massa yang besar menjadi organisasi-organisasi rakyat: serikat buruh, serikat petani, serikat rakyat miskin, serikat pemuda, serikat pekerja seni, dan lain-lain; kedua, mengupayakan penyatuan kaum nasionalis, termasuk dua kubu capres yang bersaing, dalam kerangka mengawal program kemandirian nasional hingga pelaksanaannya; dan ketiga, mengawal dan mengontrol pemerintahan nasional kedepan agar benar-benar tetap berada dalam koridor memperjuangkan cita-cita kemerdekaan nasional.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut