Pilpres 2014 dan Piala Dunia

Seru dan sudah pasti sengit, manakala melihat pertarungan negara-negara yang menjadi peserta ajang sepakbola 4 tahunan atau yang biasa disebut World Cup. Penonton Piala Dunia tidak henti-hentinya disuguhkan kejadian-kejadian yang kadangkala diluar prediksi banyak orang. Mulai dari babak kualifikasi grup, banyak tim-tim unggulan yang pulang lebih dulu, seperti sang juara bertahan Spanyol, Itali, Inggris, Portugal dan lainnya. Hingga yang tak kalah dramatisnya, ketika Yunani mengalahkan Pantai Gading dengan skor 2-1 melalui titik penalti dimenit 91.

Tak hanya itu, serunya piala dunia juga sangat terasa ketika memasuki babak 16 besar. Brazil, yang menjadi tuan rumah dan sekarang ini berhadapan dengan protes di dalam negerinya, berhadapan dengan Chili. Walaupun menang, tetapi degup jantung rakyat Brazil tentunya terus menerus terpacu ketika kemenangan tim mereka harus didapat lewat adu penalti.

Begitupun pertandingan yang lain. Sebut saja sengitnya pertandingan antara Belgia vs Amerika Serikat yang harus menyelesaikan permainan mereka lewat babak II ekstra time dengan kemenangan 2-1 untuk Belgia. Juga serunya pertandingan antata Argentina Vs Swiss. Meskipun didalam tim Argentina ada Lionel Messi, yang banyak menyandang gelar pemain terbaik dunia dalam beberapa tahun terakhir, namun mereka baru bisa menjebol gawang Swiss dibabak II ekstra time menit 118. Sungguh sebuah pertandingan yang sulit buat tim sekelas Argentina.

Keseruan dan sengitnya pertarungan di Piala Dunia kali ini juga terlihat dalam arena pertarungan Pemilihan Presiden 2014. Hampir tiap hari, baik lewat media televisi, cetak, online, media sosial dan bahkan langsung gerilya dilapangan, para tim pemenangan mengolah isu sedemikian rupa layaknya Messi di tim Argentina yang selalu terus menerus mengolah bola dan menciptakan peluang bagi timnya untuk menang.

Berbagai macam taktik olahan isu dikeluarkan oleh masing-masing tim pemenangan. Mulai dari yang bersangkutan dengan pribadi masing-masing capres atau cawapres sampai pada persoalan program dari masing-masing kandidat. Dalam beberapa kali debat capres, terutama terkait visi membangun kemandirian bangsa, ada hal menarik yang pernah diucapkan oleh calon Presiden Prabowo Subianto, yakni soal kebocoran kekayaan negara kita. Meskipun banyak menimbulkan interpretasi yang berbeda-beda, namun kalau dihubungkan dengan situasi yang terjadi dalam pengolahan SDA bangsa saat ini, maka isu ini tepat adanya untuk diperdebatkan, baik oleh tim pemenangan Prabowo-Hatta dengan menambahkan data-data soal kebocoran tersebut ataupun oleh tim pemenangan Jokowi-JK dengan mengetengahkan tema yang kurang lebih sama dengan yang telah diucapkan oleh pesaingnya tersebut.

Sejatinya, dengan hanya 2 pasang kandidat, maka debat soal program masing-masing capres seharusnya lebih dikedepankan ketimbang mengeksploitasi persoalan pribadi masing-masing capres. Apalagi mengeksploitasi isu SARA yang bisa memecah-belah persatuan nasional.

Sama seperti dalam permainan sepak bola yang harus cerdik memainkan taktik serta tangguh memanfaatkan waktu untuk bermain minimal dalam rentang waktu 90 menit atau bahkan bisa sampai 120 menit, maka dalam arena pertarungan pilpres kali ini, kecermatan dalam menempatkan taktik menjadi poin utama untuk memenangkan pertarungan. Harapan kita, dan tentunya menjadi harapan rakyat Indonesia secara umum, bahwa taktik yang digunakan adalah taktik yang bisa membawa masyarakat Indonesia bisa paham bahwa problem pokok bangsa ini adalah Imperialisme, bukan kemudian hadir dengan taktik “DIVING” seperti yang dilakukan oleh penyerang Belanda Arjen Robben saat melawan Meksiko di ajang Piala Dunia kali 2014 ini.

Alif Kamal
Staf Deputi Politik KPP-PRD

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut