Pilkada Dan Harapan Rakyat Jakarta

Banyak orang yang tak percaya dengan perubahan melalui kotak suara. Terlebih, pada berbagai ajang pemilihan, kandidat yang disediakan itu-itu saja dan sebagian besar punya trackrecord sebagai “orang gagal”. Apakah begitu juga dengan pilkada DKI Jakarta?

Besok, 11 Juli 2012, Jakarta akan menggelar pilkada. Ini momentum sangat penting bagi semua pihak. Bagi rakyat Jakarta, momentum pilkada membuka harapan baru. Mereka diberi kesempatan memilih 6 pasang kandidat (pilkada sebelumnya cuma 2 pasang). Konfigurasi politiknya pun beragam: 4 pasang diusung oleh partai politik, sedangkan 2 pasang diusung oleh independen.

Lebih dari itu, pilkada DKI juga menghadirkan sosok-sosok luar Jakarta. Ini membuktikan kalau Jakarta masih dipandang sebagai simbol Republik. Karena itu, kandidat luar Jakarta itu harus dianggap anak-anak bangsa dari berbagai daerah yang merasa punya tanggung-jawab besar untuk memajukan jakarta. Ini satu hal yang patut diapresiasi.

Banyak kandidat memang diharapkan. Dengan begitu, ada banyak gagasan yang bisa dipertarungkan. Sebab, seperti diketahui, Jakarta juga memendam begitu banyak persoalan: kemiskinan, pengangguran, layanan publik yang buruk, banjir, kemacetan, kekerasan, diskriminasi, dan lain-lain.

Supaya pilkada Jakarta bisa menjadi arena pertarungan gagasan dan program, dan agar rakyat tidak terjebak pada janji-janji palsu, maka harus memperjuangkan beberapa hal berikut:

Pertama, pilkada  harus dijalankan secara jurdil dan demokratis. Untuk itu, pilkada harus dipastikan jauh dari politik uang, kecurangan (mark-up DPT, mobilisasi birokrasi, manipulasi suara), bebas dari tekanan dan intimidasi, dan persekongkolan para penyelenggara pilkada.

Seluruh rakyat di DKI jakarta harus dipastikan hak politiknya terpenuhi. Oleh karena itu, tidak dibenarkan ada penghilangan hak politik rakyat karena alasan-alasan administrasi kependudukan. Ini yang dialami oleh puluhan ribu warga Tanah Merah, Jakarta Utara, yang kehilangan hak pilih karena tidak punya KTP.

Kedua, rakyat harus memilih kandidat yang menentang neoliberalisme. Sebab, seperti kita ketahui, sebagian besar persoalan rakyat di Jakarta tidak bisa dilepaskan dari problem neoliberalisme.

Mana mungkin, misalnya, memperjuangkan pendidikan dan kesehatan gratis, jikalau kandidat bersangkutan juga pendukung neoliberal. Sebab, neoliberalisme itulah yang menghendaki pendidikan dan kesehatan diprivatisasi.

Rakyat perlu memeriksa sikap-sikap politik kandidat terhadap  sejumlah isu: bagaimana sikap si kandidat terkait pengelolaan kekayaan alam? Bagaimana sikapnya terhadap pasar rakyat atau pasar tradisional? Bagaimana sikapnya terhadap industri menengah dan kecil? Bagaimana sikapnya tentang pemenuhan hak dasar (tugas negara atau pasar)? Dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya.

Ketiga, rakyat harus memilih kandidat yang punya keinginan mempraktekkan bentuk politik  yang berbeda. Di sini, “politik berbeda” artinya meninggalkan atau keluar dari gaya berpolitik tradisional yang korup, elitis, formalistik, super-mewah, dan klientalistik.

Rakyat butuh pemimpin yang sederhana dan tidak berjarak dengan rakyat. Dan, yang lebih penting, Jakarta butuh pemimpin yang menempatkan rakyat sebagai “protagonis” dalam pemajuan Jakarta. Pemimpin yang menarik partisipasi politik rakyat untuk terlibat dalam berbagai perumusan kebijakan pembangunan kota.

Keempat, pilihlah kandidat yang punya cita-cita politik untuk ‘mengistimewakan massa rakyat’. Prioritas mereka adalah mengangkat orang atau sektor-sektor sosial yang dulunya ditinggalkan dan dipinggirkan. Meskipun, tentu saja, tidak meninggalkan keprihatinan terhadap warga kota secara keseluruhan.

Kelima, untuk memperjuangkan Jakarta baru, harus diyakini bahwa hal itu tidak cukup dengan “ganti sopir”. Kita tidak mungkin menggunakan kendaraan yang sama  yang pernah dipergunakan kaum neoliberal. Untuk itu, perjuangan menuju Jakarta  baru memerlukan kendaraan baru pula. Jika kendaraan sebelumnya hanya ditumpangi segelintir elit dan kaum kaya, maka kendaraan baru ini haruslah menampung massa-rakyat.

Momentum pilkada tidak bisa dilewatkan. Gunakan hak politik anda sebaik-baiknya dan pastikan tertuju pada kandidat yang tepat. Jangan pilih yang sudah kadaluarsa dan terbukti gagal. Tapi, jika anda tidak punya pilihan, maka anda harus mengorganisir diri dan komunitas anda untuk memperjuangkan perubahan lewat jalur lain. Jangan hanya mengutuki keadaan, tetapi bertindaklah!

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut