Pieter Erberveld Dan Kisah Hukuman Sadis Jaman Hindia-Belanda

Pagi itu, 5 Februari 2012, saya menemukan buku usang dari lemari seorang teman: Jakarta Tempo Doeloe. Buku itu banyak berkisah tentang asal usul sejumlah tempat dan peristiwa di Jakarta.

Akhirnya, dengan berbekal petunjuk buku itu, saya berusaha melacak sebuah tempat bernama “Kampung Pecah Kulit”. Namanya yang cukup aneh memancing saya untuk mengetahui lebih banyak tentang kampung ini.

Kampung Pecah Kulit, yang terletak di Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta Pusat, punya catatan hitam tentang model penghukuman terhadap ‘pemberontak’ di jaman Hindia-Belanda. Korbannya adalah Pieter Erberveld, seorang pengusaha keturunan Belanda-Jerman, yang dituding melakukan ‘makar’ terhadap pemerintah Hindia-Belanda.

Ayah Pieter adalah seorang pengusaha kulit di kota Elberfeld, Jerman. Sedangkan ibunya konon berasal dari Siam (Thailand). Namun, sejarahwan Betawi, Alwi Shihab, berpendapat lain: Ibu Pieter adalah seorang Jawa.

Pieter sendiri adalah seorang pengusaha kaya. Ia tinggal di sebuah daerah kawasan elit bernama “Jacatraweg”. Banyak orang-orang kaya Belanda, termasuk pejabat Hindia-Belanda, tinggal di kawasan itu.

Kekayaannya Pieter diwariskan dari ayahnya Pieter Elberveld senior. Pada tahun 1670-an, Pieter Elberveld senior merantau ke Amsterdam. Di sana, ia bergabung dengan VOC dan menjadi prajurit kavaleri. Konon, Elberveld juga orang kepercayaan Cornelis Speelman, Gubernur Jendral Hindia-Belanda pada tahun 16811684. Dekat dengan kekuasaan, Pieter Elberveld senior cepat kaya-raya.

Pada tahun 1708, pemerintah VOC menyita ratusan hektar tanah milik Pieter. Pihak VOC beralasan, tanah milik Pieter tersebut tidak punya akte yang disahkan oleh penguasa VOC. Konon, ketika penyitaan berlangsung, banyak kaum pribumi yang memihak kepada Pieter.

Namun, bukannya melemah, pemerintah VOC malah makin garang. Gubernur Joan van Hoorn menambah hukuman Pieter: 3300 ikat padi. Sejak kejadian itu, Pieter Erberveld menyimpan rasa dendam terhadap VOC.

Mungkin saja, karena kedekatan Pieter Elberverld dengan Speelman. Speelman sendiri memimpin sebuah komplotan rahasia bernama Monsterverbond. Komplotan ini banyak mengeruk kekayaan VOC.

Bersamaan dengan itu, Pieter juga makin mendekat dengan kaum pribumi. Bersama dengan seorang ningrat asal Banten, Raden Ateng Kartadriya, Pieter Erberveld merancang pemberontakan. Sedangkan eksiklopedi Jakarta menyebutkan bahwa Raden Kertadira berasal dari Jawa Tengah, keturunan Sunan Kalijaga Adilangu. Ia masuk ke Jakarta tahun 1718, melalui Cirebon dan Bandung, dan sejak tahun 1690 banyak membantu perjuangan rakyat.

Menurut Alwi Shihab dalam “Jakarta Kota Banjir”, selain berharap dukungan dari kerajaan Banten, gerakan pemberontakan juga berharap dukungan banyak pihak. Raden Kartadriya sendiri mengaku sudah mempersiapkan 17.000 orang untuk memasuki Jakarta.

Namun, belum juga rencana pemberontakan ini dijalankan, intelijen VOC sudah berhasil mengendusnya. Melalui pengakuan seorang budak Pieter, VOC bergerak cepat untuk menangkap Pieter, Raden Kartadriya, dan 23 orang pengikutnya.

Lalu, setelah proses di Collage van Heemradeen Schepenen, Pieter Erberdveld dan 24 orang pribumi dijatuhi hukuman mati. Proses eksekusi dilakukan di sebuah lapangan di dekat rumah Pieter.

Eksekusi terhadap Pieter sungguh sangat biadab dan kejam. Tangan dan kaki Pieter diikat dengan tali dan masing-masing dihubungkan dengan empat ekor kuda yang menghadap empat penjuru. Dengan sekali hentakan, keempat kuda itu berlarian terpencar. Tubuh Pieter terbelah atau terpecah menjadi empat bagian.

Namun, kesadisan pemerintah Hindia-Belanda belum berhenti di situ. Kepala Pieter dipenggal dengan pedang, dan kemudian ditancapkan di atas sebuah tonggak. Ini kemudian menjadi tugu peringatan terhadap siapapun yang berani memberontak terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Monumen peringatan itu diberi semacam papan peringatan yang dibuat dari batu berwarna biru berukuran 1 x 2 meter. Pada batu itu tertera sembilan baris tulisan berbahasa belanda. Lalu, di bawah bahasa Belanda itu, terdapat pula terjemahannya dalam bahasa Jawa.

Peringatan itu berbunyi (dalam bahasa Indonesia): “Sebagai kenang-kenangan yang menjijikan atas dihukumnya sang pengkhianat: Pieter Erberveld. Karena itu dipermaklumkan kepada siapapun, mulai sekarang tidak diperkenankan untuk membangun dengan kayu, meletakan batu bata dan menanam apapun di tempat ini dan sekitarnya. Batavia, 14 April 1722.

Sejak itu, lokasi tempat eksekusi Pieter Erberveld itu diberi nama: Kampung Pecah Kulit.

ANNA YULIA

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut