Petani Kolombia Memprotes Perdagangan Bebas

Sudah tiga minggu lebih petani Kolombia, yang didukung oleh sopir bus dan truk, penambang, mahasiswa, menggelar aksi protes menentang kebijakan perdagangan bebas.

Aksi protes itu berkecamuk di hampir semua kota di Kolombia, seperti Boyacá, Cundinamarca, Cauca, Huila, Putumayo, Caldas, Cundinamarca, dan Nariño. Tak hanya itu, petani juga memblokade setidaknya 40-an jalan raya di seluruh Kolombia.

Salah satu kebijakan yang paling ditolak petani adalah Undang-Undang nomor 970 tentang kontrol benih, yang memaksakan pemberlakuan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) terhadap benih.

Lantaran UU ini, sejumlah gudang penyimpanan benih padi, yang dipersiapkan untuk musim tanam berikutnya, dihancurkan. Hal ini terjadi di Campo Alegre dan kota-kota lainnya pada tahun 2012. Kejadian inilah yang memicu perlawanan petani.

Pada hari Minggu, 8 September lalu, perwakilan petani bertemu dengan Wakil Presiden Kolombia Angelino Garzón. Pertemuan itu berisi kesepakatan mengenai penundaan pemberlakuan UU nomor 970 tentang kontrol benih.

Tidak hanya itu, pemerintah juga menjanjikan pembebasan 648 orang demonstran yang ditangkap selama protes. Pemerintah juga menjanjikan akan membuat UU pertambangan yang baru.

Dengan ditundanya pemberlakuan UU kontrol benih itu, petani merasa meraih kemenangan kecil atas aksi protes mereka. Bagi petani, gerakan protes telah berhasil memaksa pemerintah untuk duduk semeja dengan mereka dan mendiskusikan persoalan.

Meski demikian, aksi protes masih berlangsung di sejumlah wilayah. Namun, dalam banyak kasus, pemerintah berhasil dipaksa duduk untuk bernegosiasi dengan petani.

Petani sendiri membawa beberapa tuntutan dalam proses negosiasi, seperti penetapan harga produk pertanian lokal secara independen dari pasar internasional, penurunan harga bahan bakar dan tarif tol guna menekan harga pupuk dan peralatan pertanian, pembatalan kebijakan yang merugikan petani (UU kontrol benih), penghentian impor pangan, penangguhan perjanjian perdagangan bebas dengan negara-negara Eropa, Amerika Serikat, China, dan lain-lain, penghapusan utang petani kecil dan menengah, kredit lunak bagi petani, partisipasi rakyat dalam kebijakan pemberian ijin pertambangan, dan lain-lain.

Selain itu, untuk memenuhi aspirasi rakyat secara umum, mereka juga mendesak pemerintah untuk berinvestasi dalam pendidikan, perawatan kesehatan, pelayanan publik, dan perumahan yang terjangkau. Banyak dari tuntutan ini mendobrak langsung kebijakan neoliberal yang diadopsi oleh Presiden Manuel Santos.

Akibat aksi petani yang sudah berminggu-minggu ini, yang didukung oleh sektor luas masyarakat Kolombia, popularitas rezim Santos merosot hingga 21%. Artinya, lebih dari separuh rakyat Kolombia sudah tidak percaya dengan rezim yang sangat neoliberal ini.

Polisi melaporkan ada 648 orang yang ditangkap selama aksi protes. Organisasi petani mengklaim ada 262  anggota mereka yang ditahan secara ilegal. Ada 485 terluka dan 12 meninggal saat aksi protes.

Bagi banyak pihak, situasi ini sangat bertolak belakang dengan situasi Kolombia sebelumnya. Dulu, seperti dilaporkan oleh kelompok HAM, aktivis petani dan serikat buruh sering menjadi korban penculikan, penyiksaan, dan pembunuhan oleh aparat keamanan dan paramiliter.

Represi terhadap kaum tani di Kolombia telah berlangsung selama puluhan tahun. Bahkan, kekerasan itu diorganisasikan melalui penggunaan paramiliter yang membunuh dan menteror kaum tani yang berlawan.

Consultancy for Human Rights and Displacement (CODHES), sebuah kelompok HAM di Kolombia, melaporkan bahwa sekitar 5,5 juta petani telah meninggalkan tanah dan rumah mereka sejak 1985 hingga tahun 2012 lalu.

Selain konflik agraria yang dipicu oleh perampasan lahan oleh perusahaan-perusahaan swasta, petani Kolombia juga makin dirugikan oleh perdagangan bebas yang merusak daya saing mereka terhadap pangan impor.

Padahal, jumlah mereka yang bergantung di sektor pertanian cukup besar. Data UNDP menyebutkan, sebanyak 30% dari 47 juta penduduk Kolombia tinggal di pedesaan. Sebanyak 9 hingga 11 juta orang menjadikan pertanian sebagai sumber kehidupan.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut