Petani Bojonegoro Beri Hadiah Tumpeng Ke Anggota Dewan

Ditengah pagi buta, petani-petani dari desa Nganut, Kec. Dander dan desa Kepoh Kidul Kec. Kedung Adem, Bojonegoro, Jawa Timur, nampak sibuk. Pagi itu, Senin (24/9), para petani mengumpulkan jagung, buah kacang, padi, kacang panjang, dan juga tembakau sebagai bahan tumpeng untuk menyambut Hari Tani Nasional.

Puluhan petani ini melakukan aksi teatrikal dengan membawa tumpeng dan mendorong sepeda motornya. Mereka long march dari Bundaran Sumbang menuju gedung DPRD Bojonegoro yang berada di Jalan Trunojoyo.

Kordinator Lapangan, Mustaqim mengatakan bahwa aksi teatrikal ini adalah simbol bahwa kehidupan bertani saat ini sangatlah sulit akibat biaya produksi pertanian yang semakin tinggi.

“Tumpeng ini bertanda telah matinya sektor pertanian kita. Petani tidak dapat lagi memproduksi dan menyediakan bahan pangan yang layak dan murah untuk kebutuhan rakyat.” Ujarnya.

Heri, seorang petani dari Desa Nganut nampak kesal, karena menurutnya ditengah harga-harga pangan yang terus naik, pemerintah malah tidak peduli.

“Saya ikut dalam aksi ini, karena kesal dengan pemerintah yang tidak pernah melindungi harga pertanian yang dihasilkan oleh petani.” Ungkap Heri saat ditanya oleh kontributor Berdikari Online.

Sedangkan Rustam, petani dari Kepoh Kidul ini nampak kecewa berat kepada pemerintah, pasalnya, sudah lima tahun bertani Ia tidak sepeserpun memperoleh bantuan pertanian. Sebaliknya, menjadi korban kebijakan pemerintah.

“Jangankan mendapatkan bantuan, tanah petani di desa (Nganut) malah digusur oleh Pemerintah Daerah untuk kebutuhan pembangunan jalan PT. Mobile Cepu Limited, anak perusahaan dari ExxonMobile.” Terang Rustam.

Massa petani yang tiba di gedung DPRD Bojonegoro menyampaikan orasi-orasi politiknya. Mereka menilai bahwa Pemerintah SBY-Budiono gagal membangun kedaulatan pangan di Dalam Negeri.

Menurut ketua PRD Bojonegoro, Samsul Ma’arif, kebijakan pemerintah yang sangat liberal disektor agraria, menyebabkan pertanian kita lebih banyak dikendalikan oleh perusahaan-perusahan asing, mulai dari produksi samapai dengan pasar penjualan.

Lebih lanjut, Ma’arif mengatakan bahwa ketergantungan kepada pangan impor sulit dihentikan selama pemerintah tidak memberdayakan petani dan melindungi hasil produksinya.

Tidak lama berselang, Ketua DPRD Bojonegoro, Syukur Priyanto, menerima massa petani. Dalam aksi ini, petani menyerahkan tumpeng kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bojonegoro, sebagai simbol agar pemerintah memperjuangkan perubahan nasib petani.

Aksi ini merupakan aksi Front yang melibatkan Komite Pimpinan Kota-Partai Rakyat Demokratik (KPK-PRD) Bojonegoro dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), serta Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMI).

Abdul Muntolib 

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut