Petani Anggap BPN Membela Kepentingan Pengusaha

Aksi pendudukan ratusan petani Lampung Tengah di depan kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Lampung sudah berlangsung 21 hari. Namun pihak BPN tidak kunjung merespon tuntutan para petani.

Dan, sebagai responnya, petani berusaha menerobos masuk ke kantor BPN. Tak lama kemudian, polisi datang untuk mengajak bernegosiasi dan meminta massa untuk mengurungkan niatnya. Polisi menjanjikan pertemuan antara petani dan pihak BPN secepatnya.

Sekitar pukul 14.00 WIB, pihak perwakilan petani pun dipanggil untuk bertemu dengan pihak BPN Lampung. Tampak hadir Kakanwil BPN Lampung, Syafirman, bersama dengan jajarannya.

Dalam pertemuan itu, Syafirman membeberkan perihal surat jawaban BPN pusat terkait tuntutan petani. Ada tiga point penting dari jawaban BPN pusat itu, yakni: (1) tanah eks HGU PT Sahang tidak termasuk objek penertiban tanah terlantar; (2) penanganan selanjutnya diserahkan kepada pemerintah propinsi Lampung; (3) Pemprov Lampung wajib membentuk tim yang melibatkan Pemprov Lampung, Pemkab Lamteng, Kantah Lamteng dan BPN Wilayah Lampung untuk meneliti kasus ini agar dapat diselesaikan secara legal formal.

Surat bantahan BPN pusat itu menyulut kemarahan petani. Rakhmad Husein, deputi politik PRD Lampung yang menjadi juru-bicara petani, menganggap jawaban BPN pusat itu sangat ngawur.

Alasannya, kata Husein, Izin Usaha Perkebunan Untuk Budidaya (IUPB) PT. Sahang sudah dicabut pemerintah Kabupaten Lampung Tengah sejak tahun 2011 lalu dan sudah dimenangkan di PTUN.

“BPN Lampung mestinya sudah tahu hal ini. Apalagi sudah menyimak perjuangan petani sejak awal. Kok sekarang pura-pura bodoh dan melanggar prosedur,” kata Husein.

Rahmad, aktivis PRD lainnya, menuding pihak BPN pusat maupun Lampung sudah menjadi perpanjangan tangan pengusaha. Pasalnya, dalam point 4 landasan keputusan BPN disebut perihal surat dari PT. Sahang.

“Kenapa surat pengusaha saja yang dijadikan rujukan, sedangkan berbundel-bundel surat petani, bahkan sudah dibawa ke DPR-RI, tidak menjadi rujukan pengambilan keputusan,” tegas Rahmad.

Mendapat gugatan bertubi-tubi dari petani, Kakanwil BPN Lampung Syafirman pun menjawab dengan terbatah-batah. Ia mengatakan, pihaknya secara pribadi mau menandatangani surat yang diinginkan petani, namun ia juga harus mengikuti prosedur dan Tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi).

Hal lain yang disoroti petani adalah pelimpahan penyelesaian konflik agraria ini kepada Pemerintah Provinsi Lampung. Bagi petani, pelimpahan penyelesaian kasus ini hanya skenario BPN untuk menarik-ulur kasus. “Jangan pake alasan UU untuk mengulur-ulur penyelesaian kasus. Penderitaan rakyat tidak bisa diulur-ulur lagi,” kata Ahmad Bara.

Tidak jelasnya sikap BPN Lampung itu memicu kemarahan delegasi petani. Para delegasi petani, bersama dengan aktivis PRD, segera meninggalkan pertemuan yang tidak jelas arahnya itu.

Sementara itu, ratusan massa aksi petani yang kecewa mulai menggoyang-goyang pagar kantor BPN. “BPN RI kembalikan tanah kami,” teriak seorang petani dengan suara lantang.

Seorang petani juga memilih aksi berbaring di jalan keluar kantor BPN. Ia membuka baju dan meneriakkan pekikan “Hidup Rakyat!”. Namun polisi bergegas untuk mendorong keluar para petani. Seorang orator dari mahasiswa, Saddam Cahyo, nyaris terjungkal.

Sebagai respon atas keberpihakan BPN terhadap pengusaha, 40 orang petani Lampung Tengah berencana menggelar aksi mogok makan di halaman kantor BPN besok pagi (10/4/2012). Mereka akan menggelar aksi mogok makan hingga pihak BPN menandatangani surat perihal pengembalian tanah petani.

Para petani Lampung Tengah, yang berasal dari tiga desa, yakni Surabaya, Sendang Ayu, dan Padang Ratu, sudah bertahun-tahun berjuang untuk menuntut pengembalian lahan mereka.

Awalnya, tanah petani tiga desa itu disewa oleh PT. Sahang. Pada tahun 2008, HGU PT. Sahang mestinya sudah berakhir. Yang terjadi, perusahaan sawit itu tetap mengklaim tanah itu dan menolak mengembalikannya kepada petani.

TOGAR HARAHAP | SADDAM CAHYO

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut