Pesawat Kepresidenan Venezuela Dilarang Melintasi Udara AS

Menteri Luar Negeri Venezuela Elias Jaua mengungkapkan kepada media bahwa pesawat yang mengangkut Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dilarang melintas di atas udara Puerto Riko.

Presiden Nicolas Maduro, yang sedang melakukan perjalanan ke China, dipaksa mencari jalan alternatif. Jaua menuding tindakan tersebut sebagai agresi.

“Kami menerima informasi dari pejabat amerika bahwa kami ditolak melakukan perjalanan di atas udaranya,” kata Jaua, yang berbicara kepada wartawan saat melakukan pertemuan dengan rekannya dari Afrika Selatan.

“Kami mengutuk hal ini sebagai bentuk agresi lain dari imperialisme di Amerika Utara terhadap pemerintahan Bolivarian,” tambahnya.

Menurutnya, tidak seorang pun berhak menolak pesawat pengangkut Presiden yang sedang melakukan kunjungan internasional. Dengan demikian, tidak ada argumen yang valid dari pemerintah AS untuk menolak perjalanan Presiden AS di atas udara Amerika.

Presiden Nicolas Maduro dijadwalkan tiba di Beijing akhir pekan ini untuk memulai pembicaraan bilateral dengan pemerintah China. Jaua bersikeras bahwa pemerintah Venezuela sampai di tujuan, terlepas dari gangguan yang dialaminya.

Meskipun belum ada tanggapan resmi dari pemerintah AS, kejadian ini akan menambah ketegangan diantara kedua negara.

Pada bulan Juli lalu, Presiden Nicolas Maduro mengumumkan bahwa pemerintahannya menghentikan upaya memperbaiki hubungan dengan pemerintah AS. Langkah itu diambil sebagai respon atas komentar Dubes AS di PBB, Samantha Power, yang berbicara kepada Komite Senat, bahwa peran barunya termasuk melawan ‘tindakan kekerasan terhadap masyarakat sipil’ di seluruh dunia, termasuk Venezuela.

Hubungan AS-Venezuela di bawah pemerintahan Chavez sudah sengit, seperti kecurigaan campur tangan AS dalam kudeta terhadap Chavez di tahun 2002. Sejak terpilih bulan April lalu, Presiden Nicolas Maduro sering membuat kritik terkait dugaan campur tangan dalam urusan internal Venezuela.

Presiden Bolivia Evo Morales, yang pesawatnya mengalami pengalihan selama kunjungan ke Rusia karena diduga mengangkut si pembocor rahasia Edward Snowden, menyatakan bahwa negara-negara yang tergabung dalam blok ALBA mempertimbangkan untuk memboikot Majelis Umum PBB di New York.

“Kami tidak bisa menerima bahwa Amerika Serikat membawa politik intimidasi dan larangan penerbangan oleh Presiden,” kata Morales. Ia menambahkan, kejadian terakhir menunjukkan kecenderungan sebuah negara menghina pemerintahan negara lain dan melakukan kejahatan terhadap bangsa-bangsa lain.

Sementara itu, pada hari Selasa (17/9/2013), Presiden Brazil Dilma Roussef membatalkan kunjungannya ke AS sebagai bentuk protes atas kegiatan mata-mata yang dilakukan pemerintahan AS terhadap Brazil.

Langkah Dilma ini diambil menyusul serangkaian laporan stasiun Globo TV di Brazil yang merinci program NSA di negara itu. Diantaranya: penyadapan komunikasi Presiden Dilma dengan para stafnya. NSA juga meretas jaringan komputer perusahaan minyak negara Brazil, Petrobas. Tak hanya itu, NSA mengambil data dari miliaran email dan percakapan telpon di seluruh Brazil, yang merupakan pusat kabel serat optik trans-Atlantik.

Raymond Samuel (Diolah dari Russian Today dan sumber lainnya)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut