Pesan Para Pemimpin Negara-Negara Amerika Latin dan Karibia Dalam KTT CELAC

Konferensi Tingkat Tinggi Komunitas Negara-Negara Amerika Latin dan Karibia (KTT CELAC) ke-4 masih berlangsung di Quito, ibukota Ekuador. Terdapat 33 negara mengirimkan pejabat tingginya, termasuk 22 kepala negara kawasan tersebut.

Pertemuan ini menarik, karena, selain diikuti sejumlah negara progresif yang banyak menginspirasi pergerakan di abad 21, KTT CELAC ke-4 berlangsung di tengah situasi sulit bangkitnya sayap kanan yang dihadapi oleh pemerintahan kiri di Venezuela, Argentina, dan Brazil. Upaya mencari jalan menyatukan kawasan tersebut menjadi satu persemakmuran menghadapi tantangan yang tidak ringan mengingat situasi politik yang tidak homogen antara satu negara dengan negara lainnya.

Meski demikian upaya mengintegrasikan kawasan berpenduduk 600 juta jiwa tersebut tetap dilakukan sesuai dengan semangat awal. Negara-negara yang berada di bawah pemerintahan sayap kanan sekalipun tidak menampik pentingnya persatuan kawasan dengan kedaulatan penuh tanpa campur tangan negara besar.

CELAC secara resmi didirikan tahun 2011 setelah sebelumnya terjadi pembahasan tentang perlunya membentuk organisasi kawasan dengan mengecualikan Amerika Serikat dan Kanada, dua negara maju yang kerap mengintervensi ekonomi dan politik negara-negara Amerika Latin dan Karibia.

Di tahun pendirian itu, Evo Morales menyebut CELAC sebagai “organisasi kawasan untuk melawan imperialisme”. Hugo Chavez menyebut pendirian CELAC sebagai “menghidupkan kembali mimpi dan proyek dari Simon Bolivar”, pahlawan pembebasan Amerika Latin dari penjajahan Spanyol . Sedangkan Lula da Silva, presiden Brasil waktu itu, mengatakan bahwa terbentuknya CELAC sebagai “sebuah fakta sejarah yang mengandung arti penting yang besar.”

Intinya, sebagaimana dikatakan oleh seorang penulis Mexico, Raúl Zibechi, CELAC merupakan pertanda perubahan peta politik global dengan memudarnya hegemoni Amerika Serikat dan bangkitnya kekuatan-kekuatan baru yang berdaulat.

Dalam pertemuan ini masing-masing pemimpin negara menyampaikan pandangannya yang kami kutip dari kantor berita teleSUR berikut.

Evo Morales

Presiden Bolivia, Evo Morales, menekankan kembali tujuan dari pendirian CELAC yakni untuk membebaskan kawasan tersebut baik secara ekonomi maupun politik.

“Tujuan dari CELAC selalu dan akan selalu untuk bekerja membebaskan kawasan ini baik secara ekonomi maupun politik.”

Morales menambahkan, “Rakyat harus menjadi pemilik dari berbagai layanan kebutuhan dasar. Jika CELAC ingin menjadi sebuah contoh model bagi dunia maka kebijakan kita harus diabdikan untuk perdamaian dan keadilan sosial.”

Presiden berlatarbelakang seorang petani ini juga menjelaskan kunci bagi keberhasilan ekonomi negaranya (Bolivia) adalah keputusan pemerintahannya untuk meningkatkan kontrol secara besar-besaran terhadap kekayaan alam negerinya.

Keputusan ini telah meningkatkan pendapatan negara, sehingga memungkinkan negara untuk menghilangkan ketergantungan ekonominya terhadap lembaga-lembaga keuangan internasional dan agensi-agensi pendamping asing yang selama ini membantu pembangunan negeri itu.

Morales juga menekankan pentingnya menjaga independensi dari lembaga keuangan seperti IMF dan Bank Dunia, sembari menambahkan bahwa utang negara Bolivia ke Bank Dunia telah turun dari 37 persen di tahun 2005 menjadi 9 persen di 2014.

Michelle Bachelet

Sementara itu Presiden Chile, Michelle Bachelet, dalam pidatonya menyampaikan penghargaan kepada Komunitas Negara-Negara Amerika Latin dan Karibia atas “capaian untuk memperdalam persatuan dan integrasi di bidang politik, ekonomi, dan sosial budaya”.

Bachelet mengatakan bahwa untuk mencapai persatuan maka kelompok ini harus mencapai konsensus terkait perbedaan pendapat di antara negara-negara anggotanya sebelum menyatakan sebuah “pesan yang satu” kepada komunitas internasional.

“Kita harus mendorong pemahaman bersama, yang mana dengan itu perbedaan-perbedaan yang muncul di antara kita dapat diatasi, dalam hal ini gagasan-gagasan tentang model pembangunan dan perbedaan-perbedaan sub kawasan,” kata presiden Chile tersebut.

Di akhir pidatonya, Bachelet mengatakan bahwa kawasan ini harus meningkatkan upaya strategisnya untuk mengkoordinasikan tujuan yang sama diantara negara anggota dalam rangka mengstimulus integrasi ekonomi.

Nicolas Maduro

Pada kesempatan yang sama Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, menyerukan kepada negara-negara kawasan untuk bersatu dalam rangka mengatasi tantangan perekonian yang sedang dihadapi.

Maduro menekankan pentingnya sebuah rencana di tingkat kawasan tersebut untuk menanggulangi tantangan ekonomi yang disebabkan oleh jatuhnya harga minyak dan komoditas lainnya.

“Telah tiba waktunya untuk merancang sebuah rencana bersama dengan strategi untuk menangkal krisis ekonomi yang tengah terjadi,” kata Maduro. “Kita harus bersedia untuk saling mendukung, sebagaimana telah kita lakukan untuk mengatasi perbedaan-perbedaan politik.”

Pada akhir pidatonya Maduro menandaskan bahwa CELAC dibentuk sebagai tanggapan terhadap model ekonomi yang dirancang untuk merampok sumber daya alam di kawasan tersebut untuk kepentingan pribadi kaum kaya dan meningkatkan kekuasaan asing.

“Ini lebih dari sekedar sebuah forum, ia merepresentasikan konsolidasi persatuan di antara bangsa-bangsa Amerika Latin dan Karibia.” Tutup Maduro.

Mardika Putera

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut