Pesan Bung Karno Untuk Pemuda Aceh (Dan Indonesia)

PADA bulan Juni 1948, Bung Karno berkunjung ke Aceh. Ini merupakan kali pertama Presiden pertama Republik Indonesia itu menginjakkan kakinya di Tanah Rencong.

Di sela-sela kunjungan itu, Bung Karno menyempatkan diri memberi kursus politik (kurpol) kepada para pemuda-pemudi di Atjeh Bioskop (Bioskop Garuda), Kutaraja, pada 16 Juni 1948 malam. Ribuan pemuda memadatai gedung bioskop itu. Bahkan massa sampai meluap hingga ke jalan raya.

Kendati kurpol itu berlangsung singkat, tetapi pesan yang disampaikan oleh Bung Karno sangat kuat. Ia tidak hanya menguliahi para pemuda-pemudi dengan teori revolusi. Yang lebih penting, ia mengajak para pemuda untuk bercita-cita. “Pemuda yang tidak bercita-cita buka pemuda, tetapi pemuda yang sudah mati sebelum mati,” kata Bung Karno.

Bung Karno mengutip kata-kata pujangga Amerika, Ralph Waldo Emerson: “Pasanglah engkau punya cita-cita setinggi bintang di langit, kalau tidak, maka cita-citamu itu terlalu rendah.” Dengan kutipan itu, Bung Karno mengajak para pemuda membangun cita-cita yang besar dalam hidupnya.

Tidak tanggung-tanggung, dalam kuliah itu Bung Karno membentangkan mimpinya untuk Indonesia. “Kalau negara nasional ini selamat terpelihara oleh ketabahan kita, 25 tahun lagi, Insyah Allah, jika kalender menyatakan tahun 1975, aku bercita-cita…di dalam tahun 1975 di dalam tiap-tiap rumah Indonesia, walaupun rumah di puncak gunung, akan menyala lampu listrik.”

Tidak berhenti di situ, Bung Karno juga bermimpi tentang kereta api yang bersimpang siur memenuhi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain. Tiap-tiap rumah tangga di Indonesia punya radio, sehingga tiap manusia Indonesia bisa menyimak kabar tanah air dan dunia. Sebuah cita-cita besar kala itu.

Bung Karno yakin, cita-cita yang berkobar di dada pemuda, apalagi jika itu adalah cita-cita sosial dan politik yang mulia, akan menjadi motor penggerak kemajuan bangsa. “Cita-cita itu ialah memperindah martabat manusia, memuliakannya, mendekatkan pada kesempurnaan,” tulis Kartini dalam sepucuk suratnya kepada R.M.Abendanon-Mandri.

Bagi Bung Karno, cita-cita besar juga akan membuat orang besar. Dan sejarah membuktikan, sebuah cita-cita besar bisa menggerakkan roda sejarah, kendati manusia yang mengusung cita-cita besar itu sudah berkalang tanah.

Karl Marx dan Frederick Engels, dua tokoh peletak dasar cita-cita sosialisme modern, sudah berkalang tanah sejak 130-an tahun yang lampau, tetapi cita-citanya masih terus menggerakkan kaum pekerja dan rakyat tertindas di bawah kolong langit ini untuk memperjuangkan sosialisme.

Cita-cita besar bak gelombang laut yang dahsyat. Tidak seorang pun bisa menghentikannya. Sekalipun orang memasang tanggul, bahkan terbuat dari beton, tetapi pelan-pelan akan terkikis dan akhirnya roboh juga oleh hempasan gelombang laut itu.

Cita-cita besar tidak dapat dipenjarakan. Ia selalu berjalan, selalu hidup, kendati manusia pemilik cita-cita itu dipenjara. “Manusia bisa dimasukkan ke penjara, dimasukkan ke kurungan. Gandhi bisa dimasukkan ke penjara, Nehru bisa dimasukkan ke penjara, Hatta bisa dimasukkan ke penjara, tetapi cita-cita tidak dapat dikurung dalam penjara,” kata Bung Karno.

Di penghujung pidatonya, Bung Karno menyampaikan pesan yang sangat kuat. “Berikan padaku 1000 orang tua, 10.000 orang tua, 100.000 orang tua, 1 milyun orang tua, Aku bisa memindahkan Pulau Weh ke daerah Tanah Jawa. Tetapi berikan padaku 1000 pemuda, 10 pemuda, tetapi yang hatinya betul-betul berkobar dengan api kemerdekaan, dengan 10 pemuda itu aku menggemparkan seluruh dunia.”

Pesan Bung Karno itu sangat relevan untuk hari ini. Tidak saja untuk pemuda Aceh, tetapi untuk seluruh pemuda Indonesia. Apalagi, kita sadar, saat ini kita berhadapan dengan sebuah sistim ekonomi-politik yang mengerdilkan cita-cita dan mimpi manusia menjadi sekedar sebagai robot-robot yang siap mengabdikan hidupnya di kantor-kantor dan pabrik-pabrik milik tuan Kapitalis.

Orde Baru, yang berkuasa lebih dari 32 tahun, berkontribusi besar dalam menumpulkan imajinasi kita sebagai sebuah bangsa. Rakyat dijauhkan dari politik. Ideologi-ideologi yang menawarkan emansipasi, seperti sosialisme dan variannya, ditumpas habis. Bacaan-bacaan yang bisa melambungkan imajinasi dan mimpi kita, seperti buku, kliping, majalah, koran, buletin, jurnal, almanak, kaset rekaman, selebaran, famplet, roman sejarah, novel, dan lain-lain, juga diberangus. Orde baru mewarisi kita kemiskinan imajinasi.

Lebih parah lagi, neoliberalisme datang dan mengubur imajinasi yang sudah tak seberapa itu. Neoliberalisme datang dengan diktumnya yang terkesan dipaksakan: There is no alternative! Lalu, melalui intelektual-intelektual bayarannya, mereka berteriak bahwa ideologi dan isme-isme telah mati. Dunia pun makin sepi dari para pemimpi.

Di lembaga pendidikan, neoliberalisme membunuh imajinasi anak didik kita. “Buat apa bermimpi besar, apalagi setinggi bintang di langit, apabila tidak punya pekerjaan dan gaji yang lumayan untuk tetap bisa hidup,” begitulah kira-kira propaganda kaum neoliberal. Alhasil, anak didik diajak berpikir dan bercita-cita sempit: kuliah serius, dapat gelar sarjana, cari pekerjaan yang bergaji lumayan, dan hidup enak bersama anak-istri.

Lalu, melalui rayuan konsumerisme, neoliberalisme menciptakan ‘mekanisme penjinakan”, yakni mekanisme untuk memaksa manusia menghabiskan waktunya untuk bekerja demi memuaskan nafsu berbelanja dan kebutuhan yang tak berbatas. Jadinya, kita bertemu dengan kenyataan pahit: orang hidup untuk bekerja, bukan lagi bekerja untuk hidup.

Itulah dunia kita sekarang. Sebuah dunia yang tidak lagi dibakar oleh api semangat kemerdekaan. Sebuah dunia yang menganggap bahwa, dengan mengikuti berbagai audisi idol, nasib seseorang akan berubah seketika. Sebuah dunia yang memaksa kita bermimpi hanya selebar layar kaca televisi.

Tetapi, sadarlah, dunia itu pula yang membuat kita tidak sadar, bahwa sekarang ini kembali menjadi bangsa kuli. Seluruh kekayaan dan aset nasional kita dijarah pemodal asing. Membuat kita tidak sadar, bahwa para pemimpin kita, yang kita coblos di pemilu, adalah manajer-manejer dari tuan-tuan kapitalis dari negeri nun jauh di sana: Amerika Serikat dan Eropa.

Di bulan ini, yang dikatakan ‘Bulan Bung Karno’, mari mengenang kembali pesan Bung Karno di atas: “Pemuda yang tidak bercita-cita bukan pemuda, tetapi pemuda yang sudah mati sebelum mati.”

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut