Perwakilan Petani Persoalkan Ketimpangan Harga Pupuk

Lima orang perwakilan petani dari Desa Jegreg, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan mempertanyakan ketimpangan harga pupuk di daerahnya kepada pihak DPRD Lamongan.

Para petani melaporkan bahwa harga pupuk di tempatnya sangat mahal, yaitu Rp90 ribu persak, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan sebesar Rp80 ribu per-sak.

Akibat mahalnya harga pupuk yang tersedio di kios-kios desanya, para petani memilih membeli pupuk di desa sebelah, yang masuk wilayah kabupaten Bojonegoro.

Eko Wahyudianto, aktivis PRD lamongan yang turut mendampingi petani, menegaskan bahwa pihaknya menduga ada kesengajaan oleh pihak tertentu untuk mempermainkan harga pupuk di sana.

Apabila petani membeli pupuk di desa sebelah, maka pupuk di kios-kios di desanya tidak akan terjual.

“Ini sering dijadikan asumsi bahwa seolah-olah desa kami sudah kelebihan pupuk, sehingga jumlah kuotanya harus dipangkas,” ujar Eko kepada Berdikari online.

Padahal, menurut Eko, penyebabnya bukan karena kelebihan stok, melainkan karena terlalu mahal sehingga petani mencari pupuk di tempat lain.

Respon Pemerintah

Saat melakukan dengar pendapat dengan pihak DPRD Lamongan, pihak petani dijanjikan akan diselesaikan dalam 2 atau 3 hari ke depan.

Pihak DPRD berjanji akan mengambil tindakan tegas terhadap kios yang menjual pupuk di atas harga HET, dan akan dilaporkan kepada polisi.

Disamping itu, para petani mengajukan tiga tuntutan lain, yaitu turunkan harga pupuk, perbaikan jalan desa, dan tangkap oknum yang suka memanipulasi harga pupuk.

Sebelum menggelar dengar pendapat dengan DPRD, para petani ini terlebih dahulu mengorganisir tanda-tangan dari sedikitnya 200 orang perwakilan petani.

Tandatangan itu sedianya akan diserahkan kepada pihak DPRD sebagai permintaan petani untuk mengontrol harga pupuk.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut