Pertemuan Koalisi Tanah Internasional Bahas Perampasan Tanah

Praktek perampasan lahan yang berlangsung massif akhir-akhir ini, termasuk di Indonesia, menjadi salah satu isu yang di bahas dalam pertemuan International Land Coalition (ILC) di Guatemala.

ILC, yang berkantor pusat di Roma, Italia, menggelar pertemuan nasionalnya tanggal 23-24 April lalu. Pertemuan tersebut membahas dampak akuisisi tanah dan hak atas tanah oleh keluarga petani, masyarakat adat dan lingkungan.

Lebih dari 200 pimpinan masyarakat sipil, institusi internasional dan pihak pemerintah dari 120 negara menghadiri pertemuan internasional ini. Pertemuan ini langsung dibuka oleh Presiden Guetemala, Otto Perez Molina.

Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menjadi perwakilan Indonesia dalam pertemuan internasional tersebut. Delegasi KPA, Dewi Kartika,  menjadi panelis untuk tema “Perampasan Tanah (Land Grabbing) dan Akses Terhadap Lahan (Land Acces) dikaitkan dengan Investasi serta Dampaknya pada Produksi Skala Kecil.”

Dalam pemaparannya, Dewi Kartika soal perjuangan agraria, terutama perjuangan petani skala kecil dan masyarakat adat. Ia memberikan rekomendasi untuk ILC dan anggotanya tentang pentingnya sistem agraria yang menghargai inisiatif lokal, pembangunan HAM, produksi pertanian, dan keberlanjutan ekologi.

“Agenda keamanan pangan (food security) jangan sampai menjadi alat bagi perampasan tanah skala besar. Keamanan pangan tidak akan tercapai tanpa menyelesaikan persoalan akses (penguasaan, pemilikan dan pengelolaan) oleh petani dan masyarakat adat,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan, pertumbuhan ekonomi sebagai sebuah tujuan pembangunan harus memperhatikan hak-hak petani dan tidak mengancam dan menyingkirkan petani dari sumber kehidupannya yaitu tanah, jika hal tersebut diabaikan masa depan keluarga petani akan terancam.

“Masa depan keluarga petani memang bukan hanya persolan tanah tapi juga harus menuntaskan problem peningkatan pendidikan, makanan dan kesehatan bagi kaum tani,” tambahnya.

Dalam pertemuan internasional dua tahunan tersebut, KPA terpilih sebagai koordinator ILC regional ASIA untuk periode 2013-2015. Dalam agenda Caucus ILC ASIA, melalui mekanisme voting berdasarkan rekomendasi SC (Steering Committee) ILC ASIA, KPA telah mampu meyakinkan para peserta dengan kemenangan mutlak dari pesaingnya yaitu CORLAP dari NEPAL.

Dengan menjadi koordinantor ILC region Asia, KPA akan menjadi pusat koordinasi negara-negara yang fokus terhadap persoalan agraria di regional Asia. “KPA akan semakin mendapatkan support dari dunia internasional terkait percepatan agenda reforma agraria di Indonesia,” kata Dewi Kartika.

Ia mengatakan, dukungan itu diperlukan untuk mempercepat pelaksanaan agenda reforma agraria di Indonesia, sebagaimana diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.

Galih Andreanto

 

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut