Pertarungan Dua Putri Jenderal Di Pemilu Chili

Kejutan menarik terjadi dalam pemilu Chile tahun ini. Hasil putaran pertama, yang berlangsung 17 November lalu, menempatkan dua perempuan di posisi teratas: Michelle Bachelet dan Evelyn Matthei.

Yang menarik, keduanya sama-sama putri bekas Jenderal Angkatan Udara di era 1970-an. Michelle Bachelet adalah putri Jenderal Alberto Bachelet. Sedangkan Evelyn Matthei adalah putri Jenderal Fernando Matthei. Evelyn Matthei memangi “Om Beto” kepada ayahnya Michelle Bachelet.

Kedua Jenderal itu berkawan. Namun, pada tahun 1973, ketika militer yang dikomandoi oleh Pinochet mengkudeta Presiden berhaluan sosialis Salvador Allende, hubungan kedua jenderal ini retak. Jenderal Alberto tetap setia membela Presiden Salvador Allende, sedangkan Jenderal Fernando Matthei mendukung junta militer.

Jalan nasib kedua Jenderal ini juga berbeda. Jenderal Alberto, yang loyal kepada Allende, harus dipenjara dan menjalani berbagai siksaan. Pada bulan Maret 1974, Ia meninggal dunia di dalam sebuah penjara Santiago.

Sedangkan nasib Jenderal Fernando Matthei, yang terang-terangan pro-junta militer, jelas berbeda. Saat kudeta militer berlangsung, Jenderal Fernando menjadi Atase militer Di Kedubes Chili di London. Begitu kembali ke Chili, ia menjadi bagian dari pemerintahan junta. Ia sempat menjabat Menteri Kesehatan di pemerintahan diktatorial Augusto Pinochet.

Kini, 40 tahun peristiwa itu berlalu, putri dari para Jenderal itu bertarung dalam pemilu. Dalam pemilu putaran pertama lalu, Bachelet berada di urutan teratas dengan 46,67% suara, sedangkan Evelyn Matthei berada di urutan kedua dengan 25,01% suara. Karena tidak ada yang meraih 50%, maka pemilu Chili akan berlangsung dua putaran. Michelle Bachelet dan Evelyn Matthei akan bertarung terbuka di putaran kedua yang dijadwalkan pada 15 Desember mendatang.

Michelle Bachelet, yang juga kader Partai Sosialis, diusung oleh koaliasi luas yang disebut “Nueva Mayoria” (Mayoritas Baru). Koalisi ini, untuk pertama-kalinya pasca Allende, melibatkan partai Komunis Chili di dalamnya. Dalam pemilu kali ini, Bachelet menjanjikan perubahan melalui pengubahan konstitusi, pajak bagi korporasi guna mendanai pendidikan, dan memerangi kesenjangan yang kian melebar di Chili.

Sementara Evelyn Matthei, yang pernah menjadi senator dan Menteri Perburuhan di bawah rezim neoliberal Sebastian Pinera, menjanjikan kondisi yang kondusif dan bersahabat dengan sektor bisnis guna merangsang pertumbuhan ekonomi dan menekan pengangguran. Matthei diusung oleh koalisi bernama “Aliansi untuk Chili”.

Yang tak kalah menarik juga, kandidat yang menempati urutan ketiga, Marco Enríquez-Ominami, adalah anak dari Miguel Enríquez, tokoh revolusioner pendiri Movimiento de Izquierda Revolucionaria (Gerakan Kiri Revolusiober). Pada saat kudeta militer terhadap Allende, Miguel bersimbah darah di jalan karena sejumlah tembakan.

Marco sendir bekas aktivis partai sosialis. Tahun 2009, Ia keluar dari partai itu dan mendirikan Partai Progressif. Dalam pemilu putaran pertama, Marco menempati urutan ketiga dengan suara 10,98%.

Hasil pemilu putaran pertama sendiri memperlihatkan pergeseran ke kiri. Di Kongres, kiri menjadi kekuatan mayoritas di Senat (55,3%) dan DPR (56,6%). Artinya, jika Bachelet bisa memenangkan pemilu putaran kedua, pemerintahannya ditopang oleh kekuatan mayoritas di parlemen.

Namun, perjalanan Bachelet menuju kursi Presiden tidak gampang. Ia sudah pernah menjabat Presiden periode 2006-2010. Saat itu ia diusung oleh koalisi kiri-tengah bernama Concertacion de Partidos por la Democracia (Koalisi Partai untuk Demokrasi). Masalahnya, koalisi Kiri-Tengah ini pernah mengecewakan rakyat Chile. Jadi, setelah berhasil mengalahkan Pinochet di akhir tahun 1980-an, Concertacion menjadi partai berkusa di Chili. Saat itu banyak yang menaruh harapan pada koalisi Kiri-Tengah ini. Pasalnya, mereka menjanjikan egalitarianisme, demokrasi, dan keadilan. Namun, pada kenyataannya, saat berkuasa Concertacion justru mengadopsi kebijakan neoliberal dan memperdalam ketimpangan di Chili.

Kenyataan itu membuat suara Concertacion melorot. Hal itu pula yang membuat kekalahan Concertacion dalam pemilu 2010. Saat itu, kandidat sayap kanan Sebastian Pinera jadi pemenang. Belajar dari pengalaman pahit itu, Concertacion mencoba mengubah arah. Mereka pun ganti nama: “Nueva Mayoria” (Mayoritas Baru). Koalisi ini melibatkan spektrum kiri tengah (Partai Sosialis, Partai untuk Demokrasi/PPD, Gerakan Sosialis Luas (MAS), Citizen Left, Kristen Demokrat, dan Sosial-Demokrat Radikal) dan spektrum kiri radikal (Partai Komunis).

Di pihak lain, koalisi sayap kanan “Aliansi untuk Chili”, yang mengusung Matthei, sedang kehilangan simpati dari berbagai sektor sosial yang menjadi korban resep neoliberal di Chili, seperti mahasiswa, buruh, petani, masyarakat adat, pembela hak sipil, perempuan, dan lain-lain.

Sejak tahun 2011 lalu, gerakan protes mahasiswa untuk reformasi pendidikan mengguncang politik Chili. Agenda neoliberalisme, yang diusung oleh rezim Sebastian Pinera, dianggap biang kerok mahal dan buruknya pendidikan di Chili. Tak mengherankan, berdasarkan survei Centro de Estudios Públicos (CEP), tingkat penerimaan terhadap pemerintahan Pinera hanya 26%. Sedangkan 56% penduduk menyatakan menolak pemerintahan ini.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut