Persetujuan Yang Tak Disetujui

Apakah rakyat sudah dilibatkan dalam pengambilan kebijakan di negara ini? Kalau dikumpulkan sejak 1945 hingga sekarang, jumlah Undang-Undang di Indonesia sudah mencapai ribuan. Dari tahun 2007 hingga 2011 saja, sekretariat negara mencatat ada 200-an lebih UU baru. Adakah partisipasi rakyat di saat pembuatan UU itu?

Lalu, sudah berapa banyak perjanjian perdagangan yang dilakukan sepihak oleh pemerintah. Sebut saja: ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA). Kita tahu, perjanjian itu sangat berdampak luas terhadap kehidupan rakyat. Namun, seperti kita ketahui, keputusan untuk mengikuti perjanjian itu tidak pernah dikonsultasikan dengan rakyat banyak.

Demikian pula dalam soal utang luar negeri. Pernahkah rakyat Indonesia diajak merundingkan soal utang yang sudah menghampiri 2000 trilyun dollar AS itu. Padahal, seperti kita ketahui, utang-utang itu bisa digolongkan dious debt (utang najis) jikalau pemerintahan dari negeri penerima pinjaman menerima bantuan tanpa diketahui dan persetujuan rakyatnya.

Begitu banyak persetujuan yang tak melalui persetujuan rakyat. Begitu banyak produk UU—yang menyangkut hajat hidup rakyat—diputuskan tanpa melalui konsultasi atau pendiskusian dengan rakyat. Yang terjadi, banyak dari UU tersebut justru merampas hak-hak hidup rakyat. Lebih parah lagi, banyak produk per-UU-an yang merugikan kepentingan nasional kita.

Pertama, sebagian besar produk UU kita tidak dilahirkan sebagai respon atas kebutuhan rakyat. Akan tetapi, sebaliknya, UU itu didorong oleh berbagai kelompok kepentingan: asing dan segelintir elit lokal.

Tengoklah! Hampir semua produk UU yang ditelorkan oleh DPR berhadapan dengan protes kuat dari massa rakyat. Banyak diantara UU itu yang digugat karena tidak sesuai dengan kepentingan rakyat. Bahkan, lebih ironis lagi, UU itu bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

Terungkap, misalnya, bahwa banyak UU itu didanai oleh lembaga asing. USAID (United States Agency for International Development), sebuah lembaga pendanaan dari AS, disebut-sebut banyak mendanai dan mengintervensi pembuatan banyak perundang-undangan di Indonesia.

Kedua, sebagian besar produk perundang-undangan dan kebijakan di Indonesia dirumuskan dan diputuskan dalam ruang politik yang sangat jauh dari jangkauan rakyat banyak.

Dalam penyusunan UU, misalnya, tidak ada mekanisme politik resmi untuk meminta pendapat atau berdiskusi dengan rakyat. Banyak sekali RUU yang menjadi UU tanpa diketahui oleh rakyat. Bahkan banyak diantara kita tidak mengetahui UU apa saja yang sudah ada dan berlaku di negeri ini.

Di Venezuela, proses pembuatan RUU dilakukan dengan meminta pendapat massa-rakyat. Setelah itu, pemerintah pun masih memfasilitasi diskusi soal isian RUU itu di seantero negeri. Baru setelah itu, Majelis Konstituante melakukan penyimpulan dan menyusun draft akhir.

Di Indonesia, pembahasan RUU hanya sebatas lingkaran ahli dan kelompok-kelompok tertentu. Kalaupun ada kelompok masyarakat yang diundang, maka mereka biasanya mewakili ormas bentukan pemerintah dan lain-lain.

Ketiga, sistim politik Indonesia tidak mengenal mekanisme demokrasi di luar pemilu, seperti plebisit atau referendum. Di banyak negara, mekanisme plebisit dan referendum sering dipergunakan untuk mengetahui kehendak rakyat.

Rezim berkuasa hanya sibuk mencari konsensus dengan partai politik. Inilah yang mendorong kelahiran sistim politik yang menyerupai “pakta politik”. Kebijakan politik hanya dibuat berdasarkan kesepakatan segelintir elit dan partai politik. Sedangkan massa rakyat, yang berasal dari sektor sosial yang beragam, tidak pernah dibukakan pintu untuk mengartikulasikan pendapat dan kehendak politiknya.

Hasilnya: lahirlah begitu banyak persetujuan politik yang tidak pernah mendapat persetujuan rakyat. Persetujuan politik itu banyak yang merugikan rakyat. Karenanya, rakyat pun menggunakan sarana lain, misalnya aksi massa, sebagai alat untuk mengartikulasikan kehendak dan kepentingan politiknya. Itupun, rakyat harus berhadapan dengan represi dan ancaman kriminalisasi!

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut