Persatuan Sebagai Sebuah Keharusan

Pemuda-pemuda yang bergelora! Satu per satu pemuda itu menyampaikan pendapat, sedangkan yang lain menyimak dengan serius. Seruan untuk persatuan mengharu-biru, tak satupun yang bisa membantahnya: Pilihannya: bersatu atau berjuang sendiri-sendiri!

Suasana itu tergambar jelas dalam pertemuan pra-kongres pemuda di Kantor Repdem, di Jalan Cikini I, Jakarta. Meskipun pertemuan itu belum bisa dikatakan mewakili keseluruhan gerakan pemuda, tetapi keinginan untuk bersatu sudah hampir menjadi keinginan semua kalangan dalam pergerakan.

Menurut Haris Rusli Moti, aktivis Petisi 28, sekarang ini terjadi krisis ekonomi yang sangat mendalam, kegagalan elit politik makin nyata, dan muncul keresahan luas di kalangan massa rakyat, tetapi semua gejala itu tidak memicu lahirnya sebuah pemberontakan rakyat.

Masalahnya, menurut Haris Rusli Moti, adalah ketiadaan alat politik yang efektif di tengah massa rakyat. “Alat politik di sekitar rakyat itu, baik di pabrik-pabrik ataupun di kampung-kampung, tidak kuat,” ujar Haris Rusli Moti, yang pernah menjadi ketua Komite Perjuangan Rakyat untuk Perubahan (KPRP), salah satu komite aksi perlawanan mahasiswa di Jogjakarta pada tahun 1998.

Lebih parah lagi, kata Haris Moti, bahwa setiap alat politik yang ada di kalangan pergerakan massa itu terkotak-kotak satu sama lain. Moti–panggilan akrab pemuda asal Ternate itu–menganggap sikap saling curiga dan tidak saling mempercayai merupakan salah satu faktor penting penyebab terkotak-kotaknya kekuatan politik pergerakan.

Moti pun menyoroti bagaimana aksi-aksi massa yang digelar kaum pergerakan, khususnya ketika merespon momentum besar, berakhir seperti sebuah lomba karaoke atau lomba pidato di depan istana negara.

Agus Jabo Priyono, Ketua Umum PRD, berusaha memberikan penjelasan tambahan. Menurutnya, pemerintahan SBY-Budiono menghasilkan begitu banyak persoalan, yang dalam titik tertentu, telah berakumulasi menjadi keresahan sifatnya luas dan umum.

Selain itu, kata Agus Jabo, keterpurukan bangsa yang sedemikian parahnya telah membuka mata setiap orang untuk berlawan, bukan saja di kalangan aktivis pergerakan, tetapi di kalangan sebagian elit pun muncul keinginan itu.

“Jika kita bisa membangun persatuan nasional, maka masih ada harapan untuk memperbaiki masa depan bangsa ini. Jika tidak berhasil menciptakan persatuan, maka kaum imperialis akan semakin lahap melumat bangsa ini,” tegas mantan Ketua Umum Papernas ini.

>>>

Harapan Haris Moti dan Agus Jabo, juga harapan para inisiator lainnya seperti Masinton Pasaribu, Salamuddin Daeng, Yudi Wibowo, Desi Arisanti, dan lain-lain, adalah bahwa kongres pemuda pergerakan ini akan mengawali lahirnya persatuan kaum pergerakan yang lebih konkret di masa depan.

Oleh karena itu, target politik dari Kongres Pemuda Pergerakan yang sedianya akan digelar akhir Mei mendatang tidak mempunyai target muluk-muluk. “Ini adalah upaya merangkai kembali berbagai kekuatan politik yang terkotak-kotak,” kata Haris Rusli Moti.

Harapan itu juga ada dalam benak Desi Arisanti, aktivis buruh yang kini menjabat Sekjend Federasi Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI). Bagi Desi, target paling minimum dari konsolidasi ini adalah adanya penyatuan dalam platform perjuangan dan adanya sebuah aksi bersama.

Hal senada juga ditegaskan oleh Masinton Pasaribu. Mantan aktivis Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (Famred) ini tidak mau beridealisasi, bahwa konsolidasi ini serta-merta akan melahirkan semacam front persatuan. Yang paling mungkin, menurut Masinton, adalah adanya spirit untuk melakukan perlawanan bersama lebih dulu.

Sementara bagi Wenry Anshory, aktivis dari Front Aksi Mahasiswa UI (FAM-UI), gerakan pemuda dan mahasiswa saat ini sangat membutuhkan komunikasi dan sebuah konsep pergerakan yang jelas.

Ia juga menyayangkan kuatnya ego sektoral di kalangan gerakan mahasiswa, yang seringkali tidak memandang penting aliansi luas dengan berbagai sektor rakyat yang lain. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan gerakan mahasiswa untuk mendorong sebuah perubahan,” katanya.

>>>

Para inisiator Kongres Pemuda Pergerakan berharap bahwa agenda ini bisa berjalan sukses. Untuk itu, mereka pun berharap bahwa setiap organisasi pergerakan, baik di tingkat lokal maupun nasional, bisa ambil-bagian dalam kongres ini.

Hendraven Saragih, aktivis dari Jawa Timur, menyatakan dukungan terhadap setiap gagasan membangun persatuan. Hendraven yang menjabat sekretaris PRD Jatim ini berharap agar kongres pemuda ini menghasilkan jawaban atas problem pokok rakyat.

“Kita berharap ada persatuan yang berskala nasional, yang menghimpun organisasi dari berbagai spektrum luas dan memiliki program-program konkret,” katanya.

Dukungan serupa juga disampaikan oleh Imam Munawir, aktivis pergerakan dari Bali. Dia berharap agar Kongres Pemuda ini bisa berjalan sukses dan melibatkan sebanyak-banyaknya organisasi pergerakan. (Agus Pranata)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut