Persaingan Kiri dan Kanan di Pemilu Chile

Hari Minggu, 19 November lalu, Chile menggelar Pemilu ke-7 sejak Negera Amerika Selatan itu terbebas dari kediktatoran Augusto Pinochet.

Dalam pemilu, dari 8 kandidat, tidak satu pun yang meraih suara 50 persen atau lebih. Walhasil, pemilu Chile akan berlangsung dua putaran. Putaran kedua dijadwalkan berlangsung pada 17 Desember mendatang.

Calon Presiden dari sayap kanan yang juga bekas Presiden Chile periode 2010-2014, Sebastián Piñera, meraih suara terbanyak sebesar 36,64 persen. Peraih suara terbanyak kedua adalah kandidat dari koalisi kiri-tengah Nueva Mayoría (Mayoritas Baru), Alejandro Guillier, dengan 22,70 persen suara.

Urutan ketiga ditempati oleh koalisi kiri Frente Amplio (Front Lebar), Beatriz Sanchez, dengan perolehan suara sebesar 20,27 persen. Di urutan keempat adan kandidat independen kanan, José Antonio Kast, dengan 7,93 persen suara. Sedangkan kandidat dari Kristen Demokrat, Carolina Goic, hanya mendapat 5,88 persen.

Piñera disokong oleh koalisi sayap kanan yang solid, Chile Vamos, yang merupakan gabungan dari Serikat Independen Demokratik (UDI), Pembaharuan Nasional/ Renovacion Nacional, Evolusi Politik/ Evolución Política, dan partai Independen Regionalis (PRI).

Piñera adalah seorang miliarder. Di masa pemerintahannya 2010-2014, dia banyak mendorong agenda neoliberal, terutama privatisasi layanan publik. Bagi Piñera, ekonomi mesti dibebaskan dari pajak tinggi dan regulasi. Di masa pemerintahannya, demonstrasi mahasiswa meledak di jalan-jalan di bawah pimpinan aktivis perempuan, Camila Vallejo.

Sebetulnya, keunggulan Piñera di putaran pertama dimungkinkan oleh sokongan kanan yang solid. Di sisi lain, kelompok kiri terpecah-pecah.

Di papan kandidat Capres, setidaknya ada lima capres yang dikategorikan berhaluan kiri: Eduardo Artes (Leninis), Marco Enríquez-Ominami (Partai Progressif/sempalan Sosialis), Alejandro Guillier (Koalisi Mayoritas Baru), Alejandro Navarro (Gerakan Sosial Lebar), dan Beatriz Sánchez (Front Lebar).

Koalisi Nueva Mayoría, yang pernah mengantarkan  Michelle Bachelet memenangi Pilpres di tahun 2013, terpecah. Awalnya koalisi ini terdiri dari Partai Sosialis (PS), Partai untuk Demokrasi (PPD), Sosial-Demokrat Radikal, Partai Komunis, Kristen Demokrat (PDC), Citizen Left, dan lain-lain.

Namun, di pemilu kali ini Kristen Demokrat (PDC) punya kandidat sendiri, yakni Carolina Goic. Di pemilu ini mereka hanya dapat 5,88 persen suara.

Sementara beberapa kelompok kiri yang tidak puas dengan kepemimpinan Nueva Mayoría di bawah Bachelet mendirikan koalisi baru, yaitu Frente Amplio (Front Lebar). Frente Amplio terdiri dari Revolución Democrática (Revolusi Demokratik), Partai Liberal, Partai Kesetaraan, Partai Humanis, Ekologi Hijau, Pirate Party, dan lain-lain.

Kiri Zaman Old versus Kiri Zaman Now

Yang menarik dari pemilu Chile kali ini adalah kehadiran dua blok politik kiri, yaitu Nueva Mayoría dan Frente Amplio.

Nueva Mayoría mewakili partai-partai kiri tengah lama macam Partai Sosialis, Partai untuk Demokrasi/PPD, Gerakan Sosialis Luas (MAS), Citizen Left, dan Sosial-Demokrat Radikal. Juga partai kiri lama, yaitu Partai Komunis.

Sedangkan Frente Amplio mewakili partai-partai kiri baru, yang didirikan oleh aktivis yang tidak puas dengan pemerintahan kiri Bachelet. Banyak pengamat yang menyamakan Frente Amplio dengan Podemos di Spanyol.

Sementara Nueva Mayoría, yang berisikan partai-partai kiri-tengah, cenderung moderat—masih mengakomodasi sebagian agenda neoliberal. Sedangkan Frente Amplio mengusung jalan perubahan yang radikal: tinggalkan neoliberalisme dan menciptakan model ekonomi baru.

Nueva Mayoría cenderung mempertahankan model politik lama yang cenderung birokratik dan top-down. Frente Amplio memperjuangkan demokrasi dari bawah atau sering disebut demokrasi partisipatoris.

Frente Amplio lahir dari gerakan massa yang muncul dalam 7 tahun belakangan ini, terutama gerakan mahasiswa dan gerakan buruh.

Kendati pendatang baru dalam gelanggang perpolitikan Chile, Frente Amplio langsung menghentak banyak orang. Koalisi yang baru berdiri awal 2017 lalu ini mendapat suara sangat signifikan, yakni 20,27 persen. Ini menandai pasang harapan banyak orang Chile akan kekuatan politik alternatif yang lebih segar.

Meski agak berbeda dari segi program politik, tetapi dua koalisi ini dipertemukan pada medan tuntutan yang sama: mengakhiri Konstitusi 1980 warisan diktator Pinochet, karena merintangi berbagai perubahan radikal di Chile.

Peta Putaran Kedua

Meski unggul di putaran pertama, tetapi peluang Piñera di putaran kedua sangat tipis.

Di putaran kedua, kalaupun Piñera mendapat tambahan suara dari capres-capres kanan yang kalah, terutama José Antonio Kast, paling tinggi hanya meraih 44 persen.

Sementara Guillier, jika didukung oleh pendukung Frente Amplio/ Beatriz Sánchez dan Progressif/Marco Enríquez-Ominami, maka kemungkinan mendapat sekitar 48 persen. Apalagi, basis ideologi pendukung Frente Amplio maupun Progressif pernah menjadi bagian dari Nueva Mayoría.

Nah, kunci dalam putaran kedua ini adalah Carolina Goic/Kristen Demokrat. Suara mereka 5,8 persen. Siapapun membutuhkan limpahan suara pendukung mereka.

Namun, kalau dilihat dari akar politik, Kristen Demokrat pernah menjadi bagian dari Nueva Mayoría. Selain itu, sulit bagi Kristen Demokrat untuk berkoalisi dengan kanan-konservatif.

Akan tetapi, Piñera tidak mau kehilangan peluang itu. Karena itu, di putaran kedua, tentu dia akan mengubah retorikanya agak lebih moderat (berterima semua pihak) untuk merangkul pendukung partai tengah (kanan tengah dan kiri tengah).

Tentu saja, peluang terbesar pemenang putaran kedua ada di kubu kiri. Asalkan mereka bisa mengatasi fragmentasi dan menemukan musuh bersama: bangkitnya sayap kanan yang diwakili oleh Pinera.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut