Pers Memihak Kebenaran?

“Pers harus berpegang teguh pada kejujuran dan melandaskan aktivitasnya pada kemanusiaan,” demikian dikatakan pengarang radikal Belanda, Multatuli.

Kata-kata Multatuli ini sangat cocok untuk disiramkan kepada pers Indonesia sekarang ini, yang meskipun mereka mengaku berpihak kepada kebenaran, tetapi kenyataannya justru menyampaikan sedikit sekali kebenaran.

Termasuk dalam kasus tayangan kontroversial “Topik Pagi ANTV”, yang menayangkan aksi yang diduga penjarahan terhadap warung milik seorang pengungsi Merapi oleh sekelompok warga lainnya.

Dua hari setelah tayangan itu, tepatnya tanggal 23 November, pihak Kepolisian pun bergerak cepat dan menangkap enam orang warga yang disebut-sebut “penjarah” itu, yaitu Sutrisno (30), Suparno (20), Muryadi (25), Eko Nugroho, Nuryanto (27), dan Agus Biantoro (19).

Setelah dicek kepada para korban dan keluarga tersangka, ternyata kenyataan berbicara sangat bertolak belakang dengan versi tayangan ANTV tersebut.

Menurut Hengky, pelajar SMP yang sempat ditahan sebentar karena kejadian itu, apa yang terjadi di lapangan sangatlah berbeda dengan apa yang ditayangkan oleh ANTV.

Hengky menjelaskan, pihaknya bersama dengan sejumlah warga, TNI, Brimob, dan Tagana, baru selesai melakukan kerja bakti. Karena kehausan dan tidak ada persediaan air minum, maka mereka membuka toko tetangga dan mengambil air minum.

Saat mereka membuka toko itu, lanjut Hengki, kebetulan ada wartawan dari Jakarta yang sedang mengambil gambar saat warga membuka toko milik Maridi.

Hengki mengaku bahwa pihaknya disuruh oleh wartawan mengulang kejadian untuk diambil gambarnya, dan karena warga tidak tahu maksudnya, maka menuruti saja permintaan wartawan itu.

Alhasil, gambar itulah yang ditayangkan oleh ANTV pada acara “Topik Pagi”, dengan narasi yang menyebut kejadian ini sebagai aksi penjarahan oleh komplotan pemuda di sebuah toko milik warga Dusun Singlar, Desa Glagaharjo, Sleman, Yogyakarta.

Pemilik Warung Tidak Tega Tetangganya Ditahan

Maridi, sang pemilik warung yang diduga dijarah warga itu, mengaku bahwa dirinya kaget dan tidak tega melihat tetangganya ditangkap lantaran dituduh menjarah warung miliknya.

Pihaknya juga mengaku tidak pernah membuat laporan mengenai kehilangan barang-barang di tokonya. Bukan itu saja, Maridi pun mengikhlaskan barang di tokonya di makan dan diminum warga setelah usia bekerja bakti.

Berdasarkan penjelasan Hengky, nilai keseluruhan minuman dan makanan yang dikonsumsi warga dari Toko Maridi tidak lebih dari Rp30 ribu, yaitu minuman dalam kemasan gelas dan lima bungkus makanan bernama slondok.

Orientasi Profit

Pemimpin Redaksi Berdikari Online Rudi Hartono menegaskan bahwa banyaknya pemberitaan bombastis dan kurang sesuai dengan fakta dilapangan diakibatkan oleh orientasi media yang sekedar mengejar “profit”.

“Ya, karena orientasinya profit, maka mereka akan bekerja melakukan apa saja supaya bisa menaikkan rating dan melambungkan namanya,” ujar Rudi.

Pahadal, menurut Rudi, peran pers sebagai pilar demokrasi adalah memasok informasi yang benar kepada masyarakat, bukan melakukan disinformasi yang merugikan rakyat.

Meskipun masih banyak jurnalis yang idealis, tetapi Rudi menganggap bahwa mereka sulit berbuat banyak ketika sudah berada di tengah perusahaan media yang dikontrol oleh segelintir kapitalis.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut